OM System PEN: Kamera Retro Rp16 Juta yang Menantang Dominasi Fujifilm dan Nikon
Baca dalam 60 detik
- OM System resmi merilis PEN, kamera mirrorless Micro Four Thirds dengan sensor 20MP dan harga sekitar US$1.000 (Rp16 juta) body-only.
- Kamera ini menggabungkan desain retro PEN-F dengan konstruksi plastik E-P7, menawarkan viewfinder elektronik dan stabilisasi 5,5 stop.
- Meski autofokus dan video 8-bit terbilang tertinggal, ukuran ringkas dan harga agresif menjadikannya pilihan menarik bagi pengguna yang mengutamakan portabilitas.

OM System secara resmi meluncurkan PEN, kamera mirrorless ringkas dengan sensor Micro Four Thirds 20MP yang menyasar fotografer perjalanan dan pengguna yang baru beralih dari ponsel. Dipasarkan mulai sekitar US$1.000 (sekitar Rp16 juta) untuk body saja, harga ini jauh lebih rendah dibandingkan peluncuran PEN-F pada 2016 yang dibanderol US$1.200—setara US$1.700 jika disesuaikan inflasi hari ini.
Langkah ini menandai kembalinya seri PEN ke pasar Amerika Utara setelah absen selama satu dekade, sekaligus menjadi entri kelas atas pertama dalam lima tahun terakhir. OM System memposisikan PEN sebagai jembatan antara model E-P7 yang lebih ekonomis dan PEN-F yang legendaris, dengan mengambil elemen dari keduanya: konstruksi plastik ringan dari E-P7, namun tetap menyematkan viewfinder elektronik yang menjadi ciri khas PEN-F.
Keputusan menggunakan sensor non-stacked dan prosesor TruePic generasi kesembilan—sama seperti OM-5 Mark II—membuat harga tetap kompetitif. Konsekuensinya, kemampuan video terbatas pada 8-bit 4K/30p, tanpa soket headphone untuk memantau audio. Fitur multi-shot seperti High Res, Live ND, dan Focus Stacking memang tersedia, tetapi pemrosesannya lebih lambat dibandingkan model OM-3 yang lebih mahal.
Dalam hal desain, PEN mengusung gaya rangefinder dengan grip depan kecil dan thumb rest yang membuatnya nyaman digenggam. Namun, bagian belakang kamera terbilang padat: enam tombol dan empat tombol arah berdesakan di area kanan, tanpa joystick AF. Pengguna harus mengandalkan tombol arah atau layar sentuh untuk memindahkan titik fokus—sebuah kompromi yang mungkin menyulitkan pengguna baru.
Layar sentuh 1,04 juta titik yang bisa dilipat sepenuhnya menjadi nilai tambah untuk perlindungan saat dibawa bepergian, meski sebagian fotografer jalanan mungkin merindukan layar tilting yang lebih diskret. OM System mengklaim sekitar 50% fotografer dalam survei lebih menyukai layar flip-out, sehingga pilihan ini dianggap mewakili selera mayoritas.
"PEN adalah kombinasi ukuran, kemampuan, dan harga yang menyenangkan. Ini bukan kamera paling canggih, tetapi berhasil memadukan portabilitas dan hasil gambar yang menarik dengan harga yang wajar," demikian penilaian dalam ulasan tersebut.
Soal autofokus, PEN mengandalkan deteksi fase pada sensor dengan pengenalan manusia serta anjing/kucing. Sayangnya, sistem ini cenderung memberikan positif palsu dan memprioritaskan subjek yang dikenali di atas titik AF yang dipilih pengguna. Dalam pengujian, mode pelacakan umum terasa tertinggal dibandingkan kompetitor—kurang lengket dan kurang dapat diandalkan untuk subjek bergerak cepat. Kamera ini jelas bukan untuk fotografi aksi atau olahraga.
Kualitas gambar dari sensor 20MP tergolong solid untuk ukurannya. Dalam kondisi cahaya cukup, detail yang dihasilkan tajam, dan noise masih terkendali hingga ISO 800. Mode high-res genggam maupun tripod mampu meningkatkan resolusi untuk subjek statis, meski prosesnya memakan waktu. Namun, keterbatasan sensor Four Thirds membuat kamera ini kurang ideal untuk pemotretan malam tanpa tripod.
Dari sisi konektivitas, PEN menyertakan port USB-C untuk pengisian daya dan transfer data, tetapi masih menggunakan antarmuka USB 2.0 480Mbps yang terbilang kuno. Slot SD tunggal hanya mendukung kartu UHS-I, dan tidak ada soket headphone—sinyal jelas bahwa kamera ini memang difokuskan untuk stills, bukan video.
Di pasar Indonesia, kamera ini berpotensi menarik bagi content creator dan traveler yang menginginkan kualitas gambar lebih baik dari ponsel tanpa harus membawa DSLR berat. Dengan harga sekitar Rp16 juta, PEN bersaing langsung dengan Fujifilm X-T30 III dan Nikon Z50 II yang menawarkan sensor APS-C lebih besar namun tanpa stabilisasi gambar. Alternatif lain adalah Fujifilm X-E5 yang lebih mahal dan berbodi logam.
Keunggulan utama PEN terletak pada ekosistem lensa Micro Four Thirds yang ringkas, seperti 12mm F2, 17mm F1.8, atau 45mm F1.8, sehingga paket kamera tetap portabel. Namun, bagi pengguna yang mengutamakan video 10-bit atau autofokus canggih, pilihan lain di harga serupa mungkin lebih menggoda.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah OM System akan terus mengembangkan lini PEN dengan pembaruan firmware yang memperbaiki performa autofokus, atau justru fokus pada model OM-1 dan OM-3 yang lebih mahal. Jika PEN mampu menarik minat generasi baru fotografer, bukan tidak mungkin seri ini kembali menjadi tulang punggung penjualan OM System di segmen entry-level premium.



