Lia Walti: Standar WSL Tak Tertandingi, Pemain di Liga Lain Kehilangan Rasa Dihargai
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Brighton Lia Walti mengkritik kesenjangan profesionalisme antara WSL dan liga lain, menyebut standar Inggris 'tidak ada bandingannya'.
- Setelah satu musim di Juventus, Walti kembali ke Inggris karena merindukan budaya suporter dan fasilitas yang mendukung, yang ia nilai krusial untuk perkembangan pemain.
- Kepindahannya ke Brighton, yang berinvestasi besar pada infrastruktur, menandakan pergeseran peta kekuatan WSL dan menjadi contoh bagi liga lain, termasuk Indonesia.

Gelandang timnas Swiss, Lia Walti, mengaku kehilangan rasa dihargai sebagai pesepakbola selama membela Juventus, dan memutuskan kembali ke Women's Super League (WSL) setelah hanya satu musim di Italia. Pengalaman pahit itu membuka matanya tentang kesenjangan standar profesionalisme yang ekstrem antara liga terbaik dunia dan kompetisi lainnya.
Walti, yang menghabiskan tujuh tahun di Arsenal dan memenangkan empat trofi besar termasuk Liga Champions dan gelar WSL, pindah ke Juventus pada musim panas 2023 untuk mencari tantangan baru. Namun, ia segera menyadari bahwa realitas di Italia jauh dari ekspektasi. "Perbedaannya sangat besar. Sulit untuk membicarakannya. Saya tidak ingin berbicara terlalu negatif tentang liga Italia, itu bukan tujuan saya," ujarnya kepada BBC Sport. "Namun, kenyataannya sepak bola di Inggris, di WSL, memiliki standar yang tidak bisa dibandingkan dengan liga lain mana pun."
Kritik Walti menyoroti masalah sistemik yang menghambat pertumbuhan sepak bola wanita global. Ia menyebut kualitas lapangan sebagai masalah terbesar, di mana banyak negara masih menggunakan lapangan artifisial atau rumput alami yang buruk. "Bahkan jika tim Premier League bermain di sana, hasilnya akan terlihat buruk karena tidak mungkin memainkan sepak bola yang bagus di lapangan seperti itu," tegasnya. Selain itu, liputan media yang minim dan kualitas siaran yang rendah membuat pertandingan tidak menarik untuk ditonton, sehingga sulit menarik penonton baru.
Pengalaman Walti menjadi cermin bagi perkembangan sepak bola wanita di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meski Liga 1 Putri dan tim nasional wanita Indonesia terus berkembang, tantangan serupa masih terasa: keterbatasan infrastruktur, minimnya liputan media, dan kurangnya investasi jangka panjang. Kisah Walti menegaskan bahwa tanpa dukungan finansial dan struktural yang memadai, potensi pemain akan banyak yang hilang. "Banyak bakat di sepak bola wanita yang hilang karena mereka berada di lingkungan yang buruk, tidak ada yang melihat mereka, atau mereka tidak memiliki kesempatan untuk mencapai potensi mereka," katanya.
Walti, yang kini berusia 33 tahun dan merupakan kapten timnas Swiss, merasa frustrasi karena suaranya tidak didengar di Italia. "Saya mencoba memberikan dampak, dan itu sangat sulit di Italia karena ketika kami bersuara, tidak ada yang terjadi," ungkapnya. Ia beruntung pernah merasakan profesionalisme di Inggris, di mana budaya suporter dan stadion yang penuh memberikan pengalaman bermain yang berbeda. "Di Italia, stadion terasa kosong. Setiap pertandingan terasa seperti itu. Saya merindukan perasaan yang saya miliki sebelumnya ketika bermain sepak bola," tambahnya.
Kepindahan Walti ke Brighton bukan tanpa alasan. Klub asal pantai selatan Inggris itu menunjukkan ambisi besar dengan berinvestasi pada infrastruktur dan tim. Mereka mencapai final Piala FA Wanita untuk pertama kalinya pada Mei lalu dan menargetkan masuk tiga besar WSL. "Saya memiliki kepercayaan yang cukup besar pada Brighton sebelum kami berbicara karena saya sudah melihat apa yang klub lakukan. Saya hanya mendengar hal-hal positif dari pemain lain," kata Walti. "Tidak ada umpan balik yang lebih baik selain dari pemain lain."
Kisah Walti menyoroti pentingnya investasi berkelanjutan dalam sepak bola wanita. Brighton, dengan rencana stadion khusus dan fasilitas pelatihan modern, menjadi contoh bagaimana klub dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pemain. Namun, pertanyaannya, apakah liga-liga lain, termasuk Indonesia, siap mengikuti jejak tersebut? Atau akankah kesenjangan ini terus melebar, membuat talenta-talenta muda di negara berkembang semakin sulit bersinar di panggung dunia?



