Drama Injury Time: Penalti Szoboszlai Selamatkan Liverpool, Debut Jaissle Berakhir Imbang 2-2
Baca dalam 60 detik
- Liverpool terhindar dari kekalahan setelah penalti menit ke-99 Szoboszlai memaksa Newcastle bermain imbang 2-2 di St James' Park.
- Debut Matthias Jaissle sebagai manajer Newcastle di Premier League diwarnai kekecewaan meski timnya sempat unggul dua kali.
- Penampilan impresif Yoane Wissa dan Cody Gakpo menjadi sorotan, sementara Alexander Isak gagal memanfaatkan peluang emas.

Liverpool nyaris tumbang di kandang Newcastle United, namun penalti kontroversial Dominik Szoboszlai pada menit ke-99 memaksa laga berakhir imbang 2-2. Hasil ini sekaligus menunda kemenangan perdana Matthias Jaissle sebagai manajer anyar Newcastle di ajang Premier League, dalam pertandingan yang berlangsung dramatis di St James' Park, Minggu (10/8) malam WIB.
Laga yang sempat berjalan sengit ini menyajikan duel taktik menarik antara dua tim yang sama-sama mengincar posisi empat besar. Newcastle yang tampil agresif sempat unggul dua kali melalui Anthony Elanga dan Joe Willock, namun Liverpool selalu mampu menyamakan kedudukan. Gol penyeimbang kedua datang dari kaki Cody Gakpo, sebelum Szoboszlai menjadi pahlawan lewat titik putih di masa injury time.
Bagi Jaissle, hasil ini tentu menjadi pil pahit. Pelatih asal Jerman itu nyaris meraih kemenangan di laga perdananya, tetapi harus puas dengan satu poin. Meski demikian, penampilan anak asuhnya patut diacungi jempol, terutama dalam hal intensitas dan keberanian menekan. Newcastle tampil hidup dengan skema serangan balik cepat yang merepotkan lini belakang Liverpool.
Di kubu tamu, performa Cody Gakpo menjadi sorotan. Penyerang Belanda itu tidak hanya mencetak gol spektakuler, tetapi juga menjadi ancaman konstan bagi pertahanan Newcastle. Sementara itu, Alexander Isak yang kembali ke St James' Park untuk pertama kalinya sejak pindah ke Liverpool dengan nilai transfer ยฃ125 juta, justru tampil mengecewakan. Ia gagal memanfaatkan peluang emas saat kedudukan 2-1 dan mendapat sorakan dari suporter tuan rumah sepanjang laga.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini memberikan gambaran menarik tentang ketatnya persaingan di papan atas Premier League. Keputusan wasit yang memberikan penalti di menit akhir juga menjadi bahan diskusi hangat, mengingat momen serupa kerap terjadi di kompetisi domestik Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa faktor keberuntungan dan ketenangan dalam situasi tekanan tinggi tetap menjadi kunci di level tertinggi sepak bola Eropa.
Dari sisi taktik, keputusan Jaissle memainkan Yoane Wissa sebagai gelandang serang terbukti jitu. Pemain asal Kongo itu menjadi motor serangan Newcastle, dengan kemampuan membawa bola dan visi bermain yang luar biasa. Sementara itu, Liverpool yang tampil tanpa ritme di babak pertama, berhasil memperbaiki permainan setelah memasukkan Victor Munoz dan Alexis Mac Allister di menit ke-63.
Munoz, yang sebelumnya menjadi incaran Liverpool sebelum akhirnya bergabung dengan Newcastle, justru menjadi aktor kunci di balik penalti kemenangan timnya. Ia menunjukkan kualitasnya sebagai pemain sayap yang lincah dan berani mengambil risiko. Kejadian ini menjadi ironi tersendiri bagi manajemen Liverpool yang gagal mengamankan tanda tangannya.
Hasil imbang ini membuat Liverpool untuk sementara berada di posisi kedua klasemen dengan 4 poin dari dua laga, sementara Newcastle mengoleksi 2 poin. Kedua tim masih memiliki banyak pekerjaan rumah, terutama dalam hal konsistensi dan penyelesaian akhir. Bagi Jaissle, laga ini menjadi pelajaran berharga tentang kerasnya Premier League, di mana keunggulan dua kali pun tidak menjamin kemenangan.
Ke depannya, pertanyaan besar muncul: mampukah Newcastle mempertahankan performa impresif ini di laga-laga berikutnya? Dan akankah Liverpool segera menemukan bentuk terbaiknya di bawah asuhan Arne Slot? Jawabannya akan terjawab dalam beberapa pekan ke depan, saat kedua tim menjalani ujian yang lebih berat.



