Ledakan Pakuwon City Diduga Akibat Kebocoran Pipa LPG 50 Kg, Polisi Pastikan Bukan Bom
Baca dalam 60 detik
- Polrestabes Surabaya menyimpulkan ledakan di Ruko San Antonio, Pakuwon City, dipicu kebocoran pipa pada tiga tabung LPG 50 kg, bukan bahan peledak.
- Tim Gegana Polda Jatim memastikan tidak ada unsur bom; ledakan murni akibat akumulasi gas dalam ruangan tertutup.
- Lima orang terluka dan masih dirawat di Rumah Sakit Haji; polisi mengimbau pemilik usaha kuliner rutin memeriksa instalasi gas.

Polrestabes Surabaya memastikan ledakan yang meratakan Depot Nasi Tempong Sri Dewi di Ruko San Antonio, Pakuwon City, bersumber dari kebocoran pipa pada tiga tabung LPG berukuran 50 kilogram. Insiden yang terjadi Selasa (6/10) pagi itu dipastikan bukan akibat aksi terorisme maupun bahan peledak.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengungkapkan, kesimpulan tersebut diperoleh setelah tim Penjinak Bom (Jibom) melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Menurutnya, keterangan para saksi memperkuat dugaan bahwa kebocoran gas menjadi pemicu utama. "Dugaan kuat mengarah pada kebocoran gas," ujar Luthfie di lokasi kejadian.
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan tiga tabung LPG 50 kilogram—dua berwarna oranye dan satu putih—dalam kondisi tidak meledak. Polisi menduga kebocoran terjadi pada bagian pipa saluran gas. Sekitar pukul 07.00 WIB, seorang koki sempat mencium bau gas sebelum ledakan terjadi dalam hitungan detik.
Komandan Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim Kompol Dyan Vicky Sandi menambahkan, ledakan terjadi karena akumulasi tekanan gas di dalam ruangan tertutup. "Gas yang terkumpul kemudian terpicu dan meledak," jelasnya. Ia menegaskan, tidak ditemukan indikasi bahan peledak dalam insiden ini.
"Kami memastikan peristiwa ini murni efek ledakan gas, bukan bom." — Kompol Dyan Vicky Sandi, Komandan Detasemen Gegana Polda Jatim
Insiden ini menambah daftar kecelakaan akibat kebocoran gas di kawasan padat usaha kuliner. Sebelumnya, sejumlah kasus serupa terjadi karena kurangnya perawatan instalasi gas dan ventilasi yang buruk. Penggunaan tabung LPG 50 kilogram di restoran memang lazim, namun risiko kebocoran meningkat jika pipa dan regulator tidak diperiksa berkala.
Polisi mengimbau para pelaku usaha, khususnya rumah makan, untuk rutin memeriksa kondisi selang, pipa, dan regulator gas. Selain itu, sirkulasi udara di dapur perlu diperhatikan agar gas yang bocor tidak terakumulasi. Langkah preventif ini dinilai krusial mengingat tingginya aktivitas memasak di kawasan komersial seperti Pakuwon City.
Hingga berita ini diturunkan, lima korban masih menjalani perawatan intensif. Polisi belum menetapkan tersangka, namun akan mendalami aspek kelalaian dalam insiden tersebut. Kasus ini menjadi pengingat bahwa keselamatan instalasi gas di tempat usaha tidak bisa diabaikan.



