Ilmuwan MIT Temukan 'Kanibalisme Bintang': Bintang Menelan Brown Dwarf Selama Miliaran Tahun
Baca dalam 60 detik
- Astronom MIT mengidentifikasi sistem bintang yang secara perlahan mengonsumsi materi dari brown dwarf di dekatnya, sebuah fenomena yang dijuluki kanibalisme bintang.
- Laju konsumsi materi tercatat sekitar seperseratus ribu massa Bumi per tahun, dan proses ini diperkirakan berlangsung hingga miliaran tahun sebelum brown dwarf benar-benar habis.
- Penemuan ini membuka peluang pencarian sistem serupa di sekitar Tata Surya dan memperluas pemahaman tentang evolusi bintang bermassa rendah.

Tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengungkap kasus pertama sebuah bintang bermassa rendah yang secara bertahap menyerap materi dari brown dwarf di dekatnya. Peristiwa yang dijuluki "kanibalisme bintang" ini berlangsung di galaksi Bima Sakti, sekitar 300 tahun cahaya dari Bumi, dan menjadi contoh unik interaksi antara dua objek bermassa kecil.
Berbeda dengan peristiwa pelahapan bintang yang biasanya berlangsung cepat, sistem ini menunjukkan proses makan yang lambat dan stabil. Menurut perhitungan tim, brown dwarf kehilangan materi ke arah bintang dengan laju sekitar 1/100.000 massa Bumi setiap tahun. Jika diibaratkan, jumlah materi yang berpindah setiap detik setara dengan sekitar 1,3 triliun burrito seberat satu pon, atau sekitar 40 juta truk pengangkut sampah per tahun. Angka ini memberi gambaran betapa masifnya aliran materi meski dalam skala kosmik terkesan sangat kecil.
Kevin Burdge, asisten profesor fisika di MIT, menyatakan bahwa temuan ini menawarkan alternatif dari skenario umum di mana bintang menelan objek lain secara utuh. "Ketika kita membayangkan bintang berinteraksi dengan planet atau brown dwarf, gambaran yang muncul selalu bintang akhirnya menelan objek itu. Itulah yang akan terjadi pada Bumi ketika Matahari menjadi raksasa merah. Namun di sini, kami menemukan alternatif: bukannya menelan, bintang dapat memakan objek itu secara bertahap selama miliaran tahun," ujarnya seperti dikutip dari rilis MIT.
Penemuan ini memperluas pemahaman tentang dinamika bintang bermassa rendah dan interaksinya dengan objek sub-stellar. Sebelumnya, para astronom lebih banyak mendokumentasikan peristiwa pelahapan cepat, misalnya ketika bintang menelan planet atau benda langit lain dalam skala waktu yang relatif singkat. Kasus yang ditemukan MIT ini menunjukkan bahwa proses serupa dapat berlangsung dalam mode "slow-feeding" yang stabil, membuka dimensi baru dalam studi evolusi sistem biner.
Dari perspektif pengamatan, sistem ini menjadi laboratorium alami untuk mempelajari transfer massa dan dampaknya terhadap evolusi bintang. Para peneliti berharap dapat menemukan lebih banyak contoh serupa di sekitar Tata Surya, yang akan membantu menyusun model populasi sistem slow-feeding di galaksi. Keberadaan sistem seperti ini juga dapat memengaruhi perkiraan tentang berapa banyak brown dwarf yang bertahan dalam jangka panjang di lingkungan bintang bermassa rendah.
Meski temuan ini tidak memiliki implikasi langsung terhadap kehidupan di Bumi, pemahaman tentang interaksi bintang dan objek sub-stellar memperkaya pengetahuan tentang proses astrofisika fundamental. Bagi Indonesia, perkembangan riset semacam ini dapat menjadi acuan bagi pengembangan studi astronomi dan astrofisika di perguruan tinggi, serta mendorong kolaborasi internasional dalam pengamatan langit. Dengan semakin banyaknya observatorium dan program riset, peluang untuk berkontribusi pada penemuan serupa di masa depan terbuka lebar.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah seberapa umum sistem slow-feeding seperti ini di alam semesta, dan apakah proses serupa dapat terjadi pada bintang yang memiliki planet. Jika ya, apakah planet-planet di sekitarnya akan mengalami nasib serupa dalam skala waktu yang sangat panjang? Penemuan MIT ini setidaknya memberikan satu titik terang dalam upaya menjawab teka-teki tersebut.



