Prabowo Perintahkan Pemadaman Karhutla Sebelum Meluas, Sumsel Tersisa 199 Hektare
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menegaskan instruksi pemadaman dini titik api untuk mencegah perluasan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera.
- Pemerintah tengah menguji inovasi bahan pemadam berbasis tepung singkong, yang dijuluki 'ubi bombing', sebagai alternatif water bombing.
- Rapat koordinasi di Palembang juga menyoroti penanganan kabut asap dan kesiapan anggaran untuk produksi skala besar bahan pemadam baru.

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran pemangku kepentingan untuk segera memadamkan titik api dan memastikan areal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak meluas. Instruksi itu disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla wilayah Sumatera di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (18/8/2025).
Dalam rapat tersebut, Kepala Negara menekankan pentingnya respons cepat begitu titik panas terdeteksi. "Upayakan begitu kita tahu segera kirim tim untuk diredam. Jangan sampai meluas jadi hektare," ujarnya. Pemantauan titik api dilakukan melalui udara menggunakan pesawat dan drone untuk memastikan deteksi dini di wilayah rawan.
Sumatera Selatan dilaporkan dalam kondisi terkendali, dengan area yang masih dalam proses pemadaman tersisa sekitar 199 hektare. Presiden mengapresiasi upaya para pihak yang telah bekerja sejak beberapa bulan terakhir. Namun, ia mengakui kabut asap masih menjadi masalah, terutama di Palembang yang berada di posisi topografi rendah.
Selain pemadaman, Prabowo mendorong pengembangan bahan pemadam alternatif berbasis tepung ubi atau singkong. Inovasi yang disebutnya "ubi bombing" ini diharapkan menjadi solusi yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan dibandingkan water bombing konvensional. "Menarik sekali. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar," kata Presiden. Ia meminta agar kebutuhan anggaran produksi segera diajukan untuk mendukung riset, produksi, dan uji efektivitas.
Langkah ini dinilai sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada metode tradisional yang hanya mengandalkan air. Para ahli lingkungan memperkirakan, jika inovasi ini terbukti efektif, biaya operasional pemadaman karhutla dapat ditekan secara signifikan. Namun, uji coba skala besar masih diperlukan untuk memastikan efektivitasnya di lapangan.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga melakukan rapat koordinasi daring dengan pemerintah daerah Jambi dan Lampung. Sebelumnya, pada pagi hari, ia memimpin rapat serupa di Pekanbaru, Riau, yang menangani karhutla seluas 15 ribu hektare. Hal ini menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap bencana asap yang kerap melanda Sumatera.
"Baik, kalau begitu, saya kira Sumatera Selatan berarti dalam keadaan terkendali ya. Hanya memang masalah asap ya karena tadi posisi terendah," kata Prabowo, merespons laporan kondisi karhutla setempat.
Bagi Indonesia, penanganan karhutla bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, ekonomi, dan hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Kabut asap lintas batas sering memicu protes dari Malaysia dan Singapura. Oleh karena itu, inovasi seperti "ubi bombing" bisa menjadi terobosan strategis dalam upaya mitigasi bencana tahunan ini.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pemerintah mampu mempercepat produksi dan distribusi bahan pemadam alternatif ini sebelum musim kemarau puncak tiba. Dengan luas lahan gambut yang rentan terbakar, efektivitas dan kecepatan respons akan menjadi kunci. Apakah inovasi lokal ini mampu menggantikan peran water bombing yang selama ini menjadi andalan?



