AS Tarik Pengebom dari Pangkalan Inggris, London Jamin Keamanan RAF Fairford
Baca dalam 60 detik
- Pentagon menarik sekitar selusin pesawat B-1 dari RAF Fairford ke pangkalan asal di Amerika Serikat.
- Langkah ini diambil setelah intelijen AS mendeteksi ancaman baru terkait dugaan plot yang didukung Iran terhadap pangkalan tersebut.
- Downing Street menegaskan pangkalan tetap aman, sementara oposisi menuntut strategi pertahanan yang lebih jelas.

Pemerintah Inggris melalui kantor Perdana Menteri di Downing Street menyatakan bahwa Pangkalan Udara RAF Fairford di Gloucestershire tetap aman, menyusul keputusan Amerika Serikat menarik seluruh armada pengebomnya dari basis militer tersebut. Pentagon mengonfirmasi pada Minggu bahwa sekitar selusin pesawat pengebom B-1 telah dipindahkan kembali ke pangkalan asal mereka di Amerika Serikat, menurut laporan yang dikutip BBC.
Penarikan ini bukan tanpa alasan. Media AS melaporkan adanya ancaman baru yang memicu keputusan tersebut, yang berkaitan dengan insiden besar pada 27 September lalu ketika polisi menerima laporan tentang tiga kendaraan mencurigakan di dekat pangkalan. Insiden itu kini tengah diselidiki oleh polisi antiteror. Lima pria awalnya ditangkap atas dugaan tindak pidana terorisme dan kemudian dibebaskan dengan jaminan. Seorang pria keenam, warga negara Inggris-Iran, juga ditangkap dan dibebaskan dengan jaminan.
Sumber-sumber Whitehall tidak membantah bahwa keputusan Washington untuk menarik pengebom merupakan respons terhadap insiden di pangkalan Gloucestershire tersebut. BBC juga diberitahu bahwa keputusan itu bersifat militer, bukan politik, diambil pada tingkat operasional, dan dikomunikasikan dari militer AS ke mitra Inggrisnya. Pada Senin, The New York Times melaporkan bahwa komandan AS menerima ancaman baru tentang plot yang didukung Iran terhadap RAF Fairford, menurut dua pejabat AS. Informasi baru itu disebut bagian dari peringatan ancaman yang sama dari tiga minggu sebelumnya, namun pejabat bertindak cepat setelah rincian spesifik muncul dalam 24 jam terakhir.
Ezra Cohen, mantan pejabat pertahanan di pemerintahan pertama Trump, menilai keputusan AS sebagai langkah bijak. Dalam wawancara dengan BBC Radio 4 Today, ia menyatakan bahwa B-1 adalah aset strategis yang tidak lagi diproduksi dan jumlahnya terbatas, sehingga perlindungan dari berbagai ancaman menjadi prioritas. Sementara itu, juru bicara pertahanan Partai Liberal Demokrat, James MacCleary, menyebut keputusan AS itu "sangat memprihatinkan" dan mendesak pemerintah untuk menyusun rencana agar pangkalan militer negara itu "layak pakai".
Beberapa hari setelah insiden di RAF Fairford, Perdana Menteri Andy Burnham mengatakan ada "indikasi kuat" bahwa Iran terlibat, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam wawancara dengan Fox News mengatakan insiden itu "jelas melibatkan tangan aktor asing" tanpa menjelaskan lebih jauh. Teheran dengan tegas membantah segala keterlibatan. Pada Juli lalu, Iran menyatakan bahwa "pangkalan apa pun yang digunakan untuk agresi terhadap wilayah Iran merupakan target sah bagi pasukan kami".
RAF Fairford, yang terletak di dekat desa Whelford di Cotswolds, telah digunakan sebagai lokasi operasi depan Angkatan Udara AS selama beberapa dekade. Dalam beberapa bulan terakhir, AS menerbangkan pengebom B-1 dan B-52 dari pangkalan itu ke Timur Tengah, setelah Inggris menyetujui permintaan AS untuk menggunakan pangkalan tersebut guna serangan defensif terhadap Iran. Warga yang tinggal di dekat pangkalan menyampaikan rasa lega atas kepergian pengebom tersebut. Seorang warga mengaku "sangat senang" karena kebisingan dan merasa "semakin rentan" dalam beberapa pekan terakhir. Warga lain yang biasa melihat bom dimuat ke pesawat dari halaman belakang rumahnya mengatakan ia tahu ada sesuatu yang terjadi ketika melihat pesawat lepas landas "satu demi satu" pada Minggu.
Penarikan pengebom ini menyoroti kerentanan pangkalan militer yang menjadi titik strategis dalam ketegangan AS-Iran. Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat akan pentingnya kedaulatan pertahanan dan keamanan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik. Sebagai negara non-blok, Indonesia perlu cermat membaca pergeseran aliansi militer dan potensi dampak terhadap stabilitas kawasan, terutama jalur pelayaran dan harga energi. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Inggris akan memperkuat pertahanan pangkalan udaranya sendiri, dan bagaimana AS akan menyeimbangkan kehadiran militernya di Eropa saat ancaman dari Timur Tengah terus meningkat.



