Jeffrey Archer Meninggal di Usia 86: Penulis 300 Juta Buku yang Tak Pernah Lepas dari Bayang-Bayang Penjara
Baca dalam 60 detik
- Jeffrey Archer, penulis sekaligus mantan politikus Konservatif Inggris, tutup usia pada Senin (22/9) di kediamannya, hanya sehari sebelum novel terakhirnya, Adam and Eve, dirilis.
- Ratu Camilla memimpin penghormatan terakhir, menyebut Archer sebagai 'kekuatan hidup yang tak pernah padam' meski mengakui sosoknya 'tidak tanpa cela'.
- Karier Archer membentang lima dekade dengan penjualan lebih dari 300 juta buku, namun ternoda hukuman penjara empat tahun atas kasus sumpah palsu pada 2001.

Dunia sastra Inggris kehilangan salah satu pencerita paling produktif dan kontroversialnya. Jeffrey Archer, novelis laris yang juga mantan politikus Partai Konservatif, meninggal dunia pada Senin (22/9) di rumahnya pada usia 86 tahun—tepat sehari sebelum novel terakhirnya, Adam and Eve, menyapa pembaca. Kabar duka ini disampaikan penerbit HarperCollins, yang menyatakan Archer wafat 'secara mendadak dan tenang' di sela-sela sesi menulisnya.
Kepergian Archer memicu gelombang penghormatan dari kalangan elite politik dan budaya Inggris, tetapi juga menghadirkan kembali paradoks yang melekat pada dirinya: seorang pendongeng ulung yang menghabiskan sebagian hidupnya di balik jeruji besi karena kebohongan yang ia rajut sendiri. Ratu Camilla, yang mengenal Archer sebagai pendukung setia yayasan amal Queen's Reading Room, memberikan penghormatan paling menyentuh. Dalam pernyataan resmi, ia menyebut Archer sebagai 'kekuatan hidup yang tak pernah padam' dan mengakui bahwa mendiang 'tidak tanpa cela'.
"Jarang ada penulis yang bisa hidup seberwarna dan sevariatif tokoh-tokoh dalam buku mereka, atau dengan begitu banyak liku plot yang mengejutkan," ujar Ratu Camilla. "Saya turut berduka atas kepergiannya, yang saya ketahui kemarin, tepat menjelang penerbitan karya terakhirnya."
Archer bukan sekadar fenomena penerbitan. Sepanjang lima dekade karier menulisnya, ia menjual lebih dari 300 juta buku—angka yang menempatkannya di jajaran penulis paling laris abad ini. Novel-novelnya seperti Kane and Abel dan seri Clifton Chronicles kerap mengambil latar kota kelahirannya, Wellington, Somerset. Namun, reputasinya sebagai penulis bestseller selalu berjalan seiring dengan bayang-bayang skandal hukum yang membuat namanya dua kali masuk berita utama: pertama sebagai politikus yang dihormati, kemudian sebagai terpidana kasus sumpah palsu.
Lahir di London utara pada 1940, Archer menempuh jalur politik setelah pindah ke Somerset. Pada 1969, ia terpilih sebagai anggota parlemen untuk daerah pemilihan Louth di Lincolnshire. Lima tahun kemudian, ia diangkat menjadi wakil ketua Partai Konservatif, dan pada 1992 ia mendapat gelar bangsawan sebagai Baron Archer of Weston-super-Mare, yang memberinya kursi di House of Lords. Namun, puncak karier politiknya runtuh pada 2001 ketika pengadilan menyatakan ia bersalah karena memberikan kesaksian palsu dalam gugatan libel yang ia ajukan terhadap Daily Star. Surat kabar itu menuduhnya tidur dengan seorang pekerja seks, dan Archer awalnya memenangkan ganti rugi £500.000. Namun, penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa ia meminta seorang teman memberikan alibi palsu dan memalsukan entri buku harian untuk mendukung ceritanya. Ia dihukum empat tahun penjara dan dibebaskan pada 2003.
Meski demikian, Archer tidak sepenuhnya tersingkir dari panggung publik. Ia kembali ke House of Lords hingga pensiun pada 2024. Partai Konservatif pun memberikan penghormatan terakhir. Ketua Partai Konservatif Kemi Badenoch menyebut kepergian Archer sebagai 'berita yang menghancurkan', dan mengungkapkan bahwa Archer sempat mengiriminya pesan teks pada Senin pagi. 'Dia sangat dicintai oleh keluarga besar Konservatif,' ujar Badenoch kepada BBC. 'Saya senang bisa menemuinya belum lama ini. Dia telah menjalani hukumannya, menebus kesalahannya, dan ingin berbuat banyak kebaikan di dunia.'
Mantan Perdana Menteri Konservatif Sir John Major mengenang Archer sebagai 'sosok yang menjalani salah satu kehidupan paling luar biasa di zaman kita'. Sementara itu, penyiar Gyles Brandreth, yang berada bersama Archer pada Minggu malam, mengatakan bahwa penulis itu tampil prima dalam sebuah acara di West End London untuk merayakan peluncuran bukunya. 'Dia tidak mengakui banyak perubahan sejak keluar dari penjara, tapi saya pikir dia menjadi pribadi yang lebih baik, lebih lembut, setelah pengalaman itu,' kata Brandreth.
Bagi Indonesia, kisah Archer menawarkan cermin tentang bagaimana publik memisahkan karya dari rekam jejak pribadi. Di tengah industri penerbitan nasional yang tengah bergulat dengan tantangan digital dan pasar yang mengecil, fenomena Archer—penulis yang tetap dicintai meski pernah dipenjara—mengingatkan bahwa loyalitas pembaca sering kali dibangun oleh kekuatan cerita, bukan kesempurnaan moral penulisnya. Penerbit di Indonesia yang tengah mencari formula untuk bertahan mungkin bisa belajar dari panjangnya napas karier Archer: konsistensi menghasilkan karya, bahkan ketika badai menerpa.
Archer meninggalkan istrinya, Mary, yang telah dinikahinya selama 60 tahun, dua putra, dan lima cucu. Ia dijadwalkan menghadiri Cheltenham Literature Festival pada Sabtu ini untuk membahas novel terakhirnya. Kini, pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang kontroversi yang pernah membelenggunya, melainkan tentang warisan sastra yang ia tinggalkan—dan apakah generasi pembaca baru akan mengenangnya sebagai penulis ulung atau sebagai tokoh yang hidupnya sendiri lebih dramatis dari fiksinya.



