Perang Dagang AS-Kanada Meluas: Tarif 50% Baru dan Runtuhnya Kepercayaan di Tengah Negosiasi yang Gagal
Baca dalam 60 detik
- Washington memberlakukan bea masuk 50% untuk barang Kanada senilai US$20 miliar, memicu balasan Ottawa mulai 8 September.
- Negosiasi di Washington gagal setelah AS menambahkan tuntutan yang disebut Kanada 'tidak dapat diterima', merusak kepercayaan jangka panjang.
- Konflik ini mengancam masa depan USMCA dan menambah ketidakpastian bagi rantai pasok global, termasuk Indonesia.

Washington dan Ottawa resmi terjerembab lebih dalam ke dalam pusaran perang dagang setelah pembicaraan tingkat tinggi yang berlangsung Jumat malam di Washington berakhir tanpa kesepakatan. Amerika Serikat langsung memberlakukan bea masuk 50 persen untuk barang-barang Kanada senilai US$20 miliar, sementara Kanada menjadwalkan tarif balasan mulai 8 September. Langkah ini dipastikan akan menaikkan harga berbagai produk di kedua negara dan meruntuhkan kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi hubungan kedua sekutu lama.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengecam keras tindakan Washington. Dalam pernyataannya, ia menuduh AS menggunakan "integrasi ekonomi sebagai senjata" dan menegaskan bahwa Kanada telah "diserang" oleh kebijakan tarif baru tersebut. "Anda berada dalam perang ketika Anda diserang," ujarnya, seraya menambahkan bahwa negaranya memiliki cadangan, ketahanan, dan rencana untuk merespons. Sebaliknya, Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, membela tindakan Washington dengan alasan melindungi pekerja dan rantai pasok Amerika setelah setahun menghadapi retaliasi dari mitra lamanya itu.
Juru runding utama Trump itu menyatakan, "Kami sudah cukup bicara, jadi kami mengambil tindakan balasan. Kepentingan kami adalah melindungi pekerja Amerika dan rantai pasok Amerika." Namun, Carney mengungkapkan bahwa sebenarnya Kanada siap mencabut sisa tarif balasan untuk baja, aluminium, dan otomotif jika AS bersedia menurunkan tarifnya secara substansial. Sayangnya, tuntutan akhir Washington dinilai terlalu berlebihan. "Mereka meminta terlalu banyak dan menawarkan terlalu sedikit," keluh Carney. Ia juga menyoroti syarat-syarat mendadak yang diajukan AS, seperti pengurangan keringanan tarif untuk kendaraan buatan Kanada, pembatasan kemampuan Kanada menjalin perjanjian dagang dengan negara lain, serta pelemahan perlindungan bahasa, budaya, dan kedaulatan—yang semuanya dinilai "tidak dapat diterima".
Kegagalan negosiasi ini menjadi kemunduran tajam hanya dua hari setelah kedua pihak terdengar optimis mencapai kompromi. Gubernur Ontario, Doug Ford, yang memimpin provinsi terpadat di Kanada, memuji sikap Carney yang menolak kesepakatan tersebut. Menurut Ford, kesepakatan itu akan merugikan sektor otomotif, baja, dan manufaktur Ontario. Ia mendesak Kanada menggunakan "segala alat yang ada di kotak peralatan kita" untuk melawan tarif AS. Eskalasi ini juga mempertanyakan masa depan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (USMCA) yang melibatkan AS, Kanada, dan Meksiko—sebuah kerangka yang krusial bagi industri di ketiga negara. Carney sendiri mengakui bahwa kegagalan ini "bukan kabar baik" bagi peninjauan perjanjian tersebut dan memberikan "perspektif baru" bagi Kanada tentang apa yang sebenarnya diinginkan Washington dari hubungan ekonomi yang lebih luas.
Dampak politik dari konflik ini diperkirakan akan lebih besar daripada dampak ekonominya. Tahun lalu, kedua negara saling menjual barang dan jasa senilai US$880 miliar. Angka ini menunjukkan betapa dalamnya keterikatan ekonomi yang kini terancam. Tarif yang awalnya dijadwalkan berlaku Rabu tengah malam sempat ditunda tiga hari oleh Trump untuk memberi ruang negosiasi, namun upaya itu gagal. Ketegangan ini merupakan penyimpangan luar biasa dari hubungan tradisional yang kooperatif. Selama beberapa dekade, AS dan Kanada berhasil mengatasi perselisihan dagang, seperti impor kayu lunak dan akses pasar susu, tanpa merusak persahabatan. Bahkan, tentara Kanada bertempur bersama Amerika di Afghanistan pasca-9/11, dan perbatasan sepanjang 5.525 mil itu tidak dijaga, dengan hampir 330.000 orang dan barang senilai US$2 miliar melintas setiap harinya.
Trump, yang menjadikan tarif sebagai pusat agenda ekonomi periode keduanya, kali ini menggunakan dasar hukum yang tidak biasa. Setelah Mahkamah Agung pada Februari membatalkan program tarif sebelumnya, pemerintahan Trump beralih ke Section 338 dari Tariff Act 1930, sebuah ketentuan era Depresi yang belum pernah digunakan untuk memberlakukan tarif. Langkah ini mengundang kritik karena bagian dari undang-undang Smoot-Hawley yang dianggap memperburuk Depresi Besar. Sementara itu, AS telah memulai pembicaraan formal dengan Meksiko untuk merevisi USMCA, tetapi belum dengan Kanada. Eskalasi ini menimbulkan keraguan apakah pembicaraan dengan Kanada akan pernah dimulai.
Bagi Indonesia, konflik dagang ini menjadi pengingat akan kerentanan rantai pasok global. Sebagai negara yang bergantung pada ekspor komoditas dan manufaktur, Indonesia perlu mencermati bagaimana kebijakan proteksionis negara besar dapat memicu gejolak harga dan pergeseran arus perdagangan. Meski tidak terlibat langsung, dampak tidak langsung seperti fluktuasi nilai tukar dan perubahan permintaan global bisa terasa. Para pelaku usaha Indonesia, terutama yang berorientasi ekspor, harus bersiap menghadapi ketidakpastian yang lebih besar.
Ryan Majerus, mitra di King & Spalding dan mantan pejabat dagang AS, memperkirakan "kedua belah pihak akan berada di bawah tekanan besar dalam beberapa hari ke depan untuk tetap mencari jalan keluar". Joshua Bolten, CEO Business Roundtable, memperingatkan bahwa tarif dan retaliasi berisiko "menaikkan biaya bagi bisnis dan keluarga Amerika" serta mengganggu rantai pasok vital. Ia mendesak kedua pemerintah untuk melanjutkan negosiasi. Namun, dengan tidak adanya rencana pembicaraan lanjutan, pertanyaannya kini: mampukah kedua negara menemukan titik temu sebelum 8 September, atau akankah perang dagang ini semakin dalam dan meninggalkan luka yang sulit disembuhkan?



