WBC University Sukses Gelar Kongres Tinju Internasional di Kosta Rika, Perkuat Standar Keselamatan
Baca dalam 60 detik
- Kongres tinju internasional pertama yang digelar WBC University di Kosta Rika menghasilkan deklarasi bersama untuk memperkuat protokol keselamatan dan profesionalisme tinju di Amerika Tengah.
- Lebih dari 150 peserta dari enam negara mengikuti pelatihan intensif tentang regulasi, teknik perwasitan, dan prosedur medis, dengan fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di dunia tinju.
- Aliansi strategis antara WBC University dan FECARBOX diharapkan menjadi model pengembangan tinju regional yang dapat diadopsi oleh kawasan lain, termasuk Asia Tenggara.

Kongres Tinju Internasional WBC University yang pertama resmi berlangsung pada 1–3 Oktober di Stadion Olahraga Guanacaste, Kanton Carrillo, Kosta Rika. Acara ini menjadi tonggak penting bagi upaya standardisasi keselamatan dan profesionalisasi tinju di kawasan Amerika Tengah, dengan lebih dari 150 peserta dari berbagai negara hadir untuk mengikuti pelatihan intensif.
Kongres ini dipimpin langsung oleh Direktur WBC University, Xochitl Lagarda, bersama Wali Kota Carrillo, Diana Méndez, serta dihadiri oleh para pejabat internasional dan perwakilan Federasi Tinju Amerika Tengah (FECARBOX). Fokus utama acara adalah meningkatkan kapasitas teknis dan medis para pelaku tinju, mulai dari wasit, juri, dokter ringside, pelatih, hingga cornermen.
Dalam sesi pelatihan, peserta mendapatkan materi tentang pengawasan regulasi, teknik perwasitan, metode pembalutan tangan yang aman, serta protokol keselamatan medis. Salah satu sorotan adalah kehadiran Dr. Paul Wallace, Ketua Dewan Penasihat Medis World Boxing Council (WBC) yang merupakan otoritas terkemuka di bidang kedokteran olahraga. Ia memberikan instruksi langsung mengenai penanganan cedera dan keselamatan petinju.
Selain aspek teknis, WBC University menegaskan komitmennya pada tanggung jawab sosial melalui program "Mente de Campeón" (Pikiran Juara) dan "Formando una Mente de Campeón" (Membentuk Pikiran Juara). Program ini menyasar kesehatan mental, pencegahan kecanduan, pendidikan, dan disiplin. Dalam kunjungan ke Technical Professional College (CTP) di Carrillo, para peserta berdialog dengan pelajar muda tentang pentingnya kesehatan mental dan peran olahraga dalam membangun karakter.
"Aliansi ini bukan sekadar pelatihan, tetapi investasi jangka panjang untuk melindungi atlet dan meningkatkan kualitas tinju di seluruh Amerika Tengah," ujar Xochitl Lagarda dalam sambutannya.
Sebagai penutup, perwakilan dari enam negara Amerika Tengah menandatangani "Deklarasi Carrillo Canton, Kosta Rika", yang berisi komitmen untuk memperkuat pedoman keselamatan dan rencana aksi kolaboratif. Deklarasi ini diharapkan menjadi acuan bersama dalam menjaga standar tinju di kawasan tersebut.
Bagi Indonesia, langkah WBC University ini bisa menjadi contoh bagaimana organisasi olahraga internasional mendorong profesionalisme melalui pendidikan dan sertifikasi. Federasi tinju nasional dan lembaga terkait dapat mengadopsi model serupa untuk meningkatkan kualitas wasit, pelatih, dan tenaga medis, serta memperkuat perlindungan bagi petinju di Tanah Air. Dengan populasi penggemar tinju yang besar, Indonesia berpotensi menjadi tuan rumah kongres serupa di masa depan, memperluas jaringan dan meningkatkan standar kompetisi lokal.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat rekomendasi dari kongres ini diterapkan di tingkat nasional masing-masing negara, dan apakah model kolaborasi WBC University–FECARBOX dapat direplikasi di kawasan lain seperti Asia Tenggara. Jika berhasil, ini bisa menjadi blueprint bagi pengembangan tinju global yang lebih aman dan berkelanjutan.



