Ukraina Desak Sekutu Eropa Kirim 300 Rudal Patriot Jelang Musim Dingin
Baca dalam 60 detik
- Zelenskyy membeberkan defisit rudal Patriot yang mencapai 264 unit pada 2026, turun drastis dari 675 unit pada 2023.
- Pertemuan Koalisi Negara Rela di Kyiv pada 24 Agustus 2026 menjadi ujian solidaritas Eropa di tengah serangan Rusia yang menewaskan warga sipil terbanyak sejak awal invasi.
- Produksi rudal balistik Rusia yang mencapai 100 unit per bulan memaksa Ukraina mencari alternatif, termasuk produksi lokal rudal SCALP dengan bantuan Inggris dan Prancis.

Kyiv, 24 Agustus 2026 โ Di tengah perayaan hari kemerdekaan yang ke-34, Ukraina justru menghadapi ancaman terbesar sejak invasi Rusia dimulai. Presiden Volodymyr Zelenskyy membuka data pertahanan udara yang selama ini dirahasiakan: pasokan rudal Patriot untuk melindungi langit Kyiv telah menyusut drastis, sementara serangan rudal Rusia justru meningkat. Angka-angka ini menjadi dasar desakan Ukraina kepada para pemimpin Eropa yang berkumpul di ibu kota untuk segera mengirimkan setidaknya 300 rudal pencegat sebelum musim dingin tiba.
Pertemuan Koalisi Negara Rela (Coalition of the Willing) yang digagas Inggris dan Prancis ini dihadiri langsung oleh Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, yang menjadikan Kyiv sebagai kunjungan internasional pertamanya sejak menjabat. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Olaf Scholz bergabung secara virtual, sementara Presiden Dewan Eropa Antonio Costa hadir secara fisik. Agenda utamanya: menekan Moskow dan menutup celah pertahanan udara Ukraina yang kian terbuka lebar.
Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia menggempur Kyiv dengan rudal balistik yang sulit dicegat. Akibatnya, jumlah korban sipil melonjak ke level tertinggi sejak awal invasi 2022. Ribuan warga setiap kali serangan berlindung di stasiun metro dan ruang bawah tanah. Zelenskyy, dalam pernyataan publiknya, tak henti-hentinya memohon tambahan sistem pertahanan udara, terutama rudal Patriot buatan Amerika Serikat yang menjadi satu-satunya andalan untuk menembak jatuh rudal balistik.
Namun, pasokan global rudal Patriot sedang krisis. AS yang tengah berperang melawan Iran mengalami kekurangan sendiri dan enggan melepas stok untuk Ukraina. Data yang dirilis Zelenskyy menunjukkan penurunan tajam: 675 rudal diterima Ukraina sepanjang 2023, turun menjadi 364 pada 2025, dan proyeksi 2026 hanya 264 unit. Padahal, Rusia diperkirakan mampu memproduksi sekitar 100 rudal balistik per bulan. "Kesenjangan ini tidak bisa ditutup hanya dengan janji," ujar Zelenskyy dalam konferensi pers, menekankan bahwa setiap rudal yang terlambat berarti nyawa melayang.
Di tengah keterbatasan itu, Ukraina tidak tinggal diam. Mereka mempercepat serangan jarak jauh ke infrastruktur energi dan logistik Rusia, termasuk kilang minyak dan gudang distribusi. Sementara itu, Inggris akan mengumumkan izin bagi perusahaan pertahanan MBDA untuk berbagi informasi rahasia guna memproduksi rudal jarak jauh SCALP secara lokal di Ukraina dan Prancis. Macron juga telah berjanji mengirim rudal pencegat baru. Namun, langkah-langkah ini dinilai belum cukup untuk mengimbangi kecepatan produksi Rusia.
Diplomasi untuk mengakhiri perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II ini praktis beku. Rusia menuntut konsesi teritorial dan politik yang oleh Kyiv dianggap sebagai bentuk kapitulasi yang hanya akan memicu serangan berikutnya. Burnham, dalam pernyataannya sebelum tiba di Kyiv, menegaskan, "Rusia tidak boleh meragukan tekad kami. Kami tidak akan mundur sampai ada perdamaian yang adil dan langgeng." Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Inggris tetap berdiri di belakang Ukraina meski ada ketidakpastian komitmen AS di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara yang kerap menyerukan perdamaian dan menolak invasi, Indonesia perlu mencermati bagaimana aliansi pertahanan regional dibentuk ketika satu kekuatan besar mundur. Keputusan Eropa untuk membentuk koalisi paralel di luar NATO menunjukkan bahwa arsitektur keamanan global sedang bergeser. Jika Ukraina kalah, preseden bagi negara-negara kecil yang bergantung pada jaminan keamanan internasional akan menjadi preseden buruk. Sebaliknya, jika Ukraina bertahan, ini bisa menjadi model baru bagi solidaritas pertahanan di kawasan lain, termasuk Asia Tenggara.
Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah Eropa memenuhi janji 300 rudal sebelum salju pertama turun? Atau akankah Ukraina kembali menghadapi musim dingin dengan langit yang semakin terbuka? Jawabannya tidak hanya menentukan nasib Ukraina, tetapi juga kredibilitas Barat dalam menjaga tatanan dunia berbasis aturan.



