FCC Setujui 15.000 Satelit Starlink Gen2, SpaceX Kuasai Koneksi Seluler Langsung
Baca dalam 60 detik
- FCC resmi mengizinkan 7.500 satelit Gen2 tambahan, total otorisasi SpaceX melonjak jadi sekitar 15.000 unit.
- Regulator memberi kelonggaran aturan yang memungkinkan SpaceX layani seluler tanpa harus menggandeng operator terestrial.
- Tenggat peluncuran bertahap hingga 2031 akan menentukan kapan layanan Starlink Mobile benar-benar bisa dinikmati pengguna.

Otoritas telekomunikasi Amerika Serikat (FCC) resmi memberikan lampu hijau bagi SpaceX untuk meluncurkan 7.500 satelit Starlink generasi kedua tambahan, membawa total izin konstelasi Gen2 menjadi sekitar 15.000 unit. Keputusan ini menjadi babak baru dalam ambisi Elon Musk menghadirkan layanan seluler langsung dari orbit, sekaligus memicu pertanyaan besar tentang nasib operator telekomunikasi konvensional.
Permohonan awal SpaceX sebenarnya jauh lebih besar: hampir 30.000 satelit. Namun regulator memilih menunda keputusan atas 14.988 satelit yang tersisa, memberi ruang evaluasi lebih lanjut. Persetujuan ini mencakup layanan penunjang di dalam negeri AS serta layanan direct-to-cell untuk pasar internasional, plus izin operasi di lima pita frekuensi sekaligus penghapusan sejumlah pembatasan cakupan dan kapasitas yang sebelumnya mengikat.
Yang paling krusial justru tersembunyi dalam bahasa regulasi: sebuah waiver yang memungkinkan SpaceX menyediakan layanan nirkabel lewat satelit tanpa harus selalu menandatangani perjanjian sewa dengan operator seluler terestrial. Selama ini, operasi direct-to-cell Starlink di AS bergantung pada spektrum milik T-Mobile. SpaceX juga tengah mengakuisisi aset spektrum EchoStar untuk memperluas akses frekuensi, meski pemanfaatannya kemungkinan bergantung pada tuntasnya transaksi tersebut.
Klaim kecepatan 150 Mbps per pengguna perlu dicatat sebagai proyeksi internal SpaceX, bukan hasil uji lapangan. Satelit Gen2 yang ditingkatkan belum diuji di orbit, sehingga performa riil masih tanda tanya. Sementara angka 1 Gbps yang disebut FCC merujuk pada kapasitas agregat seluruh konstelasi, bukan throughput yang akan diterima satu pelanggan seluler.
Izin regulasi hanyalah langkah awal. Layanan Starlink Mobile baru bisa dinikmati jika sejumlah syarat teknis dan komersial terpenuhi: kepadatan satelit, kompatibilitas ponsel, aturan berbagi spektrum, dan kesepakatan dengan operator di tiap negara. SpaceX juga masih menunggu persetujuan terpisah di berbagai yurisdiksi, termasuk untuk pita frekuensi 2020โ2025 MHz yang ditunda FCC.
"Otorisasi regulasi untuk menempatkan satelit adalah langkah yang diperlukan, tetapi bukan berarti layanan seluler tersedia di paket ponsel Anda hari ini," demikian inti pernyataan FCC seperti dikutip Reuters.
Jadwal peluncuran menjadi penentu utama. SpaceX wajib meluncurkan, menempatkan di orbit yang ditetapkan, dan mengoperasikan setidaknya separuh satelit yang baru diizinkan pada 1 Desember 2028. Sisanya harus mengorbit paling lambat 2031. Batch 7.500 satelit Gen2 generasi pertama memiliki tenggat terpisah pada akhir November 2027. Kepatuhan pada tenggat ini akan menentukan seberapa cepat konstelasi diperluas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara kepulauan dengan banyak daerah blankspot, layanan direct-to-cell dari satelit bisa menjadi solusi konektivitas di wilayah terpencil. Namun, pemerintah perlu menyiapkan regulasi spektrum, persyaratan kemitraan dengan operator lokal, serta perlindungan terhadap industri telekomunikasi nasional. Tanpa kerangka aturan yang jelas, kehadiran Starlink Mobile berpotensi menggerus pasar operator dalam negeri atau justru menciptakan ketergantungan pada infrastruktur asing.
Tekanan kompetitif terhadap AT&T, T-Mobile, dan Verizon di AS memang nyata, tetapi bersifat gradual. Jika SpaceX memenuhi kewajiban FCC tepat waktu, pertanyaan "mitra atau rival" bagi operator bisa berubah dari sekadar dokumen regulasi menjadi pilihan paket nyata di pasar. Perubahan itu diprediksi terjadi sebelum dekade ini berakhir. Akankah operator tradisional bertahan dengan model bisnis lama, atau justru menjalin aliansi strategis dengan SpaceX demi bertahan di era konektivitas orbit?



