Pelti Tunggu Kepastian Anggaran Asian Games, Siap Biayai Keberangkatan Atlet Secara Mandiri
Baca dalam 60 detik
- PP Pelti telah mengunci 10 nama petenis untuk Asian Games 2026, namun belum ada SK resmi dari KOI.
- Efisiensi anggaran pemerintah menjadi ancaman utama; Pelti siap mencari solusi mandiri agar atlet tetap berangkat.
- Keputusan finalisasi dijadwalkan pekan depan, menentukan komposisi dan jumlah kontingen tenis Indonesia.

Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) masih menggantungkan kepastian pemberangkatan kontingen tenis ke Asian Games 2026 pada keputusan Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Hingga saat ini, surat keputusan resmi belum turun, sementara isu efisiensi anggaran negara berpotensi memangkas jumlah atlet yang bisa dikirim. Sekretaris Jenderal PP Pelti, Andi Fajar, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengunci sepuluh namaโlima putra dan lima putriโyang siap berlaga di ajang olahraga antarnegara Asia tersebut.
Ketidakpastian ini muncul di tengah persiapan matang yang telah dijalani para atlet. Menurut Andi, Pelti sebenarnya sudah menyiapkan daftar usulan, namun statusnya masih bersifat sementara karena menunggu restu dari KOI. "Kami sudah mengunci lima nama putra dan lima putri, tapi sampai hari ini belum ada SK dari KOI. Ini kewenangan mereka, jadi kami menunggu finalisasi," ujarnya di sela final Liga Tenis Indonesia 2026 Seri 1 di Jakarta, Minggu (16/2).
Persoalan pembiayaan menjadi momok utama. Kabar mengenai pemangkasan anggaran kementerian/lembaga berpotensi mengurangi jatah atlet yang diberangkatkan ke Asian Games. Pelti, bagaimanapun, berharap seluruh kuota tenis yang tersedia bisa terisi penuh. Namun, jika pemerintah tidak mampu menanggung seluruh biaya, federasi menyatakan siap mencari jalan keluar, termasuk pembiayaan mandiri.
"Kalau ada efisiensi dari pemerintah, Pelti tentu akan memberikan solusi. Mungkin kami ikut ambil bagian dalam pembiayaan pemberangkatan atlet," kata Andi. Ia menambahkan bahwa opsi mandiri menjadi pilihan yang tepat agar semangat para atlet yang telah berlatih keras tidak sia-sia. "Mereka sudah berlatih, jadi kehadiran di Asian Games adalah kebanggaan luar biasa," tegasnya.
Komposisi tim pun mengalami penyesuaian. Untuk sektor putri, kelima nama yang diusulkan merupakan bagian dari skuad SEA Games 2025 Thailand. Sementara di sektor putra, terjadi perubahan: Justin Barki memilih memberi kesempatan kepada atlet lain. Adapun sepuluh nama yang diusulkan adalah Janice Tjen, Aldila Sutjiadi, Priska Nugroho, Anjali Kirana Junarto, dan Meydiana Laviola Reinnamah untuk putri; serta Muhammad Rifqi Fitriadi, Christopher Rungkat, Lucky Candra Kurniawan, Anthony Susanto, dan Muhammad Gunawan Trismuwantara untuk putra.
Andi menegaskan bahwa daftar tersebut masih berstatus usulan, bukan final. "Minggu depan ada meeting lagi untuk finalisasi," katanya. Ini menjadi momen krusial bagi para petenis Indonesia yang berambisi mengharumkan nama bangsa di kancah Asia.
Bagi Indonesia, keikutsertaan dalam Asian Games bukan sekadar soal prestasi, tetapi juga investasi jangka panjang bagi regenerasi atlet. Tenis, yang kerap dipandang sebagai olahraga elitis, membutuhkan dukungan berkelanjutan agar talenta muda terus bermunculan. Jika pembiayaan mandiri menjadi jalan keluar, ini bisa menjadi preseden bagi cabang olahraga lain yang menghadapi situasi serupa.
Pertanyaannya, akankah KOI segera mengeluarkan SK dan memastikan anggaran yang memadai? Atau justru Pelti harus menguras kasnya sendiri demi mimpi para atletnya? Keputusan pekan depan akan menjadi penentu.



