Travis Barker: Wasiat Terakhir Sang Ibu yang Mengubah Hidup dan Kariernya
Baca dalam 60 detik
- Travis Barker mengungkapkan bahwa pesan terakhir ibunya sebelum meninggal adalah agar ia serius menekuni musik, sebuah permintaan yang menjadi titik balik hidupnya.
- Di balik kesuksesannya bersama Blink-182, Barker meyakini ibunya yang meninggal karena penyakit autoimun terus membimbing karier dan kehidupan pribadinya.
- Kisah ini juga menyoroti trauma kecelakaan pesawat tahun 2008 yang hampir merenggut nyawanya, serta perjuangannya melawan rasa bersalah dan kecanduan obat.

Travis Barker, drummer Blink-182 yang juga suami Kourtney Kardashian, membuka lembaran kelam masa lalunya: wasiat terakhir sang ibu, Gloria, yang meninggal pada 1990 akibat sindrom Sjögren, ternyata menjadi kompas yang mengarahkan seluruh perjalanan hidup dan kariernya. Dalam podcast CNN "All There Is" bersama Anderson Cooper, Barker menuturkan bahwa ibunya sempat berpesan agar ia terus menekuni musik—sebuah kalimat yang tak pernah ia duga menjadi kata-kata perpisahan.
Barker mengisahkan, hari kematian ibunya hanya berselang satu hari sebelum ia memulai masa sekolah menengah. Ia sempat berada di sisi sang ibu dan mendengar permintaan itu, namun saat itu ia masih belum menyadari bahwa itu adalah pesan terakhir. "Sejak ibuku mengucapkan itu, rasanya seperti ada terowongan fokus. Aku merasa orang tua yang pergi seperti itu menjadi malaikat yang membimbing kita," ujarnya. Keesokan harinya, ia tetap masuk sekolah dan mencoba audisi untuk marching band, berhasil masuk sebagai pemain snare drum—sebuah pencapaian yang ia anggap besar di tengah duka.
Dari sana, Barker larut dalam musik: bergabung dengan jazz band, orkestra, dan terus bermain drum tanpa banyak bicara. Ia mengakui bahwa semua pencapaiannya, baik di panggung maupun kehidupan pribadi, tidak lepas dari doa dan pengawasan sang ibu. "Hampir mustahil aku bisa seberuntung ini tanpa dia dan banyak orang yang telah pergi," katanya. Pernyataan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap kehidupan pribadinya yang glamor bersama keluarga Kardashian, namun di balik itu tersimpan luka mendalam yang membentuk ketangguhannya.
Kisah Barker tidak berhenti pada kehilangan ibunya. Pada 2008, ia nyaris tewas dalam kecelakaan pesawat jet pribadi di South Carolina yang menewaskan empat orang, termasuk asisten dan pengawalnya. Dalam dokumenter terbaru "Louder Than Fear", ia mengenang detik-detik mencekam saat pesawat gagal lepas landas dan terbakar. "Landing gear meledak, badan pesawat menyeret di landasan dan terbakar. Aku membuka pintu darurat dan melompat ke area bahan bakar, seluruh tubuhku ikut terbakar," tuturnya. Ia selamat dengan 65 persen luka bakar derajat tiga, patah tulang rusuk, dan retak di empat bagian tulang belakang.
Kecelakaan itu meninggalkan trauma yang mendalam, terutama setelah sahabatnya, Adam "DJ AM" Goldstein, yang selamat dari insiden, meninggal setahun kemudian karena overdosis. Barker mengaku dunianya runtuh untuk kedua kalinya. "Setelah AM pergi, sangat sulit untuk terhubung dengan siapa pun. Aku merasa sendirian dan terus menabrak dinding," kenangnya. Ia juga bergulat dengan perasaan bersalah karena selamat, bertanya-tanya mengapa ia masih hidup sementara yang lain tidak. Namun, kehadiran anak-anaknya menjadi penyelamat. "Mereka membuatku tetap bertahan. Aku membuang obat pereda nyeriku ke toilet—aku tidak mau mengecewakan mereka," tegasnya.
Kisah Barker ini relevan bagi banyak orang Indonesia yang mungkin mengalami kehilangan orang tua di usia muda atau menghadapi trauma kecelakaan. Di tengah budaya yang masih menganggap tabu membicarakan kesehatan mental, pengakuan jujur Barker tentang terapi dan perjuangannya melawan kecanduan bisa menjadi pengingat bahwa kesedihan dan trauma adalah hal yang wajar, dan mencari bantuan profesional adalah langkah berani. Fenomena ini juga menggarisbawahi pentingnya dukungan keluarga dalam proses pemulihan—sesuatu yang sangat dijunjung dalam masyarakat Indonesia.
Kini, di usianya yang ke-48, Barker tidak hanya dikenal sebagai musisi, tetapi juga sebagai simbol ketahanan. Ia terus berkarya dengan Blink-182 dan proyek solonya, sambil membangun kehidupan baru bersama Kourtney dan anak-anak mereka. Pertanyaannya, bagaimana ia akan menyeimbangkan kenangan kelam masa lalu dengan kebahagiaan yang ia raih sekarang? Apakah pengalaman ini akan mendorongnya untuk lebih vokal dalam advokasi kesehatan mental? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: wasiat ibunya telah membawanya sejauh ini, dan ia tidak berniat berhenti.



