Anutin Pulang ke Thailand Usai Temui Diaspora di Auckland, Langsung Tangani Banjir Nan
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menuntaskan kunjungan resminya ke Australia dan Selandia Baru dengan bertemu komunitas Thai di Auckland, sebelum kembali ke Bangkok untuk memimpin respons banjir di Provinsi Nan.
- Dalam pertemuan itu, Anutin menegaskan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan warga di luar negeri, termasuk perluasan lapangan kerja dan perlindungan hak buruh migran.
- Kunjungan ini juga menyoroti rencana Thai Airways membuka kembali rute langsung Bangkok–Auckland pada Maret 2027, yang diharapkan memperkuat konektivitas dan kerja sama ekonomi di kawasan.

Perdana Menteri Thailand sekaligus Menteri Dalam Negeri, Anutin Charnvirakul, mengakhiri rangkaian kunjungan resminya ke Australia dan Selandia Baru dengan bertemu komunitas diaspora Thailand di Auckland, Sabtu (22/8) pagi. Ia langsung terbang pulang untuk memimpin penanganan banjir di Provinsi Nan, Thailand utara.
Pertemuan yang digelar di Park Hyatt Auckland pukul 08.30 waktu setempat itu dihadiri lebih dari 100 warga Thailand, termasuk delegasi biksu yang dipimpin Kepala Biara Wat Yanprateep Selandia Baru, Phra Ratchaworanyanmuni, serta pengusaha dan warga setempat. Dalam sambutannya, Anutin memuji ketangguhan komunitas ekspatriat Thailand dan menegaskan bahwa pemerintahnya berkomitmen meningkatkan kesejahteraan seluruh warga, di mana pun mereka berada.
"Setiap warga adalah pemberi kerja bagi pemerintah," ujar Anutin. "Tugas pemerintah adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menciptakan sebanyak mungkin peluang bagi rakyat." Pernyataan ini menegaskan orientasi pemerintah Thailand yang berfokus pada pelayanan publik, termasuk bagi warganya yang bekerja di luar negeri.
Dalam kesempatan itu, Anutin juga memaparkan hasil pembicaraan bilateral dengan pemimpin Australia dan Selandia Baru. Ia menyebut diskusi berjalan positif di sektor perdagangan, energi bersih, pertanian, pendidikan, dan investasi asing langsung. Para peserta menyambut baik rencana Thai Airways untuk mengaktifkan kembali rute non-stop Bangkok–Auckland pada Maret 2027, yang dinilai akan meningkatkan konektivitas regional serta mendorong sektor pariwisata dan perdagangan.
Menanggapi masukan para pekerja migran, Anutin berjanji akan bekerja sama dengan otoritas Selandia Baru untuk memperluas kesempatan kerja dan melindungi hak-hak buruh Thailand di luar negeri. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah Thailand dalam menjaga kesejahteraan tenaga kerja migrannya, yang jumlahnya signifikan di kawasan Asia-Pasifik.
Setelah acara, delegasi Thailand meninggalkan Bandara Auckland pukul 11.00 waktu setempat. Pejabat yang melepas antara lain Deputi Sekretaris Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru, Taha Macpherson; Duta Besar Selandia Baru untuk Thailand, Raylene Siale Tagaloa Liufalani; dan Duta Besar Thailand untuk Wellington, Mongkol Wisitstump. Juru bicara pemerintah, Ratchada Thanadirek, mengonfirmasi pesawat PM dijadwalkan mendarat di Terminal 2 Militer (Wing 6) Bangkok sekitar pukul 19.45.
Kunjungan ini memiliki relevansi bagi Indonesia, yang juga memiliki banyak pekerja migran di Selandia Baru dan Australia. Pola pendekatan Thailand dalam melibatkan diaspora dan memperjuangkan hak buruh bisa menjadi pelajaran berharga. Selain itu, rencana Thai Airways membuka rute langsung ke Auckland menunjukkan tren pemulihan konektivitas udara pasca-pandemi, yang juga berdampak pada persaingan maskapai di kawasan, termasuk dengan maskapai Indonesia.
Setibanya di Bangkok, Anutin dijadwalkan terbang ke Provinsi Nan pada Minggu (23/8) untuk memimpin operasi pemantauan banjir, memeriksa infrastruktur yang rusak, dan mengoordinasikan bantuan darurat bagi warga. Banjir di Thailand utara kerap menjadi masalah musiman yang membutuhkan respons cepat. Pertanyaannya, apakah langkah Anutin ini cukup untuk meredam dampak banjir dan memulihkan kepercayaan publik terhadap pemerintah? Ke depan, efektivitas penanganan bencana akan menjadi ujian bagi kepemimpinan Anutin, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.



