Frimpong di Ambang Pintu Keluar Liverpool: Kesalahan Terburuk Era Richard Hughes?
Baca dalam 60 detik
- Jeremie Frimpong dilaporkan siap hengkang dari Liverpool setelah hanya satu musim, dengan Barcelona disebut sebagai tujuan potensial.
- Rekrutan senilai hampir £30 juta itu kesulitan menembus starting XI, kalah bersaing dari pemain pinjaman Ronald Araujo.
- Penjualan cepat ini memicu pertanyaan besar tentang strategi transfer Richard Hughes yang akan segera meninggalkan Anfield.

Liverpool dikabarkan siap melepas Jeremie Frimpong pada jendela transfer berikutnya, hanya setahun setelah mendatangkannya dari Bayer Leverkusen. Bek kanan asal Belanda itu disebut-sebut masuk radar Barcelona, dengan harga sekitar £35 juta. Jika terwujud, ini akan menjadi penjualan tercepat bagi pemain yang baru direkrut dengan biaya hampir £30 juta—sebuah indikasi kuat bahwa eksperimen Frimpong di Anfield telah gagal.
Frimpong tiba pada musim panas 2024 dengan reputasi mengkilap. Ia merupakan bagian dari skuad Leverkusen yang mencatatkan musim tak terkalahkan di Bundesliga di bawah asuhan Xabi Alonso, tampil sebagai wing-back eksplosif yang konstan mengancam pertahanan lawan. Namun, sejak mengenakan seragam merah Liverpool, performanya jauh dari ekspektasi. Manajer Arne Slot—yang kemudian digantikan Andoni Iraola—lebih memilih opsi lain di posisi bek kanan, bahkan rela menempatkan bek tengah Ronald Araujo sebagai pengganti sementara.
Data menunjukkan Frimpong kesulitan beradaptasi dengan tuntutan Premier League. Ia tercatat hanya menyumbang empat gol dan assist, serta rata-rata dilewati lawan satu kali per pertandingan. Dengan gaji dilaporkan mencapai £100 ribu per pekan, kontribusinya dinilai tidak sepadan. Gaya bermainnya yang menyerang tetapi tidak cukup tajam sebagai winger, serta kurang solid sebagai full-back tradisional, membuatnya sulit menemukan peran ideal dalam skema Liverpool.
Kegagalan Frimpong bukan sekadar masalah individu. Ini menjadi sorotan terhadap warisan Richard Hughes, direktur sepak bola yang akan meninggalkan klub untuk bergabung dengan Al Hilal. Hughes dikenal agresif dalam belanja besar—tiga rekrutan senilai lebih dari £100 juta dalam setahun terakhir—tetapi beberapa keputusannya meninggalkan lubang di skuad. Posisi bek kanan menjadi contoh paling jelas: setelah kepergian Trent Alexander-Arnold dan cedera Conor Bradley, tidak ada pelapis mumpuni. Alih-alih memberi Frimpong kesempatan, manajemen memilih solusi darurat.
"Frimpong tidak cukup menyerang untuk dianggap winger, dan tidak cukup defensif untuk menjadi full-back tradisional. Saat ini ia seperti pemain cadangan yang tak terpakai," tulis analisis Football FanCast.
Bagi Liverpool, menjual Frimpong secepat ini adalah pengakuan atas kesalahan rekrutmen. Klub ingin memangkas kerugian dan membuka ruang untuk perbaikan skuad. Namun, langkah ini juga menimbulkan pertanyaan: mengapa Hughes dan timnya tidak melakukan riset lebih mendalam sebelum mengeluarkan dana besar? Apakah tekanan untuk segera bersaing di era pasca-Klopp membuat mereka terburu-buru?
Dari kacamata Indonesia, kasus Frimpong menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya due diligence dalam transfer. Klub-klub Liga 1 yang semakin aktif mendatangkan pemain asing bisa belajar bahwa reputasi di liga lain belum tentu menjamin sukses di lingkungan baru. Adaptasi taktik, budaya, dan ekspektasi menjadi faktor penentu. Liverpool, dengan sumber daya melimpah, saja bisa salah langkah; apalagi klub dengan anggaran terbatas.
Ke depan, masa depan Frimpong di Barcelona—jika benar terwujud—akan menjadi ujian apakah ia mampu bangkit atau justru tenggelam lebih dalam. Sementara itu, Liverpool harus memastikan bahwa penggantinya nanti benar-benar cocok dengan gaya bermain Iraola. Bagi Hughes, ini bisa menjadi noda terakhir sebelum ia meninggalkan Anfield. Akankah Liverpool belajar dari kesalahan ini, atau justru mengulanginya di bursa transfer berikutnya?



