Hari Gila di Mackay: Australia Gulung Bangladesh 64, tapi Pukulan Sendiri Masih Jadi PR Besar
Baca dalam 60 detik
- Australia membalas kekalahan di Darwin dengan melumat Bangladesh hanya 64 run, tapi performa batting mereka kembali memprihatinkan.
- Mitchell Starc mencatatkan 6-12 dan naik ke peringkat 10 pencetak wicket terbanyak sepanjang masa, sementara Shoriful Islam menjadi mimpi buruk bagi tuan rumah.
- Krisis konsistensi Marnus Labuschagne yang 43 inning tanpa century memicu perdebatan tentang masa depannya di tim utama Australia.

Mackay, Queensland โ Hari pertama Test kedua antara Australia dan Bangladesh di Mackay berubah menjadi panggung kekacauan yang jarang terlihat dalam kriket modern. Tuan rumah yang tengah dalam tekanan setelah kekalahan mengejutkan di Darwin pekan lalu, membalas dengan menghancurkan Bangladesh hanya dengan 64 run. Namun, alih-alih merayakan dominasi bowling, Australia justru kembali disorot karena kegagalan berulang para pemukulnya. Hingga akhir hari, tuan rumah hanya mampu mengumpulkan 165-8, unggul tipis 101 run, dalam pertandingan yang menyaksikan 18 wicket berjatuhan.
Pertarungan dimulai dengan dramatis ketika Mitchell Starc, dengan bola pertama pertandingan, menyingkirkan Shadman Islam. Dalam 22 bola pertamanya, Starc telah mengantongi lima wicket, membuat Bangladesh terpuruk di posisi 12-5. Kapten Pat Cummins turut menyumbang tiga wicket, sementara para pemukul Bangladesh tampak tidak berdaya menghadapi bowling cepat yang memanfaatkan kondisi pitch yang hidup. Meski sempat memperpanjang inning dari 39-9 menjadi 64 all out dalam 34 over, itu hanya sedikit mengurangi aib bagi tim tamu.
Namun, ketika giliran Australia untuk memukul, cerita yang sama kembali terulang. Matt Renshaw, yang baru dipanggil menggantikan Jake Weatherald, gagal menunjukkan taji dengan hanya mencetak 8 run sebelum tertangkap di slip. Travis Head dan Marnus Labuschagne juga tumbang dengan cepat. Labuschagne, yang kini berada di bawah tekanan besar, hanya mampu mencetak 4 run sebelum bowled. Ini adalah inning ke-43 berturut-turut tanpa century bagi pemain nomor tiga Australia tersebut, sebuah catatan yang memicu kritik tajam dari mantan kapten Ricky Ponting.
"Sudah terlalu lama," ujar Ponting di 7 Cricket. "Dia tidak bisa mencetak run dari back foot. Sudah waktunya melihat pemain lain."
Steve Smith dan Cameron Green sempat membangun harapan dengan kemitraan 77 run, tetapi setelah Smith terjebak lbw pada 42, Australia kehilangan empat wicket hanya dalam 30 run. Alex Carey dan Beau Webster kembali ke paviliun dengan cepat, menyisakan Green yang tetap tidak terkalahkan pada 51, ditemani Nathan Lyon yang baru mencetak 10. Green, yang mencetak century di inning kedua pada Test sebelumnya, sekali lagi menjadi andalan di tengah kegagalan kolektif.
Di sisi lain, bowler kiri Bangladesh, Shoriful Islam, tampil gemilang dengan 6-35, menunjukkan bahwa tim tamu tidak sepenuhnya tanpa perlawanan. Namun, sorotan utama tetap pada performa Starc yang luar biasa. Dengan raihan 6-12, Starc kini mengoleksi 441 wicket dalam karier Test-nya, melampaui legenda Afrika Selatan, Dale Steyn, dan naik ke peringkat 10 daftar pencetak wicket terbanyak sepanjang masa. Mantan bowler Australia, Jason Gillespie, memuji konsistensi Starc yang dinilai semakin matang.
Bagi pengamat kriket Indonesia, pertandingan ini menegaskan bahwa kriket Test tetap menjadi ajang di mana kejutan dan drama selalu mungkin terjadi. Meski Indonesia bukan kekuatan kriket, perkembangan kriket global, termasuk performa tim-tim seperti Bangladesh, dapat menjadi inspirasi bagi upaya pengembangan kriket di tanah air. Federasi Kriket Indonesia (Forki) terus berupaya meningkatkan kualitas kompetisi domestik, dan melihat bagaimana tim seperti Bangladesh mampu bersaing di level tertinggi bisa menjadi motivasi.
Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah: akankah Australia mampu memperbaiki performa batting mereka di inning kedua? Dengan keunggulan 101 run, mereka masih di atas angin, tetapi jika pola yang sama berulang, bukan tidak mungkin Bangladesh bisa bangkit. Sementara itu, masa depan Labuschagne di tim utama semakin menjadi sorotan. Apakah ini akhir dari karier internasionalnya, atau justru menjadi titik balik untuk bangkit? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: kriket Test kembali menunjukkan mengapa ia disebut sebagai bentuk tertinggi dari olahraga ini.



