Ketegangan Jepang-Rusia Memuncak: Uji Rudal di Kepulauan Kuril Picu Protes Resmi Tokyo
Baca dalam 60 detik
- Tokyo secara resmi menyampaikan protes atas rencana uji rudal Rusia di dekat Kepulauan Kuril yang disengketakan, menyusul kunjungan Putin.
- Angkatan Laut Rusia mengklaim telah meluncurkan rudal Vulkan, Granit, dan Oniks dalam latihan yang menargetkan kapal musuh simulasi.
- Para analis menilai langkah Putin bertujuan memberi sinyal keras kepada Jepang agar tidak memperdalam dukungannya ke Ukraina.

Tokyo, 22 Agustus 2026 — Jepang secara resmi melayangkan protes keras kepada Rusia setelah Moskow mengumumkan akan melakukan uji coba rudal di perairan sekitar Kepulauan Kuril, wilayah yang selama puluhan tahun menjadi sumber sengketa kedua negara. Langkah ini muncul hanya beberapa hari setelah Presiden Vladimir Putin melakukan kunjungan pertamanya ke kepulauan tersebut sejak 2010, sebuah sinyal yang langsung memicu reaksi diplomatik berlapis dari pemerintah Jepang.
Juru bicara pemerintah Jepang mengonfirmasi bahwa protes telah disampaikan melalui saluran diplomatik, menyusul notifikasi resmi dari Rusia mengenai rencana latihan militer tersebut. “Kami telah menyampaikan protes terkait pemberitahuan rencana uji coba rudal di dekat Kepulauan Kuril,” ujarnya kepada AFP. Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi, yang saat itu sedang berada di Oman, menegaskan bahwa penguatan militer Rusia di wilayah yang disebut Jepang sebagai Wilayah Utara itu “bertentangan dengan posisi Jepang dan tidak dapat diterima”.
Rusia, melalui Armada Pasifiknya, mengklaim telah melaksanakan uji tembak pada 20 Agustus, meskipun waktu pastinya tidak diungkapkan. Dalam pernyataan resmi, armada tersebut menyebutkan bahwa kapal penjelajah Varyag meluncurkan dua rudal anti-kapal Vulkan, kapal selam bertenaga nuklir Omsk menembakkan rudal jelajah Granit, dan sistem rudal pantai Bastion yang ditempatkan di Kepulauan Kuril melepaskan rudal Oniks. Sasaran latihan adalah kapal musuh simulasi yang berada pada jarak lebih dari 300 kilometer.
Ketegangan diplomatik ini bukanlah hal baru. Jepang dan Rusia telah lama berselisih mengenai status Kepulauan Kuril, yang direbut oleh Uni Soviet pada 1945 dan kemudian diadministrasikan oleh Moskow. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan bahwa kepulauan tersebut “merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah Jepang, baik secara historis maupun berdasarkan hukum internasional”. Namun, pernyataan tersebut tidak dihiraukan oleh Kremlin, yang bahkan membalas protes Jepang dengan memanggil duta besar Jepang di Moskow.
Kunjungan Putin ke pulau itu, yang dilakukan setelah mengunjungi Pulau Sakhalin di dekatnya, dinilai oleh para analis sebagai pesan terselubung kepada Jepang. Mereka memperkirakan langkah tersebut dimaksudkan untuk memperingatkan Tokyo agar tidak memperdalam dukungannya kepada Ukraina, termasuk potensi pengiriman rudal Patriot, serta untuk mencegah Jepang semakin dekat dengan NATO. Meskipun Jepang telah bergabung dengan negara-negara G-7 lainnya dalam menjatuhkan sanksi ke Moskow dan memberikan bantuan kepada Kyiv, Tokyo sejauh ini hanya memasok bantuan pertahanan non-letal. Jepang juga masih terikat aturan yang melarang pengiriman peralatan militer mematikan ke negara yang sedang berkonflik, meskipun telah melonggarkan pembatasan ekspor pertahanan dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara yang menganut politik bebas aktif, Indonesia perlu mencermati bagaimana ketegangan di kawasan Asia Timur dapat berdampak pada stabilitas regional dan rantai pasokan global. Selain itu, posisi Indonesia yang dekat dengan kedua negara, baik Jepang maupun Rusia, menuntut kebijakan luar negeri yang hati-hati agar tidak terjebak dalam pusaran konflik yang lebih luas. Eskalasi di Laut Okhotsk juga mengingatkan pada pentingnya menjaga keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik, di mana Indonesia memiliki kepentingan strategis.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana Moskow akan melanjutkan provokasi militernya di kawasan tersebut. Apakah uji rudal ini hanya sekadar unjuk kekuatan sesaat, atau merupakan awal dari peningkatan ketegangan yang lebih sistematis? Jepang, yang kini dipimpin oleh Takaichi, tampaknya tidak akan tinggal diam. Namun, dengan keterbatasan opsi diplomatik dan militer, Tokyo mungkin perlu mencari dukungan lebih luas dari sekutu-sekutunya, termasuk Amerika Serikat, untuk menyeimbangkan tekanan dari Rusia.



