Kimi Antonelli Gagal Semprot Rose Water di Podium Bahrain, Mercedes Malah Ledek: 'Kamu Sudah Seharusnya Bisa!'
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli finis kedua di GP Bahrain 2026, memperlebar keunggulan 84 poin atas George Russell, tetapi momen selebrasi justru terganggu karena kesulitan menyemprotkan rose water.
- Mercedes menyindir insiden tersebut melalui media sosial, memicu gelombang komentar warganet yang menyoroti tradisi balapan tanpa alkohol di Bahrain.
- Insiden ini menambah dimensi psikologis bagi pembalap muda yang tengah memimpin klasemen, menjelang rangkaian balapan Eropa yang menuntut konsistensi.

Kimi Antonelli menutup Grand Prix Bahrain 2026 dengan posisi kedua, memperkokoh puncak klasemen pembalap, namun perhatian publik justru tersedot pada insiden kecil di podium: pembalap Mercedes itu kesulitan menyemprotkan rose water—tradisi khas balapan di Sirkuit Internasional Bahrain yang bebas alkohol.
Momen tersebut terjadi saat Antonelli, Max Verstappen dari Red Bull, dan Lewis Hamilton merayakan hasil balapan. Verstappen keluar sebagai juara di bawah kondisi basah yang menantang, sementara Antonelli mempertahankan posisi kedua setelah start dari urutan ketiga. Hamilton melengkapi podium di posisi ketiga. Ketika ketiganya diberikan botol berisi rose water, Antonelli tampak kebingungan dan gagal menyemprotkannya dengan benar, memicu tawa dan sorotan kamera.
Mercedes melalui akun media sosial X langsung menyindir insiden tersebut. "Kamu pikir dia sudah seharusnya bisa melakukan ini sekarang!" tulis tim pabrikan asal Brackley itu, disertai video momen tersebut. Unggahan itu memicu beragam reaksi dari penggemar, mulai dari simpati hingga candaan. Seorang penggemar berkomentar, "Bagian paling nyata adalah melihat dia menggoyang-goyangkan botol seperti itu akan memperbaiki tekanan," sementara yang lain menambahkan, "Karena mereka menggunakan rose water, bukan sampanye asli. Ini aturan GP Bahrain. Kasihan Kimi."
Bagi Antonelli, insiden ini mungkin tampak sepele, tetapi menyimpan lapisan psikologis. Sebagai pembalap muda yang tengah memimpin kejuaraan, ia dituntut untuk tampil sempurna di setiap aspek, termasuk selebrasi. Tekanan untuk selalu benar di bawah sorotan kamera bisa menjadi beban tersendiri. Meski demikian, performa di lintasan tetap yang utama. Finis kedua di Bahrain memperpanjang tren positifnya, meski ia mengakui timnya masih memiliki pekerjaan rumah.
"Hari ini adalah hasil maksimal yang bisa kami raih. Selamat besar untuk Max dan Red Bull atas akhir pekan yang luar biasa," ujar Antonelli usai balapan. "Di sisi kami, masih banyak yang harus dibenahi. Kami kesulitan lebih dari biasanya, tapi saya tetap senang bisa finis P2."
Pernyataan tersebut menunjukkan kedewasaan pembalap Italia itu dalam menyikapi hasil balapan. Ia tidak larut dalam kekecewaan, melainkan mengakui keunggulan lawan dan tetap bersyukur atas poin yang diraih. Sikap ini penting mengingat kompetisi musim 2026 masih panjang dan konsistensi menjadi kunci.
Dari perspektif Mercedes, insiden rose water bisa jadi bumerang kecil. Alih-alih fokus pada pencapaian Antonelli yang memperlebar jarak di klasemen, perhatian publik justru teralih pada kesalahan sepele. Namun, sindiran tim melalui media sosial justru menunjukkan kedekatan dan budaya organisasi yang santai, yang bisa memperkuat citra mereka di mata penggemar. Di sisi lain, ini juga menjadi pengingat bahwa detail kecil di podium bisa menjadi sorotan global.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, momen seperti ini menambah daya tarik balapan selain adu strategi dan kecepatan. Interaksi tim dan pembalap di media sosial, termasuk sindiran ringan, memperlihatkan sisi manusiawi dari olahraga jet darat. Tidak jarang, insiden kecil justru menjadi viral dan memperluas jangkauan F1 ke khalayak yang lebih luas, termasuk di Tanah Air yang memiliki basis penggemar F1 cukup besar.
Ke depan, Antonelli akan menghadapi rangkaian balapan Eropa yang menuntut konsistensi. Dengan keunggulan 84 poin, ia memiliki ruang untuk bernapas, tetapi tekanan dari Russell dan Verstappen tidak akan surut. Mampukah ia mempertahankan fokus dan menghindari kesalahan kecil yang bisa mengalihkan perhatian dari performa sesungguhnya? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: di F1, setiap detail—termasuk cara menyemprot rose water—bisa menjadi cerita tersendiri.



