Singapura Kaji Terowongan Bawah Laut ke Pulau Tekong: Proyek Raksasa yang Bisa Mengubah Wajah Kepulauan
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Lawrence Wong mengumumkan studi kelayakan terowongan bawah laut yang menghubungkan Pulau Tekong dengan daratan utama Singapura, sebuah proyek yang belum pernah ada sebelumnya di negara itu.
- Inisiatif ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang pengembangan kawasan pesisir, termasuk transformasi besar Sentosa dan Pulau Brani menjadi destinasi terpadu dengan sistem transportasi baru.
- Jika terealisasi, terowongan ini akan menjadi tonggak rekayasa sipil Singapura dan berpotensi membuka peluang bagi pengembangan pulau-pulau terluar, termasuk alokasi lahan untuk kebutuhan sipil di masa depan.

Singapura tengah menjajaki kemungkinan membangun terowongan bawah laut yang menghubungkan Pulau Tekong dengan daratan utama, sebuah langkah yang diumumkan Perdana Menteri Lawrence Wong dalam pidato National Day Rally pada Minggu (23/8). Jika terwujud, proyek ini akan menjadi yang pertama dalam sejarah negeri tersebut, mengingat selama ini Pulau Tekong hanya dapat diakses melalui transportasi laut, terutama bagi para rekrutan militer yang menjalani pelatihan di sana.
Wong menjelaskan bahwa terowongan tersebut dipandang sebagai alternatif yang lebih layak dibandingkan jembatan, yang berisiko mengganggu jalur pelayaran sibuk di perairan Singapura. "Kami memiliki pengalaman membangun terowongan jalan bawah tanah, tetapi belum pernah membangun terowongan bawah laut sebesar ini," ujarnya. Ia menambahkan bahwa proyek ini akan menjadi tantangan teknik yang besar, namun jika berhasil, akan mendekatkan pulau-pulau terluar dengan pusat kota.
Studi ini muncul di tengah rencana ambisius Singapura untuk mengembangkan sejumlah kawasan lepas pantai, termasuk Sentosa, Long Island, dan pulau-pulau di bagian barat. Pulau Tekong sendiri, yang merupakan pulau terluar terbesar, telah mengalami reklamasi besar-besaran. Setelah kebutuhan militer terpenuhi, sekitar 500 hektare lahanโsetara dengan ukuran kota Toa Payohโakan tersedia untuk penggunaan sipil, meskipun keputusan mengenai pemanfaatannya belum ditentukan.
Di sisi barat, pemerintah juga berencana membangun koneksi jalan kedua menuju Pulau Jurong, yang aksesnya saat ini dinilai padat. Selain itu, akan dibangun pula jalur baru yang menghubungkan Jurong dengan pulau-pulau barat lainnya. Sementara itu, Sentosa dan Pulau Brani akan mengalami transformasi besar-besaran, dengan penambahan atraksi baru, peningkatan akses, dan konektivitas yang lebih baik antara kedua pulau tersebut dengan daratan utama.
Transformasi ini merupakan yang pertama dalam lebih dari 15 tahun terakhir, setelah sebelumnya Sentosa menjadi rumah bagi Resorts World Sentosa dan Universal Studios Singapore. Pemerintah berencana mempercantik pantai dan kawasan tepi air Sentosa untuk mendekatkan pengunjung dengan alam. Bagian barat pulau yang selama ini tertutup untuk publik, yang memiliki kehidupan laut yang kaya dan tebing-tebing khas, akan dibuka dengan tetap menjaga karakter alaminya.
Pulau Brani, yang akan ditinggalkan aktivitas pelabuhannya, akan diubah menjadi kawasan atraksi baru. NTUC akan membangun resor Downtown South di sana, dan reklamasi lahan akan dilakukan untuk menghubungkan Brani dengan Sentosa. "Bersama-sama, Sentosa dan Brani akan menjadi satu destinasi terpadu yang mengubah kawasan pesisir selatan kita," kata Wong. Untuk mendukung konektivitas, akan dibangun sistem people mover baru yang menghubungkan daratan utama, Sentosa, dan Brani, serta kemungkinan layanan taksi air.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Singapura terus berinvestasi dalam infrastruktur maritim yang canggih, yang dapat menjadi pembanding bagi proyek-proyek serupa di Indonesia, seperti rencana pembangunan jembatan atau terowongan di berbagai wilayah kepulauan. Keberhasilan Singapura dalam mengelola reklamasi dan konektivitas antar pulau dapat menjadi pelajaran berharga, terutama dalam hal keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.
Namun, proyek-proyek ini membutuhkan waktu puluhan tahun dan investasi besar. Wong menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang, sebagaimana para pendahulunya membangun Jurong Island. "Mereka merencanakan dan membangun untuk generasi kami. Sekarang kami akan melakukannya untuk generasi yang akan datang," ujarnya. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengambil langkah serupa untuk mempercepat konektivitas antar pulaunya?



