Summer H. Howell Ungkap Proses Syuting Carrie: 12 Jam Berlumur Darah Setiap Hari
Baca dalam 60 detik
- Aktris Summer H. Howell mengungkap tantangan fisik saat memerankan Carrie White dalam adaptasi Prime Video garapan Mike Flanagan, termasuk berdiri berjam-jam dalam balutan darah buatan.
- Di balik adegan prom yang ikonik, proses syuting memakan waktu dua minggu dan melibatkan tiga kali pengambilan gambar jatuhnya darah babi ke tubuhnya.
- Howell mengaku tidak menonton versi asli 1976 maupun membaca novel Stephen King, sehingga pendekatannya terhadap karakter menjadi segar dan berbeda dari pendahulunya.

Aktris Summer H. Howell mengungkap sisi lain dari produksi adaptasi Carrie versi Prime Video. Dalam wawancara dengan majalah SFX, ia menceritakan bahwa selama pengambilan gambar adegan prom berdarah, tubuhnya harus dilapisi cairan merah buatan hingga 12 jam sehari. Pengakuan ini membuka tabir betapa beratnya tuntutan teknis di balik salah satu momen paling ikonik dalam sejarah horor modern.
Howell, yang kini berusia 22 tahun, dipercaya mengambil alih peran yang pernah dipopulerkan Sissy Spacek pada 1976. Ia mengaku proses tersebut bukan sekadar berdiri dan berakting. Tim rias menyiapkan tenda khusus—yang oleh kru dijuluki "tenda Dexter"—untuk mengaplikasikan darah secara presisi. Di sana, Howell harus bertahan 45 menit dengan kacamata pelindung agar cairan tidak masuk ke mata. "Saya benar-benar kental dan lengket," ujarnya menggambarkan tekstur darah buatan yang sering disalahpahami orang.
Bagi Howell, tantangan terbesar justru datang setelah kamera berhenti merekam. Ia mengaku butuh berhari-hari membersihkan sisa darah yang menempel di lipatan kulit. "Alis saya seperti menolak melepaskan darah itu. Saya terus menemukannya di telinga," kenangnya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa di balik efek visual yang memukau, ada kerja fisik dan mental yang tidak terlihat oleh penonton.
"Saya tidak tahu tentang telekinesis atau perundungan atau apa pun. Itu benar-benar cerita baru bagi saya. Banyak orang seusia saya juga demikian." — Summer H. Howell
Menariknya, Howell tidak membaca novel Stephen King maupun menonton film adaptasi 1976 sebelum syuting. Ia justru membangun karakter dari naskah dan imajinasinya sendiri. "Bagian besar dari Carrie versi saya adalah dia terbuka dan ingin tahu tentang dunia," tuturnya kepada Entertainment Weekly. Pendekatan ini membuatnya menonjol di antara lebih dari 1.400 pelamar yang mengikuti audisi. Sutradara Mike Flanagan menilai Howell membawa perspektif unik yang tidak dimiliki kandidat lain.
Meski demikian, Howell tetap menyadari bobot adegan prom yang legendaris. Di lokasi syuting, Flanagan sempat menghentikan proses selama beberapa saat hanya untuk mengajak kru meresapi momen. "Kita sedang berada di prom Carrie White," ujar Howell menirukan arahan sutradara. Ia mengaku senang karena tidak semua adegan dikejar waktu, meski jadwal produksi tetap padat.
Adaptasi Carrie ini menjadi bagian dari gelombang remake horor yang membanjiri layanan streaming dalam beberapa tahun terakhir. Prime Video berharap versi Flanagan dapat menarik generasi baru penonton yang belum akrab dengan karya King. Namun, tantangan terbesarnya adalah ekspektasi penggemar lama yang sudah melekatkan wajah Sissy Spacek pada karakter tersebut. Keberhasilan Howell akan sangat bergantung pada apakah ia mampu menawarkan interpretasi yang relevan tanpa mengkhianati warisan aslinya.
Di Indonesia, fenomena ini mencerminkan bagaimana platform streaming global semakin gencar memproduksi ulang judul-judul klasik untuk pasar lintas negara. Penonton Tanah Air kini tidak lagi hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga bagian dari audiens global yang menentukan arah tren horor modern. Pertanyaannya, akankah Carrie versi baru ini mampu menembus budaya populer Asia Tenggara seperti pendahulunya, atau justru tenggelam dalam lautan remake yang kian padat?



