Era Baru Joe Root: Inggris Gilas Pakistan dalam Tiga Hari, 1-0 di Seri
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan telak Inggris atas Pakistan di Headingley menandai awal yang sempurna bagi kepemimpinan ulang Joe Root sebagai kapten.
- Perombakan besar di tubuh tim Inggris pasca-pensiun Ben Stokes dan pemecatan Brendon McCullum langsung berbuah hasil positif.
- Seri berikutnya di Lord's menjadi ujian sesungguhnya bagi konsistensi Inggris, sementara Pakistan harus bangkit tanpa Babar Azam.

Joe Root memulai periode keduanya sebagai kapten tim nasional Inggris dengan kemenangan telak atas Pakistan dalam pertandingan pertama seri tiga laga di Headingley, Leeds, Jumat (24/5). Inggris menang dengan selisih satu inning dan 103 run, sekaligus memimpin seri 1-0. Kemenangan ini menjadi angin segar bagi skuad yang baru saja dilanda gejolak internal, termasuk pensiunnya Ben Stokes dan pemecatan pelatih Brendon McCullum.
Sejak awal pertandingan, Inggris menunjukkan dominasi mutlak. Keputusan Root untuk memilih field setelah memenangkan toss langsung membuahkan hasil ketika Ollie Robinson menjebak Azan Awais lbw pada bola pertama. Pakistan yang tampil tanpa kapten Babar Azam karena cedera tangan, tidak mampu memberikan perlawanan berarti. Mereka hanya mampu mengumpulkan 171 run di inning pertama dan 135 di inning kedua, sementara Inggris mengamankan 409 run.
Kemenangan ini diraih berkat performa gemilang para bowler Inggris. Josh Tongue mencatatkan rekor pribadi dengan 8-89, sementara Robinson mengakhiri pertandingan dengan 8-80, yang juga merupakan yang terbaik dalam kariernya. Jofra Archer, yang tampil kurang meyakinkan di hari pertama, kembali menunjukkan kelasnya di hari ketiga dengan tiga wicket. Di sisi batting, Jordan Cox dengan 73 run-nya membuktikan bahwa ia layak diperhitungkan di level tertinggi.
Bagi Inggris, kemenangan ini adalah yang ketiga dalam sebelas pertandingan terakhir, sebuah catatan yang memprihatinkan sebelum pergantian kepemimpinan. Namun, perlu dicatat bahwa lawan yang dihadapi kali ini bukanlah lawan yang tangguh. Pakistan tampil di bawah standar, baik dalam bowling maupun fielding, dan atmosfer stadion pun terasa hambar tanpa dukungan suporter yang biasanya meriah. Hal ini membuat sebagian pengamat meragukan apakah Inggris benar-benar telah memperbaiki diri atau hanya diuntungkan oleh kelemahan lawan.
Bagi Pakistan, kekalahan ini menjadi pukulan telak. Mereka belum pernah memenangkan seri Test di Inggris dalam 30 tahun terakhir, dan dengan performa seperti ini, mereka berisiko mengalami kekalahan telak 3-0. Kembalinya Babar Azam di Lord's mungkin memberikan sedikit harapan, tetapi tanpa dukungan bowler-bowler kunci seperti Shaheen Shah Afridi dan Naseem Shah yang tidak masuk skuad Test, peluang mereka untuk bangkit tampak tipis. Sejarah memang mencatat Pakistan sebagai tim yang tak terduga, tetapi untuk kali ini, kebangkitan itu tampak mustahil.
Pertandingan kedua akan berlangsung di Lord's mulai Kamis depan. Jika Inggris menang, mereka akan mengamankan seri kemenangan pertama sejak 2024. Namun, ada kekhawatiran bahwa pertandingan di Lord's akan berlangsung singkat seperti sebelumnya, mengingat kritik terhadap kualitas pitch. Meski demikian, kemenangan ini memberikan momentum positif bagi Inggris, dan publik kini menantikan apakah era baru di bawah Root akan membawa perubahan signifikan atau hanya sekadar kilasan sesaat.



