Asian Games 2026: Lonjakan Peserta Ancam Anggaran, OCA Diminta Bertindak Cepat
Baca dalam 60 detik
- Jumlah atlet dan ofisial Asian Games 2026 diperkirakan membengkak hingga 2.000 orang dari kuota awal, memicu kekhawatiran biaya akomodasi dan logistik.
- Panitia pelaksana Jepang mendesak OCA untuk mengendalikan jumlah peserta, dengan opsi pemangkasan ofisial sebagai langkah kompromi.
- Tenggat persiapan yang ketat dan peringatan OCA soal venue menambah tekanan menjelang pembukaan di Aichi pada September.

Tokyo โ Gelaran Asian Games 2026 di Jepang menghadapi ujian logistik yang tidak terduga. Jumlah atlet dan ofisial yang diproyeksikan ambil bagian diprediksi melampaui rencana awal hingga 2.000 orang, memaksa panitia penyelenggara meminta Dewan Olimpiade Asia (OCA) segera mencari solusi. Kondisi ini berpotensi mengguncang anggaran operasional yang telah disusun matang, terutama untuk akomodasi dan konsumsi.
Berdasarkan data yang dihimpun OCA dan federasi olahraga internasional, lonjakan pendaftaran berasal dari negara dan wilayah yang mengirimkan kontingen lebih besar dari perkiraan. Padahal, target awal panitia adalah menampung 15.000 partisipan. Jika tidak dikendalikan, kebutuhan tambahan tempat tinggal dan katering akan membengkakkan biaya yang selama ini dijaga ketat.
Seorang sumber internal yang dekat dengan panitia mengungkapkan bahwa masalah ini harus ditangani dengan kecepatan tinggi. "Isu ini perlu direspons segera," ujarnya, menekankan urgensi di tengah waktu persiapan yang semakin sempit. Namun, mengurangi jumlah atlet dinilai bukan opsi realistis. OCA justru diyakini akan memangkas kuota pelatih dan ofisial non-teknis sebagai langkah kompromi.
Di sisi lain, OCA juga melayangkan surat peringatan pada akhir Juli agar percepatan pembangunan dan renovasi venue ditingkatkan. Surat tersebut menjadi sinyal bahwa badan pengatur olahraga Asia itu tidak main-main. OCA bahkan meminta laporan detail dan mengirim delegasi ke Jepang pada pertengahan Agustus untuk menilai langsung kesiapan lapangan. Langkah ini menegaskan bahwa kekhawatiran bukan hanya soal jumlah peserta, tetapi juga kesiapan infrastruktur.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pelajaran berharga. Sebagai negara yang kerap menjadi tuan rumah event olahraga regional, seperti SEA Games, pengelolaan jumlah partisipan yang fluktuatif adalah tantangan klasik. Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa koordinasi antara panitia lokal dan badan pengatur internasional harus berjalan intensif sejak dini. Jika tidak, risiko pembengkakan biaya dan penurunan kualitas pelayanan bisa mengancam reputasi tuan rumah.
Para pengamat olahraga menilai bahwa OCA dan panitia Jepang masih memiliki ruang untuk bernegosiasi. Namun, dengan waktu yang tersisa kurang dari sebulan menuju pembukaan, setiap keputusan harus diambil dengan presisi. Pertanyaannya, akankah OCA berani memangkas jumlah ofisial secara signifikan demi menjaga keseimbangan anggaran? Atau justru panitia yang harus merelakan dana tambahan demi kelancaran pesta olahraga terbesar di Asia ini?



