Dari Liverpool ke Trabzon: Kisah di Balik Kepindahan Mohamed Salah yang Mengguncang Peta Sepak Bola Turki
Baca dalam 60 detik
- Trabzonspor mengamankan tanda tangan Mohamed Salah dengan kontrak dua tahun, sebuah langkah yang mengejutkan banyak pihak yang memperkirakan ia akan bergabung dengan klub kaya di Arab Saudi atau Amerika Serikat.
- Presiden klub Ertugrul Dogan mengungkapkan bahwa daya tarik utama bagi Salah adalah atmosfer fanatisme suporter Trabzon, yang disebutnya sebagai 'kota satu klub' terbesar di dunia.
- Kepindahan ini tidak hanya berdampak pada performa tim, tetapi juga memicu lonjakan penjualan tiket musiman hingga 70% dari gaji Salah tertutup dalam beberapa hari pertama, menunjukkan kekuatan komersial sang bintang.

Keputusan Mohamed Salah meninggalkan Liverpool setelah sembilan musim gemilang dan memilih Trabzonspor, klub pesisir Laut Hitam yang jauh dari sorotan Liga Champions, telah mengguncang peta persepak bolaan global. Di balik transfer yang sempat dianggap mustahil ini, tersimpan strategi presiden klub Ertugrul Dogan yang memanfaatkan kekuatan fanatisme suporter dan sentuhan personal untuk memikat salah satu pemain terbaik dunia.
Dogan, pengusaha lokal yang mengambil alih kursi presiden pada 2023, mengakui bahwa daya tarik utama bagi Salah bukanlah uang atau gengsi kompetisi Eropa, melainkan atmosfer kecintaan yang ditawarkan kota Trabzon. "Kami adalah kota satu klub terbesar di dunia," ujarnya kepada BBC Sport Africa dan BBC Turkish, seraya menambahkan bahwa ia meyakinkan Salah akan merasakan dukungan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Keyakinan ini terbukti ketika upacara penandatanganan kontrak dihadiri 35.000 suporter di Papara Park, sebuah momen yang menurut Dogan membuat Salah tersentuh dan berterima kasih.
Keputusan ini tentu mengejutkan banyak pengamat. Selama ini, spekulasi mengarahkan Salah ke Liga Pro Saudi bersama Cristiano Ronaldo atau bergabung dengan Lionel Messi di Amerika Serikat. Namun, Dogan mengungkapkan bahwa negosiasi berjalan cepat setelah klub-klub Turki lain menarik diri. "Kami sudah mengejarnya sejak Piala Dunia, tetapi harus menunggu giliran," jelasnya. Proses yang hanya memakan waktu lima hingga enam hari itu melibatkan pertemuan via Zoom, termasuk saat Salah sedang berlibur di Mykonos, sebelum akhirnya menjalani tes medis di Istanbul.
Dari perspektif bisnis, transfer ini adalah langkah berani. Dogan secara terbuka mengakui gaji Salah mencapai โฌ17 juta per tahun, plus 20% dari penjualan merchandise. Namun, ia menegaskan bahwa nilai finansial langsung bukanlah tujuan utama. "Perhatian dan keterlibatan global yang dihasilkan tidak bisa diukur dengan angka," katanya. Strategi ini terbukti jitu: hampir 70% gaji Salah untuk tahun pertama tertutup dari penjualan tiket musiman yang melonjak hanya dalam empat hingga lima hari setelah pengumuman. Target awal 25.000 tiket kini diproyeksikan tembus 30.000, dan perusahaan-perusahaan besar dari Turki, Eropa, hingga dunia Arab mulai menghubungi presiden klub untuk ikut serta dalam 'Salah-mania'.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana klub dengan basis suporter fanatik dapat bersaing di pasar global. Meski skala dan nilai transfer di Liga 1 tidak sebanding, strategi membangun identitas lokal yang kuat dan memanfaatkan momen kedatangan bintang untuk mendongkrak pendapatan dapat diadopsi. Kehadiran pemain sekaliber Salah juga berpotensi meningkatkan minat sponsor dan eksposur media, sesuatu yang tengah diupayakan klub-klub Indonesia untuk menarik perhatian investor.
Di atas lapangan, Salah langsung memberikan dampak. Debutnya sebagai pemain pengganti dalam laga imbang 1-1 melawan Kasimpasa pada 15 Agustus lalu menjadi awal yang menjanjikan. Ia dijadwalkan menjalani debut kandang di Trabzon akhir pekan ini. Pelatih Fatih Tekke, yang membawa tim juara Piala Turki musim lalu, kini berharap kehadiran Salah dapat mengangkat performa tim di Liga Europa, meski mereka tertinggal 0-1 dari Ferencvaros di leg pertama play-off.
Keputusan Dogan untuk memboyong Salah ke Istanbul untuk tes medis juga merupakan langkah simbolis. "Kami ingin menunjukkan bagaimana ia akan disambut di seluruh Turki, bukan hanya di Trabzon," jelasnya. Ribuan penggemar memadati bandara meski hari kerja, sebuah gambaran antusiasme yang mungkin akan terus berlanjut. Pertanyaannya kini: apakah strategi berani ini akan membawa Trabzonspor meraih kesuksesan jangka panjang, atau hanya menjadi kilatan sesaat yang ditinggalkan ketika kontrak berakhir? Yang jelas, Dogan dan seluruh kota Trabzon tersenyum lebar, setidaknya untuk dua musim ke depan.



