Kelapa Gading Street Fest: Panggung Kreativitas Warga dan Harapan UMKM di Balik Benyamin S Award
Baca dalam 60 detik
- Kelapa Gading Street Fest digelar di Taman Joging 1, Jakarta Utara, menampilkan pawai kostum daur ulang dan partisipasi UMKM setempat.
- Kelurahan Kelapa Gading Timur menjadi finalis Benyamin S Award, penghargaan Pemprov DKI yang menilai inovasi lingkungan dan kesejahteraan warga.
- Pedagang kecil berharap festival rutin dan dukungan pemerintah daerah untuk memperkuat ekonomi lingkungan.

Warga Kelurahan Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara, memadati Taman Joging 1 pada Selasa (6/10) untuk menghadiri Kelapa Gading Street Fest, sebuah perayaan komunitas yang menonjolkan kreativitas daur ulang dan geliat usaha mikro. Festival ini menjadi bagian dari upaya kelurahan tersebut menuju final Benyamin S Award, penghargaan tahunan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Sejak pagi, area taman telah dipenuhi pengunjung. Beragam atraksi disuguhkan, mulai dari pertunjukan Palang Pintu, penampilan drumband SMKN 33 Jakarta, hingga pawai Eco Parade yang menjadi magnet utama. Dalam pawai tersebut, warga mengenakan kostum hasil kreasi dari bahan bekas—kemasan kopi, koran, tutup botol, hingga karung goni—mengubah sampah menjadi karya bernilai estetika.
Ina (43), salah satu peserta pawai, tampil mencolok dengan topi bulat besar dari bubble wrap dan gaun megah yang memadukan plastik, banner, serta kertas nasi. Ia menjelaskan bahwa konsep kostumnya mengusung tema pilah sampah. "Ini inisiatif sendiri, hanya satu hari semua selesai," ujarnya. Ina berharap festival semacam ini dapat digelar setiap tahun dengan kreativitas yang terus berkembang.
Antusiasme juga datang dari Rina (53) dan Neneng (58), warga setempat yang telah hadir sejak sebelum pukul tujuh pagi. Keduanya mengaku menikmati acara yang baru pertama kali mereka saksikan. Mereka mendukung penuh Kelurahan Kelapa Gading Timur dalam kompetisi Benyamin S Award. "Semoga bisa menjadi juara," kata Neneng.
Di sisi lain, festival ini menjadi berkah bagi pelaku UMKM. Dedeh (53) dan suaminya, pedagang lupis dan sengkulun yang mengenakan pakaian Betawi, kehabisan dagangan sebelum acara usai. Ia merasa terbantu karena kegiatan seperti ini memberi ruang bagi pedagang kecil untuk mencari nafkah. "Adanya acara seperti ini membuat kami lebih terakomodir," tuturnya. Dedeh berharap pemerintah daerah memberikan dukungan lebih bagi para pedagang agar usaha mereka semakin maju.
Benyamin S Award sendiri merupakan ajang penghargaan yang diberikan Pemprov DKI Jakarta untuk mengapresiasi inovasi kelurahan dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Tahun ini, 10 kelurahan bersaing, dan Kelapa Gading Timur menjadi salah satunya. Tahap penilaian tatap muka akan digelar pekan depan, sementara puncak acara dijadwalkan pada akhir Oktober 2026.
Keikutsertaan Kelapa Gading Timur dalam Benyamin S Award mencerminkan tren baru di mana pemerintah daerah mendorong partisipasi warga dalam pembangunan lingkungan. Festival seperti ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga wahana pemberdayaan ekonomi lokal dan edukasi pengelolaan sampah. Namun, keberlanjutan program bergantung pada dukungan anggaran dan kebijakan yang konsisten.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah geliat UMKM dan semangat daur ulang ini dapat bertahan setelah panggung festival dibongkar. Jika pemerintah daerah serius menjadikan event semacam ini sebagai agenda rutin, bukan sekadar seremonial tahunan, dampaknya bagi perekonomian warga bisa jauh lebih signifikan.



