Aston Villa Rekrut Empat Pemain Skandinavia untuk Bangkit dari Keterpurukan WSL
Baca dalam 60 detik
- Aston Villa mendatangkan empat pemain Skandinavia untuk memperkuat skuad setelah finis kesembilan musim lalu.
- Langkah ini menandai perubahan strategi rekrutmen klub yang sebelumnya minim pengalaman dari kawasan tersebut.
- Dengan tambahan pemain baru, Villa berambisi menembus papan atas dan bersaing memperebutkan tiket Eropa.

Aston Villa mengambil langkah berani di bursa transfer musim panas ini dengan mendatangkan empat pemain asal Skandinavia untuk memperbaiki performa tim yang mengecewakan musim lalu. Klub yang berbasis di Birmingham itu finis di peringkat kesembilan Women's Super League (WSL) musim 2023-2024, hasil terburuk mereka dalam lima tahun terakhir. Manajer Natalie Arroyo diberi kepercayaan untuk melakukan perombakan besar-besaran, dan kini ia mengarahkan pandangannya ke utara Eropa untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan sejumlah pemain kunci.
Empat rekrutan anyar tersebut adalah bek Mathilde Harviken, gelandang Kamilla Melgard dan Justine Kielland dari Norwegia, serta penyerang Denmark Amalie Vangsgaard. Harviken dan Vangsgaard datang dari Juventus, sementara Melgard dan Kielland bergabung dari klub-klub di liga Norwegia. Kedatangan mereka diharapkan dapat menambal lubang yang ditinggalkan oleh Kirsty Hanson yang pindah ke Tottenham, Ebony Salmon ke West Ham, serta pensiunnya Lucy Staniforth. Total, Villa mendatangkan delapan pemain senior baru, dan keempat pemain Skandinavia itu menjadi bagian penting dari strategi rekrutmen yang belum pernah terjadi sebelumnya di klub.
Fenomena pemain Skandinavia di WSL sebenarnya bukan hal baru. Sebanyak 42 pemain dari Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Denmark kini tersebar di 14 klub WSL. Dengan tambahan empat pemain ini, Villa kini memiliki kontingen pemain Skandinavia terbesar keempat di liga, setelah Tottenham (10), Manchester United (7), dan Liverpool (6). Menariknya, sebelumnya Villa tidak memiliki pemain dari kawasan tersebut. Keputusan ini menunjukkan adanya perubahan filosofi rekrutmen yang signifikan, yang diharapkan dapat membawa dampak positif baik di dalam maupun di luar lapangan.
Kielland, yang merupakan gelandang tim nasional Norwegia, mengungkapkan bahwa kedekatan personal antar pemain menjadi faktor kunci dalam keputusan mereka bergabung. "Saya mengenal Mathilde dari tim nasional, kami berteman baik, jadi kami berbicara tentang bergabung dengan tim ini," ujarnya kepada BBC Sport. "Senang memiliki banyak rekan senegara dari Norwegia dan Skandinavia, kami berbicara dalam bahasa yang sama. Tetapi kami semua cukup mandiri, kami mencari yang terbaik untuk karier kami, jadi ini pertanda baik bahwa kami semua memutuskan klub ini menarik dan tempat yang tepat untuk berkembang." Kielland juga menambahkan bahwa liga Inggris dianggap sebagai tempat yang ideal bagi pemain Skandinavia untuk berkembang karena kompetitif dan menuntut performa tinggi setiap pekan.
Strategi ini bukan pertama kalinya digunakan di WSL. Sebelumnya, Manchester United di bawah Marc Skinner juga mendatangkan pemain dari Swedia, seperti Hanna Lundkvist dan Ellen Wangerheim. Skinner percaya bahwa liga Swedia, Damallsvenskan, merupakan tempat yang ideal untuk mengasah bakat muda. "Mereka bermain banyak pertandingan di usia muda sehingga belajar dari kesalahan. Paparan mereka pada level tinggi memberi mereka keunggulan awal dalam menghadapi tekanan. Ketahanan yang mereka pelajari memungkinkan mereka untuk datang dan bermain di sini," jelas Skinner. Tottenham juga melakukan hal serupa pada Januari lalu dengan mendatangkan empat pemain dari Norwegia dan Swedia untuk memperkuat skuad mereka.
Bagi Villa, kehadiran pemain-pemain berpengalaman seperti Anna Patten, Missy Bo Kearns, dan Rachel Daly akan menjadi kunci untuk mengintegrasikan para pendatang baru. Kearns, yang bergabung pada 2024 namun sudah menjadi salah satu pemain terlama di klub, menegaskan pentingnya peran pemain senior dalam membimbing rekan-rekan barunya. "Kami memiliki banyak pemain baru dari liga yang berbeda, jadi saya bisa mengintegrasikan dan mendorong mereka, menunjukkan standar untuk menjadi tim WSL papan atas," kata Kearns. "Saya telah banyak bermain di WSL dan sepak bola Inggris, itu sangat membantu. Seiring berkembangnya liga, kami tumbuh bersama liga dan berkembang."
Ambisi Villa tidak berhenti pada sekadar bertahan di papan tengah. Mereka ingin bersaing memperebutkan tiket ke kompetisi Eropa, sejalan dengan kesuksesan tim pria yang berlaga di Liga Champions musim ini. Penjaga gawang anyar, Emily Ramsey, yang datang dari Everton, optimistis dengan peluang timnya. "Tim-tim papan atas tentu berinvestasi dan merekrut pemain dengan uang besar, tetapi Anda juga memiliki tim-tim papan tengah yang mendorong untuk merebut posisi teratas," ujarnya. "London City telah berinvestasi banyak, mereka akan menantang. Spurs dan Brighton menunjukkan bahwa mereka bisa melakukannya musim lalu. Tidak ada lagi hasil yang bisa diprediksi, tim-tim papan atas merasakannya, itu sebabnya mereka berinvestasi. Bagi Aston Villa, tidak ada yang perlu ditakutkan ketika mencoba mendorong untuk meraih posisi Eropa."
Dengan skuad yang dirombak besar-besaran, Villa kini memiliki tantangan untuk membuktikan bahwa investasi ini membuahkan hasil. Para pemain baru harus segera beradaptasi dengan gaya bermain dan budaya klub, sementara manajer Arroyo dituntut untuk meramu strategi yang tepat. Pertanyaannya, mampukah Villa memanfaatkan pengalaman dan kualitas para pemain Skandinavia ini untuk menembus papan atas WSL dan mengamankan tiket ke kompetisi Eropa? Musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ambisi besar mereka.



