Kisah di Balik Audisi Adam Brody: Sang Pencipta The O.C. Sempat 'Membenci' Seth Cohen
Baca dalam 60 detik
- Josh Schwartz awalnya menolak mentah-mentah penampilan Adam Brody dalam audisi pertama The O.C. karena dianggap tidak profesional.
- Casting director Patrick Rush berjuang keras memberikan kesempatan kedua, yang akhirnya mengubah nasib Brody dan karakter Seth Cohen.
- Keberhasilan Brody menjadi pengingat bahwa penilaian awal sering kali keliru, sementara wacana reboot The O.C. masih terganjal perbedaan pandangan para bintangnya.

Di balik kesuksesan serial remaja ikonis The O.C., tersimpan cerita audisi yang nyaris menggagalkan karier Adam Brody. Pencipta acara, Josh Schwartz, mengaku sempat merasa muak dan tidak ingin melihat Brody lagi setelah penampilan pertamanya yang dinilai kacau. Namun, berkat kegigihan tim casting, aktor tersebut justru menjelma menjadi salah satu ikon budaya pop paling berpengaruh di awal 2000-an.
Dalam dokumenter E!’s Greatest Year in Pop Culture yang menyoroti tahun 2003, Schwartz mengenang momen tersebut dengan nada campuran antara geli dan heran. Saat itu, Brody yang datang untuk membaca peran Seth Cohen sama sekali tidak menyentuh naskah. Alih-alih membawakan dialog, ia justru berimprovisasi liar dan melontarkan lelucon yang membuat ruangan audisi terasa canggung. “Setelah dia selesai, saya hanya bisa bertanya, ‘Siapa pria itu? Usir dia dari sini’,” ujar Schwartz menirukan reaksinya kala itu.
Casting director Patrick Rush, yang sejak awal melihat potensi pada diri Brody, mengakui bahwa proses audisi berjalan penuh hambatan. Ia menyebut ada “polisi tidur” yang membuat tim produksi kehilangan kepercayaan. “Dia bahkan tidak membaca untuk peran Seth. Dia hanya melawak dan mengoceh. Keringat dingin mulai bercucuran, dan saya hanya bisa meliriknya sambil berpikir, ‘Apa yang sedang kau lakukan? Tolong jangan lakukan itu’,” kenang Rush.
Meski Schwartz dikenal sebagai sosok yang paling tenang, kemarahan Rush terhadap penampilan perdana Brody masih membekas. “Josh Schwartz, orang paling kalem dalam sejarah, berkata, ‘Saya benci anak itu. Saya tidak pernah ingin melihatnya lagi’,” ujar Rush. Namun, naluri Rush sebagai casting director berkata lain. Ia memohon agar Brody diberi kesempatan kedua. “Saya tidak tahu apa itu tadi, tapi tolong biarkan saya membawanya masuk lagi. Dia kembali, dan dia luar biasa,” tambahnya.
Keputusan itu terbukti tepat. Saat Brody kembali untuk audisi kedua, Schwartz sudah mengantongi nama-nama seperti Mischa Barton (Marissa Cooper), Ben McKenzie (Ryan Atwood), dan Rachel Bilson (Summer Roberts). Chemistry Brody dengan para pemain lain langsung terasa. “Karakter itu tiba-tiba masuk akal. Kekhawatiran jaringan bahwa penonton perempuan mungkin tidak akan menganggapnya semenarik Ryan langsung menguap,” jelas Schwartz. Seth Cohen pun lahir sebagai representasi remaja canggung, penggemar musik indie, dan humoris yang kemudian menjadi favorit banyak penggemar.
“Saya tidak tahu apa itu tadi, tapi tolong biarkan saya membawanya masuk lagi. Dia kembali, dan dia luar biasa.” — Patrick Rush, casting director The O.C.
Kisah ini bukan sekadar nostalgia. Di industri hiburan, audisi sering kali menjadi momen penentu yang penuh ketidakpastian. Seorang aktor bisa saja tampil buruk di percobaan pertama, tetapi justru menemukan versi terbaiknya di kesempatan berikutnya. Brody adalah contoh nyata bagaimana intuisi seorang casting director dapat menyelamatkan sebuah proyek dari keputusan sepihak yang emosional. Tanpa kegigihan Rush, mungkin Seth Cohen tidak akan pernah ada, dan The O.C. kehilangan salah satu pilar naratifnya.
Hingga kini, wacana untuk menghidupkan kembali The O.C. masih menjadi perdebatan. Ben McKenzie dan Rachel Bilson menyatakan keterbukaan mereka, tetapi Brody justru menolak dengan alasan yang lebih filosofis. Dalam podcast Welcome to The O.C., B******! pada 2021, ia berpendapat bahwa dunia sudah berubah secara sosial. “Menurut saya, The O.C. mengklaim sebagai kritik terhadap kemewahan, tetapi sebenarnya bukan. Itu adalah perayaan atas kemewahan,” tegasnya. Pernyataan ini menggambarkan jarak antara sensibilitas awal 2000-an dengan realitas hari ini, di mana representasi kelas dan kekayaan semakin sering dipertanyakan.
Bagi penggemar di Indonesia, kisah audisi Brody menjadi cermin bahwa dunia hiburan global pun penuh liku. Serial seperti The O.C. pernah menjadi fenomena di tanah air melalui tayangan televisi kabel dan distribusi DVD, membentuk selera generasi muda terhadap drama remaja Amerika. Kini, dengan maraknya platform streaming, cerita di balik layar seperti ini justru semakin diminati karena memberi dimensi manusiawi pada selebritas. Apakah kegagalan di awal selalu berarti akhir? Brody membuktikan sebaliknya, asalkan ada seseorang yang berani memberi kesempatan kedua.



