Kekalahan Telak dari All Blacks, Erasmus Menolak Menyebut Bencana: 'Kami Pernah Bangkit dari Situasi Lebih Buruk'
Baca dalam 60 detik
- Springboks harus menang tiga laga beruntun untuk merebut seri, setelah takluk 16-33 di Johannesburg.
- Pelatih Rassie Erasmus menegaskan timnya tidak mencari alasan, melainkan fokus membenahi penyelesaian peluang.
- Kemenangan telak ini menempatkan All Blacks di posisi sangat diuntungkan menjelang laga kedua di Cape Town.

Kekalahan 16-33 dari Selandia Baru pada laga pembuka seri empat pertandingan di Ellis Park, Johannesburg, Sabtu (22/8), membuat Afrika Selatan wajib memenangi tiga laga tersisa jika ingin merebut gelar juara seri. Pelatih Rassie Erasmus, dalam konferensi pers usai laga, memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan dan justru menegaskan bahwa timnya pernah bangkit dari situasi yang jauh lebih sulit.
Erasmus menyebut kekalahan ini sebagai "tamparan keras", namun menolak menyebutnya sebagai bencana. Ia mengingatkan bahwa pada Piala Dunia 2019, Afrika Selatan juga kalah dari Selandia Baru di laga pembuka, tetapi akhirnya mampu menjadi juara dunia. "Kami pernah berada dalam banyak situasi yang disebut bencana. Kami kalah di laga pertama melawan British and Irish Lions pada 2021, dan akhirnya menang seri 2-1," ujarnya, merujuk pada kemampuan timnya untuk bangkit.
Dalam laga yang memasarkan diri sebagai "Rivalitas Terbesar Rugby" itu, All Blacks tampil superior dengan mencetak lima percobaan berbanding satu. Erasmus mengakui bahwa timnya memiliki banyak peluang, tetapi gagal memanfaatkannya. "Saat melihat ke belakang, ada banyak peluang yang tidak kami konversi. Ada dua atau tiga momen besar di mana kami kehilangan kendali permainan, bukan karena kami ingin, tetapi karena Selandia Baru memaksa kami melakukan kesalahan dengan intensitas dan ketajaman mereka," tambahnya.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Afrika Selatan, terutama karena Selandia Baru melakukan tur skala penuh ke Afrika Selatan untuk pertama kalinya dalam 30 tahun. Namun, Erasmus menegaskan bahwa timnya tidak akan mencari kambing hitam. "Kami tidak punya alasan. Kami seharusnya bisa memenangi pertandingan ini," tegasnya. Ia juga memilih untuk "menghilang" sejenak dari pemberitaan media dan fokus pada persiapan laga kedua di Cape Town.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, rivalitas Afrika Selatan dan Selandia Baru selalu menjadi tontonan menarik, terutama karena kedua tim kerap menjadi langganan juara dunia. Kekalahan Springboks ini menunjukkan bahwa persaingan di level tertinggi rugby dunia masih sangat ketat, dan tidak ada tim yang aman dari kekalahan, sekalipun bermain di kandang sendiri.
Erasmus menolak menyebut kekalahan ini sebagai kemunduran besar, mengingat timnya pernah bangkit dari situasi serupa di masa lalu. Ia mencontohkan Piala Dunia 2019 dan seri melawan Lions 2021 sebagai bukti ketangguhan mental timnya. "Kami pernah berada dalam banyak situasi yang disebut bencana. Kami kalah di laga pertama melawan British and Irish Lions pada 2021, dan akhirnya menang seri 2-1," ujarnya.
Namun, jalan menuju kebangkitan tidak akan mudah. Selandia Baru tampil sangat solid dan percaya diri, dan mereka kini memiliki keunggulan psikologis yang besar. Pertanyaan besarnya adalah: mampukah Springboks bangkit dan membalikkan keadaan, atau justru All Blacks akan semakin perkasa di Cape Town? Jawabannya akan menentukan arah seri ini dan memberikan gambaran tentang peta kekuatan rugby dunia menjelang Piala Dunia berikutnya.



