Kabut Asap Lumpuhkan Penerbangan di Singkawang: 126 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan
Baca dalam 60 detik
- Seluruh jadwal penerbangan domestik dari Bandara Singkawang di Kalimantan Barat dibatalkan Sabtu (22/8) akibat jarak pandang yang jatuh di bawah ambang aman.
- Pemantauan satelit NASA mencatat 126 titik panas berkategori tinggi di tiga provinsi Kalimantan, memicu peringatan kualitas udara tidak sehat di sejumlah wilayah.
- Polda Kalimantan Tengah telah menetapkan 12 tersangka kasus karhutla, menandakan langkah hukum berjalan paralel dengan upaya pemadaman darat dan udara.

Seluruh penerbangan dari Bandara Singkawang, Kalimantan Barat, terpaksa dihentikan pada Sabtu (22/8) setelah kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menurunkan jarak pandang di bawah batas aman. Keputusan ini diumumkan langsung oleh pihak bandara melalui akun Instagram resminya, yang menegaskan bahwa keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama dan meminta calon penumpang menghubungi maskapai masing-masing untuk informasi lanjutan.
Singkawang, kota di pesisir barat Pulau Borneo yang berjarak sekitar 145 kilometer dari Pontianak, menjadi wilayah terbaru yang terdampak parah karhutla. Padahal, sebelumnya Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan peringatan pada Jumat (21/8) mengenai potensi gangguan operasional penerbangan di sejumlah bandara Kalimantan akibat asap. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa visibilitas merupakan faktor krusial dalam keselamatan penerbangan; ketika jarak pandang turun di bawah batas operasional, maskapai wajib menyesuaikan jadwal, mengalihkan rute, atau membatalkan penerbangan.
Data satelit NASA Terra/Aqua yang dirilis Kementerian Perhubungan menunjukkan 126 titik panas dengan tingkat keyakinan tinggi tersebar di Kalimantan Tengah (56 titik), Kalimantan Barat (51 titik), dan Kalimantan Selatan (19 titik) per Jumat pukul 21.30 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan kualitas udara di sebagian Kalimantan Barat dan Tengah masuk kategori sangat tidak sehat, yang berisiko memicu gangguan pernapasan bagi masyarakat.
Upaya pemadaman terus digencarkan melalui operasi darat dan udara, termasuk water bombing, sementara modifikasi cuaca telah disiapkan dan akan dieksekusi jika kondisi awan memungkinkan. Di sisi lain, langkah hukum juga berjalan: Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah telah menetapkan sekitar 12 tersangka dalam kasus karhutla hingga pertengahan Agustus. Kapolda Kalteng, Inspektur Jenderal Iwan Kurniawan, menyatakan bahwa seluruh titik api di wilayahnya sedang diselidiki untuk mengungkap penyebab dan pihak yang bertanggung jawab.
Bagi Indonesia, bencana asap lintas batas ini bukan sekadar masalah domestik. Pola karhutla yang berulang setiap musim kemarau menimbulkan kerugian ekonomi besar, mengganggu kesehatan masyarakat, dan memicu ketegangan diplomatik dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Pertanyaan yang menggantung: akankah penegakan hukum yang lebih tegas dan teknologi modifikasi cuaca mampu memutus siklus tahunan ini, atau justru kian memperdalam krisis lingkungan yang berkepanjangan?



