Xemu Kini Berjalan di PS5 Jailbreak: Emulasi Xbox Klasik Tembus Batas Konsol
Baca dalam 60 detik
- Modder berhasil memindahkan emulator Xbox, Xemu, ke konsol PS5 yang telah di-jailbreak, memungkinkan game seperti Halo 2 dan Forza Motorsport dimainkan di perangkat Sony.
- Kinerja masih terbatas oleh CPU PS5 yang menjadi bottleneck, dengan frame rate bervariasi antara 10-60 FPS tergantung judul dan area permainan.
- Langkah ini menandai tren emulasi lintas platform yang semakin agresif, mempertanyakan batas eksklusivitas konsol dan potensi risiko hukum serta keamanan.

Seorang peretas konsol berhasil menjalankan emulator Xbox original, Xemu, pada PlayStation 5 (PS5) yang telah di-jailbreak. Port yang dijuluki XPSemu ini dipublikasikan melalui GitHub dan video demonstrasinya diunggah oleh pengguna Reddit u/Yzenxam, memperlihatkan tiga judul game klasik—Forza Motorsport, Halo 2, dan Crash Bandicoot—berjalan di konsol besutan Sony tersebut. Prestasi ini menandai pertama kalinya emulasi Xbox generasi pertama dapat dioperasikan secara native di perangkat PS5, membuka diskusi baru tentang batas antara platform gaming yang selama ini dianggap terkunci.
Menurut pengembang di balik port tersebut, XPSemu pada dasarnya adalah Xemu yang dimodifikasi agar dapat diluncurkan sebagai aplikasi di PS5. Emulator ini memanfaatkan QEMU TCG JIT untuk menerjemahkan instruksi CPU Xbox ke CPU PS5 secara real-time, sebuah pendekatan yang jauh lebih cepat dibandingkan emulasi berbasis interpretasi. Untuk urusan grafis, Xemu menggunakan renderer Vulkan yang diarahkan ke GPU AMD PS5 melalui driver RADV open-source, berkat kontribusi dari proyek PS5_Vulkan. Hasilnya, XPSemu dapat berjalan sebagai aplikasi native, bukan sekadar lapisan kompatibilitas.
Pengembang juga menambahkan sejumlah fitur pelengkap yang tidak ditemukan di Xemu versi PC, seperti dasbor ramah pengontrol, pengaturan per-game, sampul seni, pelacak waktu bermain, patch game, overlay performa, log per-game, dan optimasi CPU khusus untuk prosesor Zen 2 milik PS5. Meski demikian, kinerja emulasi masih jauh dari sempurna. CPU Xbox yang diemulasikan menjadi hambatan utama, dengan beban mencapai 85-97% sementara GPU PS5 justru sebagian besar menganggur. Akibatnya, peningkatan resolusi hingga 3-4x nyaris tidak berdampak pada performa, dan fitur upscaling FSR pun tidak membantu.
Dalam hal performa, pengembang memberikan gambaran yang beragam. Halo 2 dengan patch 60 FPS dapat mencapai 51-60 FPS di awal permainan, namun turun menjadi 36-50 FPS saat gameplay. Forza Motorsport terbatas pada 30 FPS di menu dan intro, tetapi hanya 15-21 FPS saat balapan. Sementara Crash Bandicoot: The Wrath of Cortex berjalan di 22-30 FPS di banyak area, dan merosot ke 10-20 FPS di bagian yang padat. Angka-angka ini menunjukkan bahwa emulasi masih dalam tahap awal dan belum dapat memberikan pengalaman yang mulus untuk semua judul.
"XPSemu adalah Xemu, tidak ada perbedaan mendasar. Saya hanya membuatnya bisa dibuka sebagai aplikasi di PS5," ujar pengembang port tersebut, seperti dikutip dari repositori GitHub-nya.
Fenomena ini bukanlah kejadian terisolasi. PS5 telah lama memiliki emulator untuk PS1 hingga PS3, dan secara teknis PS4 juga sudah terintegrasi. Selain XPSemu, ada berbagai emulator non-PlayStation yang dapat berjalan di PS5, termasuk untuk Nintendo Switch, Wii U, 3DS, dan RetroArch. Menariknya, tren ini juga berjalan dua arah: PS5 sendiri kini dapat diemulasikan di PC dan Xbox Series X. Batas antara platform konsol semakin kabur, terutama bagi pemilik PS5 yang telah di-jailbreak. Di sisi lain, jumlah game eksklusif PS5 murni masih di bawah 15 judul, sementara jumlah emulator yang kompatibel terus bertambah setiap minggu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini berpotensi memengaruhi pasar konsol dan game bajakan. Meskipun jailbreak dan emulasi sering dikaitkan dengan pembajakan, ada juga komunitas yang memanfaatkannya untuk pelestarian game klasik. Namun, risiko hukum dan keamanan tetap membayangi, terutama terkait pelanggaran hak cipta dan potensi malware. Pemerintah melalui Kominfo telah berulang kali menindak konten ilegal, namun pengawasan terhadap modifikasi perangkat keras dan lunak masih menjadi tantangan. Di sisi lain, antusiasme gamer Indonesia terhadap game retro cukup tinggi, seperti terlihat dari komunitas emulator lokal yang aktif. Fenomena XPSemu bisa jadi pemicu diskusi tentang legalitas dan etika emulasi di tanah air.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh produsen konsol akan menoleransi praktik semacam ini. Sony sebagai pemilik PS5 tentu tidak merestui jailbreak, namun sulit membendung kreativitas komunitas. Sementara itu, pengembang XPSemu berencana terus menyempurnakan port, termasuk dukungan file ISO dan pembukaan server Discord untuk umpan balik. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak emulator lintas platform yang mengaburkan batas eksklusivitas. Pada akhirnya, konsumen diuntungkan dengan pilihan lebih luas, tetapi industri harus menyesuaikan model bisnisnya. Akankah emulasi menjadi norma baru, atau justru memicu tindakan hukum yang lebih keras?



