Bener Meriah Siaga Darurat Hidrometeorologi: Ancaman Curah Hujan 500 mm per Bulan
Baca dalam 60 detik
- Pemkab Bener Meriah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi selama hampir tiga bulan, dari 5 Oktober hingga 31 Desember 2026.
- BMKG memprediksi curah hujan di seluruh kecamatan mencapai 300–500 mm per bulan pada Oktober–November, memicu risiko banjir bandang dan longsor.
- BPBD setempat mengaktifkan tim reaksi cepat, posko, dan logistik, seraya mengingatkan warga di bantaran sungai dan lereng untuk waspada.

Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Aceh, resmi menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sejak 5 Oktober hingga 31 Desember 2026. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan lonjakan curah hujan signifikan di wilayah dataran tinggi Aceh tersebut.
Penetapan status tersebut dituangkan dalam Keputusan Bupati Bener Meriah Nomor 360/520/SK/2026. Langkah ini juga merespons imbauan Pemerintah Aceh agar kabupaten/kota meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Kepala BPBD Bener Meriah, Ilham Abdi, menegaskan bahwa status siaga darurat bukan sekadar formalitas administratif, melainkan upaya memastikan seluruh elemen penanggulangan bencana berada dalam kondisi siaga penuh.
"Status siaga darurat ini merupakan langkah antisipasi dan kesiapsiagaan. Kita tidak menunggu bencana terjadi baru bergerak. Seluruh unsur harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan personel, peralatan maupun logistik," ujar Ilham kepada wartawan, Senin (5/10).
Data BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Aceh menjadi dasar utama penetapan ini. Pada Oktober 2026, dua kecamatan—Syiah Utama dan Timang Gajah—diprediksi mengalami curah hujan kategori tinggi dengan intensitas 300–500 milimeter. Memasuki November, kondisi tersebut diproyeksikan meluas ke seluruh kecamatan di Bener Meriah dengan rentang curah hujan serupa. Baru pada Desember, intensitas diperkirakan menurun ke kategori menengah, yakni 150–300 milimeter per bulan.
Peningkatan curah hujan berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor. Ilham juga menyoroti risiko gangguan akses jalan dan kerusakan infrastruktur yang bisa mengisolasi wilayah. "Peningkatan curah hujan tersebut berpotensi memicu sejumlah bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang hingga tanah longsor dan gangguan terhadap akses jalan dan infrastruktur," katanya.
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai, daerah rawan banjir, lereng, dan wilayah dengan riwayat longsor diminta meningkatkan kewaspadaan. BPBD Bener Meriah akan memperkuat Tim Reaksi Cepat (TRC), pemantauan wilayah, posko, personel, peralatan, hingga logistik. Langkah ini menjadi krusial mengingat pengalaman bencana akhir tahun 2025, ketika Bener Meriah menjadi salah satu daerah terparah yang mengalami kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur.
Dengan pola cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi, pertanyaannya kini: sejauh mana kesiapan daerah menghadapi musim hujan yang lebih basah dari biasanya? Apakah langkah antisipasi ini cukup untuk menekan kerugian, atau justru menjadi alarm bahwa perubahan iklim menuntut strategi adaptasi yang lebih radikal?



