Tories Luncurkan 'Britannia Shield' Senilai £10 Miliar, Perisai Udara Terbesar Sejak Perang Dingin
Baca dalam 60 detik
- Partai Konservatif berjanji menggelontorkan dana hingga £10 miliar untuk sistem pertahanan udara terintegrasi bernama Britannia Shield jika kembali berkuasa.
- Program ini mencakup radar canggih, sistem komando, dan rudal pencegat untuk melindungi infrastruktur vital dari ancaman drone dan misil.
- Pemerintah Labour menuding Tories memiliki rekam jejak buruk dalam pertahanan dan meninggalkan lubang anggaran £17 miliar.

Partai Konservatif Inggris mengumumkan komitmen ambisius untuk membangun jaringan pertahanan udara berlapis yang diberi nama "Britannia Shield". Jika memenangkan pemilu berikutnya, mereka berjanji mengalokasikan dana hingga £10 miliar selama sepuluh tahun untuk sistem radar, komando, dan rudal pencegat. Langkah ini diklaim sebagai modernisasi pertahanan udara terbesar sejak era Perang Dingin.
Dalam pidatonya di konferensi partai di Birmingham, Menteri Pertahanan Bayangan James Cartlidge akan menyebut program ini sebagai "peningkatan pertahanan udara paling signifikan bagi Inggris selama beberapa generasi". Ia menekankan bahwa investasi ini mutlak diperlukan mengingat meningkatnya ancaman global, terutama dari Rusia yang kerap melakukan intrusi drone di wilayah NATO.
Britannia Shield dirancang memiliki tiga komponen utama: radar canggih generasi baru, sistem komando dan kendali yang ditingkatkan untuk mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber pertahanan, serta rudal pencegat dan kemampuan anti-drone. Desainnya mirip dengan sistem Sky Sabre yang saat ini dioperasikan Angkatan Darat Inggris, yang tahun ini dikerahkan ke Timur Tengah untuk menghadapi serangan Iran.
Partai Konservatif merujuk pada laporan Komite Pertahanan parlemen November lalu yang menyatakan Inggris tertinggal dari negara-negara Eropa dalam hal rencana pertahanan udara. Mereka juga menyoroti peringatan NATO tentang peningkatan intrusi drone Rusia. Dengan demikian, Britannia Shield diposisikan sebagai jawaban atas kekhawatiran akan kerentanan wilayah udara Inggris.
"Dengan anggaran £10 miliar, ini akan menjadi salah satu program militer terbesar Inggris sejak Perang Dingin. Namun, ini sepenuhnya perlu karena ancaman yang kita hadapi," ujar Cartlidge.
Namun, rencana ini langsung menuai kritik dari pemerintah yang berkuasa. Menteri Pertahanan Wes Streeting menilai Partai Konservatif memiliki "rekam jejak buruk" dalam pertahanan selama 14 tahun berkuasa. Ia menuduh Tories memangkas anggaran militer hingga ukuran terkecil sejak era Napoleon dan meninggalkan lubang £17 miliar dalam rencana peralatan. "Mereka berutang permintaan maaf kepada Inggris, bukan ceramah lagi," tegas Streeting.
Pemerintah Labour sendiri memiliki rencana investasi pertahanan yang mencakup lebih dari £350 juta untuk menggandakan jumlah sistem Sky Sabre. Perdana Menteri Andy Burnham juga berada di bawah tekanan untuk memenuhi target belanja NATO sebesar 3,5% PDB pada 2035, naik dari perkiraan 2,6% tahun ini. Persaingan politik menjelang pemilu semakin memanas dengan isu pertahanan sebagai salah satu agenda utama.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cerminan bagaimana negara-negara besar meningkatkan kapasitas pertahanan udara menghadapi ancaman asimetris seperti drone. Indonesia sendiri tengah memperkuat sistem pertahanan udara, termasuk rencana pembelian radar dan rudal. Kebijakan Inggris dapat menjadi referensi tentang pentingnya integrasi sistem dan alokasi anggaran jangka panjang, meskipun dengan skala yang berbeda. Selain itu, ketegangan geopolitik yang mendorong belanja pertahanan global dapat memengaruhi harga komoditas dan stabilitas kawasan, termasuk Asia Tenggara.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Britannia Shield akan benar-benar terwujud atau hanya menjadi janji politik menjelang pemilu. Jika terealisasi, ini bisa mengubah lanskap pertahanan Eropa dan memicu perlombaan senjata baru. Namun, dengan kritik keras dari lawan politik dan kondisi fiskal yang ketat, keberlanjutan program ini masih diragukan. Publik Inggris akan menilai apakah ini solusi nyata atau sekadar retorika.



