Pramono Anung: Jakarta Andalkan Fasilitas Eksisting untuk PON 2028, Fokus pada Persiapan dan Prestasi
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan Jakarta siap menjadi kota penyangga PON XXII 2028 dengan memanfaatkan venue olahraga berstandar internasional yang sudah ada, tanpa pembangunan baru.
- PON Pantai 2026 di Ancol, November mendatang, akan menjadi uji coba sekaligus tolok ukur kesiapan Jakarta sebelum pesta olahraga nasional dua tahun kemudian.
- KONI DKI Jakarta mencatat kontribusi atlet Jakarta mencapai 45 persen dari total medali emas Indonesia di Asian Games, menjadi modal penting untuk target juara umum.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan Jakarta siap menjadi tuan rumah penyangga Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 dengan mengandalkan fasilitas olahraga berstandar internasional yang telah tersedia. Pernyataan itu disampaikan saat membuka Gathering Persiapan Pelaksanaan PON Pantai 2026 dan PON XXII 2028 yang digelar KONI DKI Jakarta di The Tavia Heritage Hotel, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Selasa (6/10).
Menurut Pramono, penetapan Jakarta sebagai kota penyangga PON XXII 2028—yang akan digelar di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur—merupakan amanat strategis dari pemerintah pusat. Karena tidak ada pembangunan venue baru, ia meyakini sebagian besar pertandingan justru akan berlangsung di ibu kota. "Jakarta telah ditetapkan sebagai penyelenggara penyangga PON XXII 2028. Karena tidak dibangun fasilitas baru, saya meyakini akan banyak pertandingan yang dilaksanakan di Jakarta," ujarnya.
Pramono menekankan bahwa persiapan menuju PON 2028 harus dilakukan secara terukur, terutama untuk cabang olahraga yang berpotensi menyumbang medali. Pembinaan atlet sejak dini menjadi kunci agar target prestasi dapat tercapai. Ia juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan Jakarta tidak hanya diukur dari raihan medali, tetapi juga dari kesiapan penyelenggaraan yang profesional. "Untuk itu, kita akan mempersiapkan dua hal, yaitu yang berkaitan dengan pelaksanaannya dan prestasinya, agar keduanya dapat disiapkan dengan baik," kata Pramono.
Sebelum PON 2028, Jakarta lebih dulu menjadi tuan rumah PON Pantai 2026 yang dijadwalkan digelar di kawasan Ancol pada November mendatang. Ajang ini akan mempertandingkan 11 cabang olahraga dan menjadi momentum untuk menguji kesiapan penyelenggaraan sekaligus memetakan kekuatan atlet DKI Jakarta. "PON Pantai 2026 saya harap betul menjadi uji coba bagi kita untuk mempersiapkan diri menjadi juara umum pada 2028," tutur Pramono.
Ketua Umum KONI DKI Jakarta, Hidayat Humaid, menambahkan bahwa atlet-atlet Jakarta telah memberikan kontribusi signifikan bagi prestasi olahraga Indonesia di kancah internasional. Ia mencatat, dua dari lima medali emas yang diraih kontingen Indonesia pada Asian Games dipersembahkan oleh atlet asal DKI Jakarta, atau sekitar 45 persen dari total emas nasional. "Dari lima medali emas yang diperoleh Indonesia pada Asian Games, dua di antaranya diraih atlet DKI Jakarta atau berkontribusi sekitar 45 persen dari raihan emas nasional," ujar Hidayat.
Hidayat menilai, keberhasilan PON Pantai 2026 dan PON XXII 2028 membutuhkan dukungan semua pihak, baik dari sisi infrastruktur maupun pembinaan atlet yang berkelanjutan. KONI DKI Jakarta pun terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem olahraga yang lebih baik. "Tugas besar ini tidak mungkin dipikul sendirian oleh pemerintah. Karena itu, kami membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan BUMN, BUMD, dan dunia usaha untuk membawa Jakarta menjadi juara umum," pungkasnya.
Dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, Jakarta berpeluang menekan biaya penyelenggaraan sekaligus mempercepat persiapan. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam memastikan venue tetap terawat dan sesuai standar internasional hingga 2028. Selain itu, pembinaan atlet berkelanjutan menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda. Jika PON Pantai 2026 sukses menjadi uji coba, bukan tidak mungkin Jakarta akan menjadi barometer baru penyelenggaraan event olahraga nasional. Pertanyaannya, mampukah Jakarta konsisten menjaga momentum ini hingga pesta olahraga terbesar se-Indonesia itu digelar?



