Nike Disebut Siap Kembali ke F1, Sinyal dari Kursi Dewan Alexandre Arnault
Baca dalam 60 detik
- Nike dikabarkan tengah menjajaki pasokan pakaian resmi untuk Formula One Management mulai musim depan.
- Masuknya Alexandre Arnault, eksekutif Moët Hennessy, ke jajaran direksi Nike menjadi pemicu spekulasi kembalinya merek tersebut ke paddock.
- Jika terwujud, Nike akan bersaing dengan Puma, Adidas, Castore, dan sejumlah rumah mode mewah yang sudah lebih dulu menancapkan kaki di F1.

Nike berpotensi mengakhiri absennya dari Formula 1 yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade. Menurut laporan yang beredar, produsen perlengkapan olahraga asal Amerika Serikat itu sedang menjajaki peluang menjadi pemasok pakaian resmi bagi Formula One Management (FOM) mulai tahun depan. Langkah ini akan menandai kembalinya logo Swoosh ke arena balap paling bergengsi di dunia untuk pertama kalinya sejak era dominasi Michael Schumacher.
Isu ini mencuat setelah Nike menempatkan Alexandre Arnault ke dalam jajaran direksi pada pertengahan September lalu. Arnault bukan nama sembarangan: ia menjabat sebagai deputy CEO Moët Hennessy, unit bisnis wine dan spirits di bawah grup mewah LVMH. LVMH sendiri telah menandatangani kemitraan sepuluh tahun dengan F1 yang berlaku mulai 2025, sehingga kehadiran Arnault di Nike dianggap sebagai jembatan potensial antara kedua entitas tersebut.
Sejumlah pengamat menilai langkah ini bukan sekadar kebetulan. F1 tengah menikmati lonjakan popularitas global, terutama di pasar Amerika Serikat, berkat serial dokumenter Drive to Survive dan penambahan sirkuit jalanan seperti Miami dan Las Vegas. Pertumbuhan itu membuka peluang komersial baru yang menarik bagi merek-merek gaya hidup, bukan hanya perusahaan otomotif. Menurut laporan Sports Business Journal, Nike telah menjajaki peluang sponsorship dan lisensi di F1, bahkan beberapa eksekutifnya terlihat hadir di Grand Prix Miami.
Sejarah mencatat Nike pernah menjadi bagian dari paddock melalui kesepakatan endorsement pribadi dengan Schumacher. Ketika pembalap Jerman itu pindah ke Ferrari pada 1996, Nike merancang sepatu khusus berbahan suede merah dengan aksen hitam dan logo Swoosh putih. Menurut laporan, Schumacher menerima pasangan baru setiap akhir pekan balapan. Sepatu yang kemudian dinamai Nike Air Zoom Schu itu dirilis dalam tiga pilihan warna—putih, hitam, dan biru—dengan medali serat karbon berisi tanda tangannya. Versi balapnya bahkan disesuaikan dengan standar FIA. Namun, pada 2002 Ferrari beralih ke FILA untuk memasok sepatu bagi Schumacher dan Rubens Barrichello, dan sejak itu Nike nyaris tak terlihat lagi di paddock.
"Nike melihat ada nilai yang belum tergarap di dalam ekosistem F1, terutama setelah pertumbuhan penonton dan pendapatan hak siar yang mencetak rekor dalam beberapa tahun terakhir," ujar seorang sumber industri yang memahami pembicaraan awal, seperti dikutip dari laporan tersebut.
Jika kesepakatan terwujud, Nike akan bergabung dengan deretan merek yang telah lebih dulu masuk ke F1, seperti Puma, Adidas, Castore, New Era, Hugo Boss, Tommy Hilfiger, dan Gucci. Masuknya Nike juga akan memperkuat tren kolaborasi antara olahraga dan mode mewah yang belakangan menjadi strategi pemasaran utama F1 di bawah kepemimpinan Stefano Domenicali. Namun, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Nike maupun FOM. Spekulasi menyebut pengumuman bisa muncul sekitar Grand Prix Las Vegas, meski jadwal pastinya masih belum jelas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan semakin dilirik oleh merek global yang ingin memanfaatkan popularitas F1. Ajang balap itu sendiri berencana menggelar Grand Prix Indonesia pada 2026, dan kehadiran Nike sebagai mitra resmi berpotensi membuka peluang lisensi produk serta keterlibatan merek lokal dalam rantai pasok. Namun, tanpa konfirmasi, semua masih sebatas spekulasi yang perlu dicermati.
Pertanyaannya, apakah Nike benar-benar akan kembali ke lintasan, atau ini hanya gelembung spekulasi yang menguap setelah Las Vegas? Yang jelas, F1 kini bukan lagi sekadar olahraga otomotif—ia telah menjadi panggung gaya hidup global, dan merek-merek besar tidak ingin ketinggalan.



