Harry Kane Samai Rekor 125 Caps Inggris, Bayang-bayangi Ballon d'Or Pertama
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane menorehkan penampilan ke-125 untuk Timnas Inggris, menyamai rekor legendaris Peter Shilton.
- Dengan 89 gol internasional dan performa tajam di Bayern Munich, Kane kini kandidat kuat Ballon d'Or 2026.
- Rekor caps ini menegaskan konsistensi Kane di level tertinggi, namun trofi mayor bersama Inggris masih menjadi tanda tanya.

Penyerang Bayern Munich, Harry Kane, resmi menyamai rekor penampilan terbanyak Timnas Inggris setelah turun sebagai starter pada laga UEFA Nations League melawan Ceko, Selasa (14/10/2025). Caps ke-125 itu menempatkannya sejajar dengan kiper legendaris Peter Shilton, sebuah pencapaian yang menegaskan posisinya sebagai salah satu pesepak bola Inggris paling konsisten di era modern.
Kane, yang sudah menyandang status top skor sepanjang masa Inggris dengan 89 gol sebelum kick-off, kini berbagi rekor caps. Debutnya terjadi pada Maret 2015 melawan Lituania, di mana ia langsung mencetak gol beberapa menit setelah masuk sebagai pengganti dalam kemenangan 4-0. Sejak itu, ia tampil di enam turnamen besar, dua final Piala Eropa, dua semifinal Piala Dunia, dan meraih Sepatu Emas di Piala Dunia 2018 Rusia.
Pencapaian ini bukan sekadar angka. Di usia 32 tahun, Kane menunjukkan bahwa ketajamannya belum menurun. Bersama Bayern, ia menjelma menjadi mesin gol yang tak hanya bergantung pada insting di kotak penalti, tetapi juga kemampuan membangun serangan. Musim ini, ia telah mengoleksi 10 gol dari 10 pertandingan untuk klub dan negara, serta total 73 gol sepanjang tahun kalender 2025/26—sebuah statistik yang membuatnya masuk bursa Ballon d'Or untuk pertama kalinya.
"Rekor individu adalah buah dari kerja keras dan konsistensi, tetapi trofi kolektif tetap prioritas utama," ujar Kane dalam wawancara terpisah, seperti dikutip Bundesliga.com.
Meski demikian, bayang-bayang kegagalan Inggris di turnamen besar masih menghantui. Dua final Euro dan dua semifinal Piala Dunia berakhir tanpa gelar. Bagi Kane, rekor caps ini bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi ia diakui sebagai legenda, di sisi lain tuntutan untuk mempersembahkan trofi mayor semakin membebani. Publik Inggris, yang haus prestasi sejak Piala Dunia 1966, tentu berharap Kane dapat memimpin generasi emas saat ini menuju puncak.
Dari kacamata taktik, peran Kane di Bayern di bawah asuhan pelatih baru terus berkembang. Ia tidak lagi sekadar finisher, melainkan juga kreator dengan visi passing dan kemampuan menahan bola. Fleksibilitas ini membuatnya tetap relevan di sepak bola modern yang menuntut penyerang serba bisa. Kehadirannya di lini depan Bayern memberikan dimensi berbeda, terutama dalam membuka ruang bagi rekan-rekan seperti Jamal Musiala dan Leroy Sané.
Kembalinya Kane ke Jerman untuk menghadapi Augsburg pada Matchday 5 Bundesliga akhir pekan ini akan menjadi ujian berikutnya. Laga tersebut bisa menjadi panggung bagi Kane untuk menambah koleksi golnya sekaligus menjaga momentum menuju penghargaan individu bergengsi. Jika ia mampu mempertahankan performa, bukan tidak mungkin Ballon d'Or pertama akan menghampirinya—sebuah pengakuan yang selama ini luput dari pesepak bola Inggris sejak Michael Owen pada 2001.
Pertanyaannya, apakah rekor caps ini akan menjadi puncak karier Kane, atau justru batu loncatan menuju warisan yang lebih lengkap? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, saat kompetisi klub dan tim nasional kembali bergulir.



