Jordan Burroughs Kembali ke Matras: Misi Emas Olimpiade 2028 di Usia 40
Baca dalam 60 detik
- Pensiun setelah Kejuaraan Dunia 2024, Burroughs kembali bertarung di liga profesional RAF, membuka peluang tampil di Olimpiade Los Angeles 2028.
- Liga RAF, yang baru berdiri setahun, menawarkan kompensasi finansial bagi pegulat yang selama ini berstatus amatir, sekaligus memperluas pasar gulat global.
- Kembalinya Burroughs menjadi inspirasi bagi atlet muda dan menandai pergeseran paradigma gulat dari olahraga amatir menjadi profesional.

Jordan Burroughs, peraih emas Olimpiade 2012, memutuskan kembali ke matras gulat setelah sempat pensiun pasca Kejuaraan Dunia 2024. Pria 38 tahun itu akan berlaga di ajang Real American Freestyle (RAF) di Cleveland, Sabtu (24/8), sebuah liga profesional anyar yang dirancang untuk memberi penghasilan layak bagi para pegulat. Keputusan ini tak hanya menghidupkan kembali kariernya, tetapi juga membuka peluang untuk tampil di Olimpiade Los Angeles 2028 yang digelar di kandang sendiri.
Bagi Burroughs, ajang RAF menjadi sarana untuk menjaga kebugaran dan menguji kemampuan setelah dua bulan berlatih intensif di klub gulat mudanya di New Jersey. Meski mengakui peluangnya tipisโia akan berusia 40 tahun saat Olimpiadeโia tetap optimistis. "Ada kebanggaan nasional yang menyertai ketika bertanding di rumah sendiri," ujarnya kepada Reuters. "Saya menghadapi rintangan yang sangat berat, tapi jika ada orang yang bisa melakukannya, saya percaya saya mampu."
Liga RAF sendiri merupakan inisiatif baru yang diluncurkan tahun lalu dengan tujuan memberikan kompensasi finansial kepada pegulat yang selama ini terikat struktur amatir. CEO RAF, Chad Bronstein, menyebut liga ini sedang menjajaki ekspansi ke India, Timur Tengah, Uzbekistan, Mongolia, dan Jepang. "Gulat adalah olahraga yang sangat internasional," kata Bronstein. "Kami berencana terus mengembangkan olahraga ini, dan untuk itu kami harus menjangkau atlet dari seluruh dunia."
Fenomena kembalinya Burroughs dan menjamurnya liga profesional seperti RAF mencerminkan perubahan besar dalam dunia gulat. Selama bertahun-tahun, pegulat hanya dianggap atlet amatir meski berkompetisi di level Olimpiade. Burroughs menegaskan, "Selama bertahun-tahun kami dianggap pegulat amatir... bahkan di Olimpiade dan kejuaraan dunia, dan itu tidak pernah terasa benar. Sekarang kami punya kesempatan untuk menyebut diri kami profesional sejati."
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat gulat mulai mendapat perhatian di tingkat nasional. Meski belum sepopuler bulu tangkis atau sepak bola, potensi atlet gulat Indonesia untuk bersaing di kancah internasional bisa terangkat dengan adanya liga profesional yang menawarkan insentif ekonomi. Kehadiran RAF yang agresif berekspansi ke Asia, termasuk kawasan Asia Tenggara, bisa menjadi pintu masuk bagi pegulat Indonesia untuk unjuk gigi dan meraih penghasilan layak.
Langkah Burroughs juga menjadi teladan bagi generasi muda. Dengan menunjukkan kerja keras dan dedikasi, ia membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk mengejar mimpi. "Cara terbaik untuk menciptakan visi bagi seseorang adalah dengan menunjukkannya," katanya. Pesan ini relevan bagi atlet muda Indonesia yang bercita-cita menembus level internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah RAF dan liga sejenis mampu bertahan dan menjadi katalis perubahan struktural dalam olahraga gulat. Jika berhasil, bukan tidak mungkin gulat akan menjelma menjadi olahraga profesional yang diminati banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, tantangan tetap ada, mulai dari pendanaan hingga daya tarik penonton. Mampukah gulat melepas label amatir dan berdiri sejajar dengan olahraga profesional lain?



