Buaya Muara Muncul di Waduk Pandan Singapura: Aktivitas Air Dihentikan, Warga Tenang
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Singapura menangguhkan seluruh aktivitas air di Pandan Reservoir setelah penampakan buaya muara, spesies buaya terbesar di dunia.
- Warga sekitar dan pengunjung cenderung bersikap santai, menganggap buaya tersebut bukan ancaman serius selama tidak diganggu.
- Operasi pencarian dan penangkapan masih berlangsung, sementara PUB mengimbau masyarakat untuk waspada dan melaporkan jika melihat buaya.

Penampakan seekor buaya muara di Pandan Reservoir, Singapura, pada Kamis (20/8) memaksa otoritas setempat menangguhkan seluruh aktivitas air di waduk tersebut. Badan air nasional PUB bersama National Parks Board (NParks) kini tengah melakukan operasi pencarian dan penangkapan untuk mengamankan reptil raksasa itu.
Keputusan ini diambil setelah PUB menerima laporan sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Berdasarkan foto yang diterima, buaya tersebut diidentifikasi sebagai buaya muara (Crocodylus porosus), spesies yang menurut situs Animal and Veterinary Service dapat mencapai panjang 6 hingga 7 meter. Aktivitas yang ditangguhkan mencakup sesi latihan Singapore Rowing Association dan Singapore Canoe Federation, dua organisasi yang rutin memanfaatkan waduk tersebut.
Penutupan ini tentu mengganggu rutinitas atlet dayung. Juru bicara Singapore Rowing Association mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengalihkan latihan ke dalam ruangan sebagai langkah antisipasi. "Kami menyarankan seluruh anggota untuk mematuhi larangan dan menjauh dari tepi waduk hingga PUB memastikan kondisi aman," ujarnya. Sementara itu, Singapore Canoe Federation telah menginstruksikan afiliasinya untuk menghentikan semua kegiatan air di Pandan Reservoir sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Menariknya, respons warga sekitar justru jauh lebih tenang. Saat Channel NewsAsia (CNA) menelusuri area waduk pada Jumat pagi, suasana tampak biasa saja. Seorang pensiunan bernama Ng, 70 tahun, bahkan sengaja bersepeda ke waduk untuk mencoba melihat buaya tersebut, meski akhirnya kecewa karena tidak menemukannya. "Hanya satu buaya, tapi dilarang sampai seperti itu," ujarnya dalam bahasa Mandarin, merujuk pada penghentian aktivitas air.
Pensiunan lain, Andrew, yang rutin berjalan kaki di sekitar waduk, mengaku baru mengetahui penampakan itu dari temannya. "Tidak ada yang istimewa. Buaya itu di air, saya tidak akan masuk ke air. Kalau di darat, saya bisa lari lebih cepat darinya," katanya dengan santai. Senada, Mohd Shairunizam (45), warga yang kerap berkunjung, mengaku baru pertama kali mendengar adanya buaya di waduk tersebut. "Biasanya yang sering terlihat adalah biawak. Kadang saat berenang, mirip buaya. Tapi kalau dilihat lebih dekat, ternyata biawak. Untuk penampakan buaya ini, saya rasa ini hal baru," tuturnya.
Bagi Zhu De Tao, mahasiswa asal China yang baru pindah ke Singapura beberapa hari lalu, kabar ini tidak membuatnya khawatir. "Di China ada aligator di Sungai Yangtze, tapi biasanya kecil. Mungkin saya hanya akan berfoto dan mengunggahnya di TikTok," ujarnya. Sikap tenang ini kontras dengan kekhawatiran yang mungkin muncul di negara lain, termasuk Indonesia, di mana interaksi manusia dengan buaya seringkali berujung konflik.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan konflik manusia-satwa liar. Di beberapa daerah seperti Kalimantan dan Sumatra, kemunculan buaya di permukiman kerap memicu kepanikan dan bahkan korban jiwa. Pendekatan Singapura yang mengedepankan koordinasi antar lembaga dan komunikasi publik yang transparan bisa menjadi pelajaran berharga. Namun, perbedaan konteks geografis dan sosial membuat penanganan di Indonesia memerlukan strategi yang lebih adaptif.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian masih berlangsung. PUB mengimbau masyarakat yang melihat buaya untuk tetap tenang, mundur perlahan, dan tidak mendekati, memprovokasi, atau memberi makan hewan tersebut. Pertanyaannya, apakah buaya ini akan tertangkap dalam waktu dekat, atau justru akan menjadi penghuni tetap waduk yang menambah daftar fauna liar di Singapura? Yang jelas, kewaspadaan tetap diperlukan, meski warga setempat tampak tidak terlalu terusik.



