Konservatif Inggris Yakin Menang Pemilu, tapi Elektabilitas Masih Tertinggal
Baca dalam 60 detik
- Partai Konservatif Inggris mengklaim siap memenangkan pemilu berikutnya meski tertinggal dari Partai Buruh dan Reform UK dalam survei terbaru.
- Popularitas pribadi pemimpin Kemi Badenoch meningkat, tetapi belum menular ke partainya yang masih dianggap usang dan terpecah.
- Strategi utama mereka adalah memanfaatkan posisi sebagai partai paling tidak dibenci untuk menarik suara taktis dan mengalahkan Buruh.

Partai Konservatif Inggris menggelar konferensi tahunan di Birmingham dengan nada optimistis yang mengejutkan, meski baru saja tersingkir dari kekuasaan pada 2024. Sejumlah tokoh senior, termasuk pemimpin Kemi Badenoch, secara terbuka membicarakan peluang memenangkan pemilihan umum berikutnya dan membentuk pemerintahan sendiri. Keyakinan ini muncul di tengah survei yang menunjukkan partai tersebut justru berpotensi tampil lebih buruk jika pemilu digelar besok.
Optimisme itu setidaknya didorong oleh dua faktor. Pertama, ancaman Partai Reform UK yang sebelumnya dikhawatirkan akan menelan atau menghancurkan Konservatif kini tampak mereda, meski rumor pembelotan dan kesepakatan dengan Nigel Farage sempat mencuat tahun lalu. Kedua, sosok Badenoch dinilai mulai menarik simpati publik. Lembaga jajak pendapat More In Common mencatat tingkat persetujuan Badenoch melonjak dalam beberapa bulan terakhir, menjadikannya satu dari hanya dua pemimpin partai dengan rating positif bersihโsatunya lagi Perdana Menteri Andy Burnham.
Dalam presentasi di sebuah pertemuan sayap partai yang penuh sesak, analis More In Common, Luke Tryl, mengungkapkan bahwa kelompok fokus melihat Badenoch sebagai "angin segar". Banyak pemilih kanan menilainya berani "berkata apa adanya". Penampilannya yang tajam di sesi tanya jawab Perdana Menteri juga meninggalkan kesan kuat, dengan pujian seperti "cerdas", "profesional", dan "berprinsip". Namun, Tryl mengingatkan bahwa popularitas pribadi Badenoch belum menular ke partainya, yang masih dicap "usang" dan "terpecah".
Masalah utama yang diakui secara terbuka oleh petinggi Konservatif adalah rendahnya kepercayaan publik. Selama 14 tahun berkuasa, partai ini dianggap gagal menyelesaikan persoalan yang kini mereka angkat kembali. Ketua Partai Konservatif, Kevin Hollinrake, mengakui, "Tentu, Kemi lebih populer dari kami. Orang percaya pada Kemi, tapi tidak pada partai. Itu intinya." Badenoch merespons dengan narasi bahwa partai kini berada di bawah manajemen baru. Ia meninggalkan retorika perang budaya dan fokus pada ekonomi, serta menegaskan prinsip-prinsip Konservatisme klasik.
"Kami sedang bersiap menghadapi pemilu sekarang. Kami yakin bisa menang secara mutlak." โ Alex Burghart, wakil pemimpin Partai Konservatif
Meski begitu, Hollinrake memberikan catatan hati-hati. "Kami belum berada di posisi yang kami butuhkan. Kami tidak ingin pemilu sekarang. Idealnya, pemilu datang jauh di kemudian hari." Namun, wakil pemimpin Alex Burghart menegaskan partainya berupaya keras agar siap menghadapi pemilu mendadak. Ia mengklaim Konservatif lebih bersatu daripada periode mana pun dalam sejarah terkini, kecuali setelah kemenangan Boris Johnson pada 2019.
Tantangan berikutnya, menurut mantan pemimpin Konservatif Skotlandia, Ruth Davidson, adalah menjadi salah satu dari dua partai teratas. Pada titik itu, pemilih yang ingin menyingkirkan Partai Buruh akan mulai beralih ke Konservatif dalam jumlah signifikan. Suara taktis diprediksi menjadi kunci, dengan banyak orang memilih untuk mencegah partai tertentu berkuasa ketimbang mendukung yang mereka inginkan. Konservatif merasa memiliki keunggulan di sini. Hollinrake bahkan menyatakan, "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Partai Konservatif adalah partai politik yang paling tidak dibenci di negara ini." Pernyataan itu disambut tawa dan tepuk tangan, meski bukan seruan kampanye yang menggugah, setidaknya mencerminkan realitas politik saat ini.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah strategi berbasis "paling tidak dibenci" dan popularitas personal Badenoch cukup untuk mengubah peta elektoral. Dengan lanskap politik yang terfragmentasi, Konservatif harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar partai yang bertahan, melainkan benar-benar mampu kembali merebut kepercayaan publik. Jika tidak, klaim kemenangan mutlak hanya akan menjadi gema di aula konferensi, bukan kenyataan di bilik suara.


