Duel Arbeloa vs Alonso: Dua Murid Benitez yang Kini Bersaing di Premier League
Baca dalam 60 detik
- Mantan rekan setim di Liverpool dan Real Madrid, Alvaro Arbeloa serta Xabi Alonso, akan saling berhadapan sebagai manajer Fulham dan Chelsea dalam laga Premier League pekan ini.
- Rafael Benitez mengaku tak menyangka Arbeloa menjadi pelatih, sementara Alonso dianggapnya punya visi dan pengalaman lebih matang setelah sukses di Bayer Leverkusen.
- Pertemuan ini menjadi ujian bagi Arbeloa di luar Real Madrid, sedangkan Alonso membawa modal gelar juara Bundesliga untuk membangun Chelsea.

Dua mantan pemain yang pernah diasuh Rafael Benitez di Liverpool, Alvaro Arbeloa dan Xabi Alonso, akan beradu strategi di Premier League. Arbeloa, yang kini menukangi Fulham, menjamu Chelsea yang dilatih Alonso dalam laga yang mempertemukan dua sahabat yang juga rival.
Benitez, yang membawa keduanya ke Anfield hampir dua dekade lalu, mengaku hanya memprediksi satu dari dua pemainnya itu bakal menjadi pelatih. "Alonso, ya. Arbeloa, tidak juga," ujarnya kepada BBC Sport. "Bagi saya, Arbeloa adalah kejutan."
Keduanya sama-sama memulai karier manajerial di Inggris pada Juli lalu, menukangi klub yang jarak stadionnya hanya sekitar tiga kilometer. Sebelumnya, Arbeloa sempat menangani Real Madrid B dan dipromosikan menggantikan Alonso yang dipecat dari kursi pelatih Real Madrid pada Januari musim lalu. Alonso sendiri telah membuktikan diri dengan membawa Bayer Leverkusen meraih gelar ganda Bundesliga dan DFB-Pokal pada 2024.
Benitez menilai Alonso memiliki keunggulan pengalaman melatih di liga dan negara berbeda. "Dia punya visi di lapangan," kenang Benitez, seraya mencontohkan momen saat Alonso melanggar instruksinya dalam laga melawan Blackburn pada 2009. Alonso memilih mengirim bola ke tiang dekat, bukan jauh, yang berujung gol Fernando Torres. "Dia selalu berpikir," tambah Benitez.
Arbeloa, yang pernah bermain di bawah asuhan Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, dan Vicente del Bosque, dianggap Benitez masih perlu membuktikan diri di luar lingkungan Real Madrid. "Dia mengenal Premier League, tapi pengalamannya lebih singkat daripada Xabi. Kita perlu tahu bagaimana dia bisa bertahan di luar Real Madrid, yang melindungimu dengan cara tertentu. Di luar, kau sendirian," kata Benitez.
Meski bersaing di lapangan, Arbeloa menegaskan hubungannya dengan Alonso tetap erat. Mereka tinggal berdekatan di Cobham, Surrey, dan anak-anak mereka bersekolah di tempat yang sama. "Kami sangat berteman, meski rival saat pertandingan dimulai," ujar Arbeloa. "Persahabatan kami tidak akan berubah."
Benitez, yang kini berusia 66 tahun dan tengah menganggur setelah didepak Panathinaikos pada Mei lalu, tetap membuka peluang melatih lagi. Ia mengaku sempat mendapat tawaran, termasuk dari tim nasional Skotlandia. "Mungkin tim nasional, karena banyak tim akan berganti setelah Piala Dunia," katanya. "Tapi harus ada sesuatu yang membuatmu merasa bisa mencapai sesuatu."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, duel ini menarik karena menunjukkan bagaimana dua pemain dengan latar belakang serupa bisa menempuh jalur karier berbeda. Alonso dianggap lebih siap secara taktik, sementara Arbeloa membawa semangat dan pemahaman mendalam tentang klub-klub besar. Pertanyaannya, akankah persahabatan mereka tetap utuh ketika ketegangan pertandingan mereda? Atau justru rivalitas ini yang akan memacu keduanya untuk terus berkembang di panggung Premier League?



