Kapal Selam Scorpene Butuh Awak Spesialis: TNI AL Dinilai Perlu Sekolahkan Kru Nagapasa dan Cakra
Baca dalam 60 detik
- Teknologi lithium-ion pada Scorpene menuntut keahlian baru yang belum dimiliki awak kapal selam eksisting TNI AL.
- Mantan Asrena KSAL menyarankan rekrutmen kru dari personel Nagapasa dan Cakra Class untuk menjalani pelatihan khusus.
- KSAL telah menyiapkan satgas, namun surat perintah resmi belum diterbitkan, menandakan percepatan kesiapan SDM menjadi krusial.

Modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Laut memasuki babak baru dengan kehadiran kapal selam Scorpene yang tengah dirakit di PT PAL Indonesia. Namun, di balik keunggulan teknologinya, muncul tantangan besar: kesiapan sumber daya manusia (SDM) pengawak kapal selam generasi terbaru ini. Mantan Asisten Perencanaan dan Pertahanan Kepala Staf TNI AL (Asrena KSAL), Laksamana Madya TNI (Purn) Iwan Isnurwanto, menilai TNI AL harus segera menyiapkan calon awak khusus yang memahami karakteristik Scorpene yang berbeda dari kapal selam sebelumnya.
Scorpene, yang diproduksi oleh Naval Group asal Prancis, mengusung teknologi baterai lithium-ion yang belum pernah digunakan pada empat kapal selam lain yang dimiliki Indonesia. Keunggulan utamanya terletak pada daya tahan bawah air yang mampu bertahan 7 hingga 10 hari, dengan kapasitas energi tiga kali lipat lebih besar dibandingkan kapal selam kelas Nagapasa dan Cakra. Selain itu, pengisian daya baterai hanya membutuhkan waktu dua hingga tiga jam, jauh lebih singkat dibandingkan teknologi konvensional. Bahkan, kapal selam ini tetap dapat bergerak dengan kecepatan konstan meskipun daya baterai tersisa 20 persen.
Perbedaan fundamental inilah yang menurut Iwan Isnurwanto menuntut adanya pendidikan dan pelatihan khusus bagi calon kru. "Untuk personel pengawak Scorpene kemampuannya berbeda dengan kapal selam TNI AL lain, salah satunya karena ada teknologi lithium-ion battery," ujarnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Minggu (27/7). Ia menegaskan, penguasaan teknis operasional hingga prosedur penanganan kedaruratan menjadi materi wajib yang harus dikuasai para kru sebelum kapal selam tersebut resmi bertugas. Pengalaman Iwan sebagai mantan komandan KRI Cakra-401 dan kru inti KRI Nanggala-402 memberikan perspektif mendalam tentang kompleksitas pengoperasian kapal selam.
Menyoal rekrutmen, Iwan menyarankan agar TNI AL menarik calon kru dari personel yang sudah berpengalaman di kapal selam Nagapasa Class atau Cakra Class. Mereka kemudian akan disekolahkan untuk mengoperasikan Scorpene Class. "Berarti harus mengambil calon kru dari personel yang ada di Nagapasa Class atau di Cakra Class, sehingga mereka disekolahkan agar mengoperasikan Scorpene Class," jelasnya. Pelatihan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencakup latihan praktik di lapangan. Mengingat kapal dibangun di PT PAL, Iwan menyarankan on-site training dilakukan di galangan kapal tersebut atau di Prancis sebagai negara asal produsen.
Langkah TNI AL sejauh ini menunjukkan keseriusan. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan bahwa satgas khusus telah disiapkan untuk dilatih mengoperasikan Scorpene. "Untuk Scorpene ini kita sudah menyiapkan satgasnya, tapi memang belum kita terbitkan surat perintahnya, orang-orangnya sudah kita siapkan," kata Ali di Kesatriaan Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (24/7). Selain personel, TNI AL juga mempersiapkan infrastruktur pendukung di PT PAL, termasuk penunjukan kepala proyek dan fasilitas untuk mengangkat kapal selam dari darat ke laut maupun sebaliknya.
Kesiapan SDM menjadi faktor krusial dalam proyek strategis yang melibatkan kerja sama Indonesia-Prancis ini. Kapal selam Scorpene dirakit oleh PT PAL bersama Naval Group di Surabaya dengan proses pembuatan yang memakan waktu delapan tahun. Investasi besar dalam hal waktu dan biaya ini menuntut hasil yang optimal. Jika pengawak kapal tidak memiliki kompetensi yang memadai, dikhawatirkan potensi kapal selam canggih ini tidak dapat dimaksimalkan dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia. Pertanyaannya, apakah TNI AL dapat mempercepat proses pendidikan dan pelatihan kru agar sejalan dengan jadwal penyelesaian kapal yang masih panjang? Jawabannya akan menentukan efektivitas kekuatan bawah air Indonesia di masa depan.



