Halle Berry Minta Hak Asuh 50/50 Dipulihkan, Olivier Martinez Tolak Mentah-mentah
Baca dalam 60 detik
- Halle Berry mengajukan permohonan ke pengadilan untuk mengembalikan kesepakatan hak asuh bersama 50/50 atas putranya, Maceo, yang kini berusia 12 tahun.
- Dalam dokumen pengadilan, Berry menuduh mantan suaminya, Olivier Martinez, telah membuat putra mereka bersikap bermusuhan terhadapnya dan mengabaikan kebutuhan pendidikan serta psikologis anak.
- Martinez menolak permohonan tersebut dan mengajukan perintah penahanan sementara, menuduh Berry melakukan kekerasan fisik terhadap Maceo.

Halle Berry kembali membawa perselisihan hak asuh anaknya dengan mantan suami, Olivier Martinez, ke meja hijau. Aktris Hollywood berusia 60 tahun itu secara resmi meminta pengadilan untuk mengembalikan kesepakatan hak asuh bersama 50/50 atas putra mereka, Maceo, yang kini berusia 12 tahun, seperti dilaporkan PEOPLE.
Permohonan Berry tidak sekadar soal pembagian waktu. Ia juga menuntut agar posisinya sebagai pihak yang berwenang mengambil keputusan akhir (tie-breaking authority) dipulihkan, serta meminta pengadilan mewajibkan Martinez menghadiri sesi terapi yang telah diperintahkan sebelumnya. Langkah ini menandai babak baru dalam konflik berkepanjangan yang telah berlangsung sejak perceraian mereka.
Dalam dokumen yang diajukan, Berry menguraikan sejumlah kekhawatiran utama. Ia mengklaim bahwa Martinez terus berupaya membuat Maceo memihak dirinya dan menentang ibunya. Akibatnya, setiap kali pulang dari rumah ayahnya, Maceo disebut datang dalam kondisi marah dan agresif. Berry bahkan menyebut butuh waktu dua hingga tiga hari bagi anaknya untuk kembali beradaptasi di rumahnya, sebelum siklus yang sama terulang saat Maceo kembali ke rumah Martinez.
"Ketika Maceo pulang dari waktu asuh bersama Olivier, dia akan marah dan mudah berkelahi. Butuh 2-3 hari bagi Maceo untuk menyesuaikan diri berada di rumah, dan ketika dia kembali ke Olivier, siklus itu akan dimulai lagi," tulis Berry dalam dokumen pengadilan.
Berry juga menyoroti pola komunikasi yang menurutnya tidak sehat. Ia mengklaim Maceo kerap mengulang perdebatan privat antara dirinya dan Martinez, serta mengambil posisi ayahnya. Bahkan, dalam beberapa keputusan penting terkait anak—seperti soal sepak bola, sekolah, atau terapi—Maceo sudah mengetahui hasilnya sebelum kedua orang tuanya mencapai kesepakatan. Hal ini, menurut Berry, menunjukkan bahwa Martinez tidak melibatkan dirinya dalam pengambilan keputusan.
Lebih jauh, Berry menuding Martinez menolak intervensi dini untuk kebutuhan pendidikan dan psikologis Maceo. Menurutnya, sikap tersebut membuat putra mereka semakin tertinggal di sekolah, perilakunya memburuk, dan hubungan antara Maceo dan ibunya semakin rusak. Berry juga tidak setuju dengan pandangan Martinez yang menganggap Maceo sudah "cukup umur" untuk membuat keputusan sendiri. Ia berpendapat, anak berusia sepuluh tahun tidak seharusnya diberi kewenangan menentukan pendidikan, kesehatan, dan aktivitasnya tanpa bimbingan orang tua.
Konflik ini juga menyeret nama tunangan Berry, Van Hunt. Berry mengklaim Martinez belum bisa menerima Hunt sebagai pasangan hidupnya, dan bahkan berupaya memengaruhi guru serta terapis Maceo dengan menyebarkan cerita palsu bahwa Berry adalah ancaman bagi anak mereka. Tuduhan ini menambah daftar panjang ketegangan antara kedua belah pihak.
Martinez tidak tinggal diam. Dalam responsnya, ia meminta pengadilan menolak seluruh permohonan Berry. Ia merujuk pada perintah penahanan sementara yang telah diajukan sebelumnya dan menegaskan adanya risiko "bahaya langsung" bagi Maceo. Dalam petisi tertanggal 1 Oktober, Martinez menuduh Berry menyebabkan "tekanan emosional dan mental" akibat kekerasan fisik terhadap anak mereka. Ia mengklaim Berry pernah mencekik leher Maceo sambil berteriak, "Siapa yang dominan sekarang?! Siapa yang dominan?!"
Menanggapi tuduhan tersebut, pengacara Berry, Marina Beck, memberikan pernyataan keras kepada Entertainment Weekly. Ia menyebut tindakan Martinez sebagai "perilaku keterlaluan" dan menegaskan bahwa berkas yang diajukan kliennya sama sekali tidak memiliki dasar hukum. Beck juga menuduh Martinez bersikap "tidak stabil" dan posesif, serta telah melanggar perintah pengadilan dan mengintervensi upaya terapi serta pendidikan Maceo.
"Untungnya, Halle sudah terbiasa dengan perilaku keterlaluan seperti ini dari Mr. Martinez. Meski sangat sedih, ia tidak akan membiarkan hal ini menghalanginya memperjuangkan kepentingan terbaik Maceo dan memberikan cinta serta dukungan yang ia butuhkan," ujar Beck.
Kasus ini menjadi cerminan betapa rumitnya sengketa hak asuh selebritas di mata publik. Bagi Berry, yang dikenal vokal soal isu kesehatan mental dan kekerasan dalam rumah tangga, pertarungan ini tidak hanya soal waktu bersama anak, tetapi juga reputasi dan kredibilitasnya sebagai ibu. Di sisi lain, Martinez berusaha membangun narasi bahwa ia melindungi putranya dari bahaya. Pengadilan kini dihadapkan pada dua versi yang saling bertolak belakang, dengan Maceo sebagai pihak yang paling rentan terdampak.
Pertanyaan besarnya: akankah pengadilan memihak pada permohonan Berry untuk kembali ke kesepakatan 50/50, atau justru mengabulkan permintaan Martinez untuk membatasi akses? Terlepas dari hasilnya, yang jelas, perang hak asuh ini telah menempatkan seorang anak di tengah pusaran konflik yang tak kunjung usai.



