Anggun C. Sasmi Terima Officier de l'Ordre des Arts et des Lettres, Penghargaan Budaya Tertinggi Prancis
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Anggun C. Sasmi dianugerahi gelar Officier de l'Ordre des Arts et des Lettres oleh Pemerintah Prancis, sebuah kehormatan langka bagi seniman Asia.
- Penghargaan ini menegaskan posisi Anggun sebagai jembatan budaya Indonesia-Prancis yang telah berkarya lebih dari dua dekade di panggung internasional.
- Setelah sukses di dunia akting, Anggun mengisyaratkan proyek musik terbesarnya akan dirilis pada musim semi mendatang.

Penyanyi Anggun C. Sasmi menerima penghargaan budaya paling bergengsi dari Pemerintah Prancis, Officier de l'Ordre des Arts et des Lettres, pada awal Oktober 2026. Gelar ini menempatkannya dalam jajaran kecil seniman Asia yang diakui langsung oleh negara yang menjadi basis karier internasionalnya sejak 1997.
Penghargaan tersebut diberikan kepada figur yang dinilai memberi sumbangsih luar biasa terhadap perkembangan seni dan sastra, baik di Prancis maupun di kancah global. Anggun menyebut penerimaan gelar ini sebagai keberuntungan tersendiri karena tidak banyak seniman dari Asia yang memperolehnya. "Ini kehormatan besar, dan saya sadar hanya segelintir seniman Asia yang pernah menerimanya," ujarnya.
Jejak Anggun di Prancis dimulai ketika ia merilis "La Neige au Sahara" pada 24 Juni 1997. Versi Prancis itu langsung menjadi salah satu lagu paling populer di negara tersebut, membuka jalan bagi versi bahasa Inggris "Snow on the Sahara" yang kemudian diedarkan di 33 negara di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Kesuksesan itu menjadikannya salah satu penyanyi Indonesia pertama yang menembus pasar musik global secara mandiri, tanpa bergantung pada label multinasional besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, Anggun memperluas pengaruhnya ke layar lebar dan serial internasional. Ia memerankan Guru Asri dalam film Para Perasuk garapan Wregas Bhanuteja, yang mengantarkannya menjadi perwakilan Indonesia di Asian Academy Creative Awards 2026. Ia akan bersaing dengan aktris-aktris terkemuka Asia Pasifik seperti Tasma Walton (Australia), Liu Haocun (Tiongkok), Charmaine Sheh (Hong Kong), Sobhita Dhulipala (India), dan Nadine Lustre (Filipina) untuk gelar Grand Final Winner.
"Wregas adalah sutradara visioner. Kepercayaan yang ia berikan dengan mengajak saya bergabung dalam filmnya sudah menjadi hadiah terindah," kata Anggun.
Selain itu, Anggun sempat mencuri perhatian sebagai Amisha, antagonis utama dalam serial Reacher Season 4. Penampilannya di panggung internasional semakin mengukuhkan posisinya bukan hanya sebagai penyanyi, tetapi juga sebagai aktris lintas negara.
Di dalam negeri, Anggun baru saja tampil dalam upacara penutupan final FIFA ASEAN Cup antara Timnas Indonesia dan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10). Dengan kebaya maroon dan bawahan putih, ia memimpin lagu "Tanah Airku" yang diikuti lebih dari 60 ribu penonton. Momen tersebut menjadi simbol emosional kebanggaan nasional, terlebih setelah Indonesia keluar sebagai juara.
Penghargaan dari Prancis ini juga memperkuat narasi diplomasi budaya Indonesia di Eropa. Anggun, yang kini berkewarganegaraan Prancis, tetap menjadi ikon yang menghubungkan dua identitas. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperluas program pertukaran seniman muda ke Prancis, sebagaimana yang telah dilakukan negara-negara lain di Asia.
Ke depan, Anggun mengisyaratkan akan kembali fokus ke dunia musik. Ia menyebut sedang menyiapkan proyek musik terbesar dalam kariernya dan berjanji akan merilisnya pada musim semi mendatang. "Saya belum bisa bicara banyak, tapi sampai jumpa di musim semi. Ini mungkin salah satu hal terpenting yang pernah saya lakukan," ucapnya. Apakah proyek ini akan mengembalikan Anggun ke puncak tangga lagu internasional, atau justru menandai babak baru dalam karier seni yang lebih matang?



