Ole Romeny: Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 Lebih dari Sekadar Kemenangan
Baca dalam 60 detik
- Ole Romeny mengaku tidak pernah menyesal memilih membela Timnas Indonesia setelah meraih gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026.
- Penyerang 26 tahun itu menyumbang empat assist dalam kemenangan 9-2 atas Bangladesh dan tampil di empat laga sebagai starter.
- Gelar ini menegaskan peran pemain naturalisasi dalam proyek jangka panjang sepak bola Indonesia.

Ole Romeny menegaskan keputusannya memperkuat Timnas Indonesia adalah pilihan yang tidak akan pernah disesali. Penyerang berusia 26 tahun itu baru saja merasakan manisnya mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026 bersama skuad Garuda, sebuah pencapaian yang ia nilai jauh melampaui sekadar kemenangan di atas lapangan.
Dalam wawancara dengan FIFA, Romeny menyebut gelar tersebut sebagai momen yang sangat berarti bagi seluruh masyarakat Indonesia. "Jika melihat semua orang, anak-anak, dan seluruh masyarakat, pencapaian ini begitu berarti bagi Indonesia. Kami sangat bangga dan rasanya seperti satu keluarga besar," ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa kebanggaan mengenakan jersey Merah-Putih bukan retorika kosong, melainkan tanggung jawab yang ia rasakan setiap kali berlaga.
Perjalanan Romeny bersama Timnas Indonesia memang tidak instan. Ia resmi menyandang status warga negara Indonesia pada 8 Februari 2025 melalui jalur naturalisasi, memanfaatkan garis keturunan nenek moyang yang lahir dan pernah tinggal di Indonesia. Debutnya terjadi pada 20 Maret 2025, dan sejak itu ia menjelma menjadi salah satu pilihan utama di lini depan. Hingga kini, ia telah mengoleksi tujuh gol dari 14 penampilan bersama skuad Garuda.
Kontribusi Romeny sepanjang turnamen memperlihatkan peran spesifik yang ia emban. Ia bukan hanya finisher, tetapi juga kreator. Empat assist dalam satu pertandingan adalah bukti kemampuan membaca ruang dan mengambil keputusan cepat. Sebelumnya, ia mencetak gol melalui penalti ke gawang Singapura dan tampil selama 78 menit di laga itu, lalu 82 menit saat menghadapi Malaysia. Di partai final, meski tidak mencetak gol atau assist, akselerasi dan dribel individunya beberapa kali merepotkan pertahanan Thailand.
"Setiap kali bermain, kami selalu merasa sangat bangga mengenakan jersey ini. Terlebih ketika bermain di kandang sendiri, rasanya sungguh luar biasa." โ Ole Romeny
Bagi Indonesia, gelar ini bukan sekadar trofi regional. FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi panggung pembuktian bahwa strategi naturalisasi yang dijalankan PSSI mulai menuai hasil. Romeny adalah contoh pemain yang tidak hanya menambah kedalaman skuad, tetapi juga membawa pengalaman kompetisi Eropa. Sebelum memilih Indonesia, ia pernah membela Belanda di level U-15, U-18, U-19, dan U-20. Kini, ia akan kembali ke Belanda untuk memperkuat Fortuna Sittard di Eredivisie 2026/2027, dengan laga melawan FC Twente dijadwalkan pada 11 Oktober 2026 dini hari WIB.
Keputusan Romeny untuk membela Indonesia juga mencerminkan pergeseran lanskap sepak bola Asia Tenggara, di mana negara-negara mulai berlomba mengakomodasi pemain diaspora. Namun, keberhasilan ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: apakah gelar ASEAN Cup bisa menjadi batu loncatan menuju kompetisi yang lebih tinggi, seperti Piala Asia atau bahkan kualifikasi Piala Dunia? Dengan komposisi pemain yang semakin matang, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi dan mengintegrasikan pemain naturalisasi ke dalam ekosistem pembinaan usia muda.
Setelah kembali ke klub, Romeny akan menghadapi jadwal padat Eredivisie. Performa di level klub akan menjadi indikator apakah ia bisa mempertahankan tempat di skuad Garuda untuk agenda berikutnya. Bagi publik Indonesia, pertanyaan besarnya sederhana: mampukah momentum juara ini dipertahankan, atau hanya menjadi kilau sesaat sebelum kompetisi yang lebih berat menanti?



