Drama La Liga: Giuliano Simeone Selamatkan Atletico, Suporter Mencemooh Julian Alvarez
Baca dalam 60 detik
- Atletico Madrid nyaris kalah setelah Le Normand diusir wasit, namun gol Giuliano Simeone di menit akhir memastikan skor 2-2 melawan Villarreal.
- Suporter Atletico meluapkan kekecewaan kepada Julian Alvarez yang santer dikaitkan dengan Barcelona, bahkan meneriakkan yel-yel agar pemain Argentina itu hengkang.
- Hasil ini menempatkan Atletico dalam tekanan di awal musim, sementara masa depan Alvarez menjadi sorotan utama menjelang bursa transfer.

MADRID โ Atletico Madrid nyaris kehilangan muka di kandang sendiri, namun gol penyelamat Giuliano Simeone pada menit akhir memaksa Villarreal bermain imbang 2-2 dalam laga yang diwarnai kemarahan suporter terhadap Julian Alvarez, Minggu (24/8) dini hari WIB. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Metropolitano itu berjalan dramatis setelah Atletico bermain dengan 10 orang sejak menit ke-76.
Kartu merah Robin Le Normand menjadi titik balik. Bek asal Prancis itu diusir wasit setelah menjatuhkan Georges Mikautadze di kotak terlarang. Eksekusi penalti Mikautadze sempat membawa Villarreal unggul 2-1, dan Atletico tampak akan menelan kekalahan kedua beruntun. Namun, di masa injury time, umpan terobosan Alex Baena menemui Giuliano Simeone yang lolos dari jebakan offside. Dengan tenang, putra pelatih Diego Simeone itu menceploskan bola melewati kiper Luiz Junior untuk memastikan poin berharga bagi tuan rumah.
Ketenangan Giuliano kontras dengan suasana panas yang menyelimuti stadion sepanjang laga. Sejak pemanasan, Julian Alvarez mendapat cemoohan dari sebagian suporter. Nama striker asal Argentina itu diumumkan sebagai pemain pengganti pun disambut siulan. Saat masuk lapangan pada menit ke-66, sorakan makin keras. Sebagian penonton bahkan meneriakkan, "Biarkan dia pergi untuk selamanya, biarkan dia pergi..." merujuk pada pernyataan Alvarez yang mengaku ingin pindah demi "mewujudkan impian" setelah Piala Dunia lalu. Media Spanyol ramai mengaitkannya dengan Barcelona.
Setelah peluit akhir, Alvarez langsung menuju ruang ganti tanpa ikut menyalami suporter seperti rekan-rekannya, yang kembali memicu siulan. Sikap ini mempertegas keretakan antara pemain dan pendukung, sesuatu yang jarang terjadi di era Simeone. Atmosfer negatif ini bisa menjadi preseden buruk bagi ruang ganti Atletico, terutama jika Alvarez tetap bertahan hingga bursa transfer ditutup.
Secara permainan, Atletico tampil kurang meyakinkan di babak pertama. Baru pada menit ke-59, Marc Pubill melepaskan tembakan spektakuler dari luar kotak penalti yang bersarang di pojok atas gawang Villarreal. Namun, keunggulan itu hanya bertahan tujuh menit. Morten Hjulmand dianggap melanggar Tajon Buchanan di area terlarang, dan Gerard Moreno sukses mengeksekusi penalti ke sisi kiri Jan Oblak. Keputusan VAR untuk menghadiahkan penalti kedua sekaligus kartu merah bagi Le Normand sempat memicu protes keras pemain Atletico, namun wasit tetap pada keputusannya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini menjadi pengingat bahwa tekanan suporter bisa menjadi faktor penentu performa pemain. Di Liga 1, fenomena serupa kerap terjadi ketika pemain bintang dikaitkan dengan klub lain. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana manajemen Atletico akan menyikapi situasi ini. Jika Alvarez akhirnya dijual, dana segar bisa digunakan untuk memperkuat skuad. Sebaliknya, jika bertahan, pelatih Diego Simeone harus mampu meredam gejolak di ruang ganti agar performa tim tidak terganggu.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Atletico bangkit dari tekanan ini? Jadwal padat menanti, dan ujian sesungguhnya adalah bagaimana tim merespons kritik. Sementara itu, masa depan Alvarez di klub ibu kota Spanyol itu masih menggantung, dan setiap laga berikutnya akan menjadi sorotan. Satu hal yang pasti, atmosfer di Metropolitano tidak akan tenang dalam waktu dekat.



