Hendropriyono: Kejayaan Maritim Majapahit Jadi Cermin Kekuatan TNI AL Hari Ini
Baca dalam 60 detik
- Mantan Kepala BIN A.M. Hendropriyono menilai kekuatan maritim Majapahit relevan dengan semangat TNI AL modern, disampaikan saat menerima kunjungan KSAL di Kraton Majapahit, Jakarta.
- Kraton Majapahit, replika seluas 5.500 meter persegi yang dibangun dengan bantuan AI, menjadi simbol peradaban Nusantara yang maju sebelum kedatangan bangsa Barat.
- KSAL Muhammad Ali menegaskan Majapahit adalah simbol kejayaan maritim Indonesia, sekaligus momentum memperkuat silaturahmi TNI AL dengan komponen bangsa.

Jakarta โ Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono menegaskan bahwa kejayaan maritim Kerajaan Majapahit bukan sekadar catatan sejarah, melainkan fondasi semangat yang relevan dengan kekuatan TNI Angkatan Laut masa kini. Pernyataan itu disampaikan di sela kunjungan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali beserta jajaran ke Kraton Majapahit, Jakarta, Senin (18/8).
Hendropriyono, yang akrab disapa AM Hendro, menggarisbawahi bahwa Majapahit pernah menjadi kekuatan mandala dengan pengaruh hampir di seluruh Asia Tenggara. "Majapahit adalah armada laut terbesar di Asia Tenggara, satu kekuatan yang pengaruhnya menyentuh banyak kawasan," ujarnya. Baginya, replika Kraton Majapahit yang dibangun di atas lahan 5.500 meter persegi menjadi medium untuk mengingatkan publik akan kebesaran peradaban Nusantara, jauh sebelum bangsa Barat datang.
Lebih jauh, Hendropriyono mengkritik narasi kolonial yang kerap menganggap bangsa Barat sebagai pembawa peradaban. "Bangsa kita ini besar. Tidak benar jika dikatakan kolonialis datang untuk membuat kita beradab. Replika ini, yang dibuat dengan bantuan AI, menunjukkan Majapahit sudah beradab 200 tahun sebelum Columbus menemukan Amerika," tegasnya. Pernyataan ini menegaskan pentingnya narasi sejarah yang akurat dalam membangun identitas bangsa.
Kunjungan tersebut juga dimanfaatkan untuk memutar film pendek berdurasi enam menit yang menghubungkan kekuatan maritim Majapahit dengan TNI AL modern. Hendropriyono menyebut film itu sebagai upaya menunjukkan kesinambungan semangat bahari dari masa ke masa. Sementara itu, KSAL Muhammad Ali menyambut hangat inisiatif ini. "Majapahit bukan sekadar kerajaan besar, tetapi simbol kejayaan maritim Indonesia," katanya, seraya menambahkan bahwa TNI AL berkomitmen mendukung pelestarian sejarah dan budaya bangsa.
Kehadiran para mantan KSAL, seperti Laksamana TNI (Purn.) Yudo Margono, Marsetio, dan Bernard Kent Sondakh, serta mantan Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn.) Agum Gumelar, menambah bobot acara ini. Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, yang turut hadir, menilai keberadaan Kraton Majapahit merupakan langkah nyata pelestarian budaya sebagai bagian dari identitas bangsa. "Ini bukan sekadar bangunan, tetapi pengingat akan akar sejarah kita," ujarnya.
Bagi Indonesia, penguatan narasi maritim ini memiliki implikasi strategis. Di tengah dinamika geopolitik kawasan, semangat bahari yang diwariskan Majapahit dapat menjadi inspirasi bagi TNI AL dalam menjaga kedaulatan laut. Sejarah mencatat, penguasaan jalur laut adalah kunci kemakmuran. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu kembali menjadi poros maritim dunia seperti masa Majapahit? Jawabannya bergantung pada komitmen bersama, baik dari institusi militer maupun masyarakat sipil.



