Mobil Terbakar di Toa Payoh: Kerumunan Anak Sekolah Justru Menonton, Ini Imbauan SCDF
Baca dalam 60 detik
- Insiden kebakaran mobil di Toa Payoh, Singapura, Jumat malam, memicu kerumunan warga, termasuk anak-anak yang masih berseragam sekolah.
- SCDF memastikan tidak ada korban jiwa, namun penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan; video amatir memperlihatkan percikan api dan asap tebal.
- Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya edukasi keselamatan kebakaran bagi masyarakat, termasuk di Indonesia yang kerap menghadapi risiko serupa.

Sebuah mobil terbakar di area parkir terbuka Blok 148 Lorong 1 Toa Payoh, Singapura, Jumat (21/8) sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Peristiwa itu bukan hanya menarik perhatian petugas pemadam, tetapi juga memicu kerumunan warga, termasuk anak-anak yang masih mengenakan seragam sekolah. Mereka tampak penasaran menyaksikan kobaran api yang melahap bagian mesin kendaraan, sebuah pemandangan yang sayangnya justru berbahaya jika didekati.
Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) yang tiba di lokasi langsung menjinakkan api dengan semprotan air. Beruntung, tidak ada korban luka dalam insiden ini. Namun, penyebab kebakaran masih menjadi misteri dan tengah diselidiki lebih lanjut oleh otoritas setempat. Video yang diunggah akun TikTok @doublebubble.co memperlihatkan percikan api beterbangan dan kepulan asap tebal dari kap mesin, sementara suara anak menangis terdengar di latar belakang.
Yang menarik, alih-alih menjauh, banyak warga justru bertahan untuk menyaksikan kejadian tersebut. Seorang pria berbaju hijau sempat berupaya memadamkan api dengan alat pemadam ringan, tetapi upaya itu tampak sia-sia. Komentar netizen pun beragam, mulai dari yang menyindir banyak orang seolah belum pernah melihat kebakaran, hingga yang menyoroti reaksi anak-anak yang bertepuk tangan seolah merayakan sesuatu.
Fenomena ini menggarisbawahi rendahnya kesadaran akan bahaya kebakaran kendaraan. SCDF dalam buku panduan daruratnya menegaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah menjauh dari kendaraan yang terbakar dan menunggu bantuan petugas. Masyarakat juga diimbau untuk memperingatkan pengguna jalan lain dan menjaga jarak aman dari lokasi kejadian.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin pentingnya edukasi kebakaran sejak dini. Di banyak kota besar, kebakaran kendaraan kerap terjadi, baik akibat korsleting listrik, kebocoran bahan bakar, maupun faktor teknis lainnya. Namun, respons masyarakat seringkali justru berkumpul untuk menonton, bukan menjauh. Padahal, risiko ledakan dan asap beracun sangat nyata.
Pakar keselamatan transportasi menilai bahwa budaya menonton saat terjadi insiden berbahaya perlu diubah. โMasyarakat harus paham bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Mendekati area kebakaran hanya akan membahayakan diri sendiri dan menghambat petugas,โ ujar seorang analis keselamatan yang enggan disebut namanya. Ia juga menyoroti peran orang tua dalam mengawasi anak-anak agar tidak meniru perilaku berisiko.
Ke depan, insiden di Toa Payoh ini bisa menjadi momentum bagi otoritas di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk memperkuat kampanye keselamatan kebakaran. Apakah edukasi yang masif akan mampu mengubah perilaku masyarakat yang cenderung abai terhadap bahaya? Atau justru diperlukan regulasi yang lebih tegas untuk mencegah warga mendekati lokasi kebakaran? Pertanyaan ini layak menjadi bahan refleksi bersama.



