BYD Shark 6 Ditemukan Mudah Diretas, Pembaruan OTA Jadi Jawaban?
Baca dalam 60 detik
- Peretas berhasil menembus sistem infotainment BYD Shark 6 dan mengendalikan lampu depan serta wiper, memicu kekhawatiran keamanan siber kendaraan modern.
- BYD merespons dengan pembaruan over-the-air untuk menutup celah, namun insiden ini menyoroti lemahnya perlindungan pada kendaraan terhubung secara global.
- Pakar menilai kerentanan serupa berpotensi terjadi pada merek lain, sementara konsumen Indonesia perlu mewaspadai risiko serangan siber pada mobil listrik yang semakin canggih.

Perusahaan otomotif asal China, BYD, berencana merilis pembaruan keamanan jarak jauh untuk pikap listrik terlarisnya, Shark 6, setelah tim peretas berhasil menembus sistem infotainment kendaraan tersebut. Langkah ini diambil menyusul laporan program investigasi Four Corners dari ABC Australia yang mengungkap celah keamanan serius pada mobil yang semakin bergantung pada perangkat lunak.
Pembaruan over-the-air (OTA) akan menyasar sistem infotainment berbasis Android, dengan tujuan mencegah individu yang memiliki akses fisik ke kendaraan memasang perangkat lunak berbahaya. Meski demikian, insiden ini memicu pertanyaan lebih besar tentang kesiapan produsen kendaraan listrik dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
Dalam laporan ABC berjudul "Asleep at the Wheel", jurnalis Angus Grigg bersama ahli keamanan siber dari Fortify Labs mendemonstrasikan bagaimana mereka dapat menguasai sebagian fungsi mobil. "Ternyata terlalu mudah. Saat saya berada di balik kemudi, bukan hanya saya yang mengendalikan mobil; seorang peretas juga memiliki akses," tulis Grigg. Ia menambahkan bahwa dengan satu sentuhan tombol, peretas dapat mematikan lampu depan hingga membuatnya berada dalam kegelapan.
Namun, Fortify Labs kemudian memberikan klarifikasi melalui blog resminya bahwa proses peretasan tersebut tidak sesederhana yang digambarkan. Mereka harus memotong kabel pada Shark 6 dan menyambungkan komputer kecil Raspberry Pi untuk mengganggu sistem. "Beginilah cara lampu dimatikan dan wiper kaca depan diaktifkan. Semua dilakukan secara in-line, dengan Raspberry Pi yang menyimulasikan ECU yang telah disusupi dan mengirimkan pesan melalui CAN bus," jelas Fortify Labs.
Meski demikian, fungsi-fungsi vital seperti rem dan kamera kendaraan tidak dapat diakses oleh peretas. BYD dalam pernyataannya menegaskan bahwa kendali atas lampu dan wiper memerlukan akses fisik langsung, dan perusahaan berkomitmen meningkatkan perlindungan keamanan siber melalui analisis kerentanan, pengujian keamanan, penilaian risiko, serta pembaruan perangkat lunak berkelanjutan.
Fortify Labs menekankan bahwa demonstrasi ini bersifat hipotetis dan berlaku untuk seluruh produsen kendaraan, bukan hanya BYD. "Bayangkan jika sebuah kelompok kriminal mendapatkan akses ke sistem back-end milik produsen kendaraan. Dampaknya bisa menjadi bencana, dan ini merupakan salah satu dari banyak alasan mengapa keamanan siber kendaraan harus mendapat prioritas jauh lebih tinggi dibandingkan keamanan mesin cuci pintar dan ketel listrik kita," ujar mereka.
Insiden ini menyoroti tantangan yang dihadapi industri otomotif global, termasuk di Indonesia, seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik dan fitur konektivitas. Mobil-mobil modern kini memiliki lebih dari 100 unit kontrol elektronik (ECU) yang saling terhubung, menciptakan permukaan serangan yang luas bagi peretas. Di Indonesia, BYD telah memasarkan beberapa model listrik seperti Atto 3, Dolphin, dan Seal, meskipun Shark 6 belum resmi dijual. Meski demikian, prinsip keamanan yang sama tetap relevan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan regulasi terkait keamanan kendaraan listrik, namun aspek keamanan siber belum menjadi fokus utama. Dengan target ambisius elektrifikasi transportasi, celah seperti yang ditemukan pada BYD Shark 6 dapat menjadi peringatan bagi regulator dan produsen untuk memperkuat standar keamanan digital.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah kendaraan terhubung dapat diretas, melainkan seberapa cepat produsen dan regulator mampu beradaptasi. Apakah pembaruan OTA cukup untuk menutup celah, ataukah diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh seperti enkripsi end-to-end dan audit keamanan independen? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: keamanan siber kendaraan tidak bisa lagi diabaikan.



