Dua Kali Juara Dunia Tinju Zolani Tete Tewas Ditembak di Afrika Selatan
Baca dalam 60 detik
- Mantan juara dunia dua divisi, Zolani Tete, tewas dalam penyergapan di depan kediamannya di Mdantsane, Afrika Selatan.
- Insiden ini menyoroti tingginya angka kejahatan dengan kekerasan di negara tersebut, yang berdampak pada citra keamanan publik.
- Kematian Tete mengakhiri rencana comeback-nya setelah menjalani larangan empat tahun akibat doping, meninggalkan duka bagi dunia tinju.

Zolani Tete, petinju profesional asal Afrika Selatan yang pernah meraih gelar juara dunia di dua kelas berbeda, tewas ditembak di luar rumahnya di Mdantsane, Eastern Cape, pada Jumat (8/11). Peristiwa ini terjadi saat Tete (38) tengah menunggu di dalam mobilnya untuk membuka gerbang rumah, ketika dua pria bertopeng tiba-tiba muncul dari kendaraan lain dan melepaskan tembakan bertubi-tubi ke arahnya serta seorang penumpang wanita berusia 27 tahun yang kini masih dirawat di rumah sakit.
Menteri Olahraga, Seni, dan Budaya Afrika Selatan, Gayton McKenzie, menyebut kehilangan ini sebagai pukulan berat bagi dunia olahraga negara itu. "Afrika Selatan kehilangan salah satu petarung terbaik yang pernah dimilikinya," ujarnya dalam pernyataan resmi. Polisi setempat telah meluncurkan penyelidikan besar-besaran, sementara kedua pelaku berhasil melarikan diri.
Tete dikenal sebagai petinju dengan rekor impresif: 29 kemenangan dari 34 pertarungan, empat kekalahan, dan satu no-contest. Ia pernah memegang gelar kelas bantam WBO pada 2017โ2019 dan gelar kelas super terbang IBF pada 2014. Salah satu momen paling dikenang adalah kemenangan knockout tercepat dalam sejarah tinju dunia, yang tercatat di Guinness World Records, saat mengalahkan Siboniso Gonya hanya dalam 11 detik pada 2017.
Namun, kariernya sempat tercoreng oleh kasus doping. Pertarungan terakhirnya pada Juli 2022 melawan Jason Cunningham di London semula dimenangkan lewat knockout, tetapi kemudian dinyatakan no-contest setelah Tete positif menggunakan steroid anabolik stanozolol. Badan Anti-Doping Inggris (UKAD) menjatuhkan larangan empat tahun yang baru akan berakhir pada 29 Juli 2026. Menurut manajernya, Mla Tengimfene, Tete sebenarnya tengah mempersiapkan diri untuk kembali ke ring sebelum tragedi ini terjadi.
Kematian Tete menyoroti masalah kekerasan bersenjata yang masih akut di Afrika Selatan. Data kepolisian setempat mencatat ribuan kasus pembunuhan setiap tahunnya, sering kali terkait dengan kejahatan terorganisir. Bagi pengamat olahraga, kasus ini juga mengingatkan bahwa atlet, terutama di negara dengan kesenjangan sosial tinggi, kerap menjadi target kejahatan karena profil dan aset yang mereka miliki.
Di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan pentingnya keamanan bagi para atlet, terutama mereka yang memiliki prestasi internasional. Meski tingkat kejahatan dengan kekerasan di Indonesia relatif lebih rendah, kasus penyerangan terhadap figur publik pernah terjadi. Federasi Olahraga Tinju Indonesia (Pertina) dan Kemenpora dapat menjadikan insiden ini sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan perlindungan terhadap atlet, baik di dalam maupun luar ring.
Tragedi ini juga memicu pertanyaan tentang masa depan warisan Tete. Dengan rekor dan prestasinya, ia seharusnya dikenang sebagai salah satu petinju terbaik Afrika. Namun, kasus doping yang membayangi kariernya dan kini kematian tragisnya akan menjadi dua sisi yang tak terpisahkan dalam narasi hidupnya. Akankah pihak berwenang berhasil menangkap pelaku dan mengungkap motif di balik penembakan ini? Hingga saat itu, dunia tinju hanya bisa berduka dan mengenang kontribusinya pada olahraga yang ia cintai.



