90 Tahun Diaspora Jepang di Paraguay: Pangeran Fumihito Puji Peran Perantau sebagai Jembatan Dua Negara
Baca dalam 60 detik
- Pangeran Fumihito dan Putri Kiko menghadiri peringatan 90 tahun imigrasi Jepang ke Paraguay, memuji kontribusi diaspora dalam mempererat hubungan bilateral.
- Acara yang dihadiri Presiden Santiago Pena ini menyoroti peran penting komunitas Jepang di sektor pertanian, pendidikan, dan sosial, sekaligus menegaskan identitas multikultural Paraguay.
- Kunjungan ini merupakan yang kedua kalinya bagi Pangeran Fumihito ke Paraguay, setelah sebelumnya hadir pada peringatan 70 tahun imigrasi pada 2006, menandakan komitmen berkelanjutan Jepang terhadap warganya di luar negeri.

Pangeran Mahkota Jepang, Fumihito, bersama istrinya, Putri Kiko, menghadiri upacara peringatan 90 tahun imigrasi Jepang ke Paraguay di dekat Asuncion, Jumat (22/8). Dalam pidatonya, Pangeran Fumihito menyampaikan apresiasi mendalam atas peran para imigran dan keturunannya yang telah menjadi pilar hubungan erat antara Tokyo dan Asuncion.
Acara yang berlangsung di kawasan sekitar ibu kota Paraguay itu dihadiri sekitar 650 tamu, termasuk Presiden Santiago Pena beserta istri. Kehadiran keluarga kekaisaran Jepang ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol pengakuan atas perjalanan panjang diaspora Jepang yang telah mengakar kuat di negeri Amerika Selatan tersebut sejak dekade 1930-an.
Pangeran Fumihito, adik dari Kaisar Naruhito, menggarisbawahi bahwa hubungan bilateral yang erat saat ini tidak lepas dari dedikasi para imigran Jepang dan generasi penerusnya. Ia berharap komunitas tersebut terus berperan sebagai jembatan penghubung kedua negara. Sementara itu, Presiden Pena menyampaikan terima kasih atas kontribusi komunitas Jepang di bidang pertanian, pendidikan, dan kemasyarakatan, yang dinilainya memperkaya identitas multikultural Paraguay.
Sebelum upacara, pasangan kekaisaran itu meletakkan bunga di monumen peringatan bagi para pemukim yang telah wafat. Mereka juga berdialog dengan anggota komunitas Jepang yang kini diperkirakan berjumlah sekitar 10.000 jiwa. Salah satu sesepuh komunitas, Ikuko Matsumiya, 87 tahun, yang hijrah dari Prefektur Tochigi pada 1956, mengaku terharu dengan perhatian keluarga kekaisaran yang selalu hadir di setiap tonggak sejarah. โSungguh membesarkan hati bahwa anggota keluarga kekaisaran selalu datang di setiap momen penting,โ ujarnya.
Gelombang pertama imigran Jepang tiba di Paraguay pada 1936, dengan 81 orang dari 11 keluarga yang mendirikan permukiman di La Colmena, kawasan tengah-selatan negara itu. Sejak saat itu, komunitas Jepang tumbuh dan berkontribusi nyata, terutama dalam modernisasi pertanian dan penguatan sektor pendidikan. Kunjungan Pangeran Fumihito kali ini merupakan yang kedua setelah sebelumnya hadir pada peringatan 70 tahun imigrasi pada 2006.
Bagi Indonesia, kisah diaspora Jepang di Paraguay menawarkan refleksi menarik tentang bagaimana komunitas perantau dapat menjadi aset diplomatik dan ekonomi. Di tengah meningkatnya mobilitas tenaga kerja dan pelajar Indonesia ke luar negeri, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa pengakuan negara asal terhadap warganya di perantauan dapat memperkuat jejaring global dan citra positif di mata internasional. Momentum seperti ini juga mengingatkan bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun di atas meja perundingan, tetapi juga melalui ikatan kemanusiaan yang tumbuh dari generasi ke generasi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana Jepang dan Paraguay akan menerjemahkan semangat peringatan ini ke dalam kerja sama yang lebih konkret, terutama di bidang ekonomi digital dan ketahanan pangan. Sementara itu, bagi komunitas Jepang di Paraguay, perhatian dari keluarga kekaisaran menjadi pengingat bahwa mereka tidak pernah berjalan sendiriโada tanah air yang selalu mengawasi dan mendukung dari kejauhan.



