Horner Puji Kemenangan Perdana Red Bull-Ford di Malaysia: Fondasi dari Nol
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen mempersembahkan kemenangan pertama Red Bull Racing pada musim F1 2026 di Sirkuit Bahrain, Malaysia, sekaligus menandai tonggak bersejarah bagi kemitraan mesin dengan Ford.
- Christian Horner, arsitek proyek Red Bull Powertrains, menyebut pencapaian ini sebagai buah dari keberanian membangun unit daya sendiri setelah Honda hengkang pada 2021.
- Kemenangan ini mengakhiri penantian panjang Ford selama 23 tahun tanpa gelar juara di F1, dan menegaskan posisi Red Bull sebagai kekuatan mandiri di era regulasi teknis baru.

Max Verstappen mengakhiri dahaga kemenangan Red Bull Racing pada musim Formula 1 2026 setelah menaklukkan Grand Prix Bahrain di Sirkuit Internasional Bahrain, Malaysia, Minggu (5/4/2026). Ini bukan sekadar podium biasa: kemenangan ke-72 bagi pembalap Belanda itu menjadi bukti pertama bahwa proyek mesin mandiri Red Bull Powertrains—yang dibangun dari nol bersama Ford—mampu bersaing di level tertinggi.
Bagi Christian Horner, sosok yang menggagas proyek ambisius tersebut, momen ini terasa istimewa. Melalui unggahan di Instagram Stories, ia memperlihatkan foto mesin Red Bull Ford Powertrains yang masih telanjang di atas dyno rig, dengan kepala silinder mengkilap dan penutup intake berwarna merah anodized. "Dari lubang di tanah menjadi pemenang balapan dalam lima tahun. Selamat besar untuk Red Bull Ford Powertrains, Max, dan seluruh tim. Pencapaian luar biasa!" tulis Horner.
Keputusan Horner untuk membangun unit daya sendiri bermula pada 2021, ketika Honda mengumumkan hengkang dari F1. Saat itu, Red Bull dihadapkan pada dua pilihan: meminta pasokan mesin dari Mercedes atau Ferrari, atau membangun sendiri dari awal. Horner memilih jalan terjal. Setelah 16 balapan musim ini, kerja keras itu berbuah manis.
Verstappen sebenarnya sudah tujuh kali naik podium sebelum balapan di Malaysia, tetapi kemenangan tetap memiliki makna berbeda. Terlebih lagi, Ford sebagai mitra teknis—yang dikenal dengan julukan Blue Oval—telah lama menunggu momen ini. Sejak terakhir kali menang pada 2003, pabrikan Amerika Serikat itu nyaris tidak menyentuh podium tertinggi. Kini, kerja sama dengan Red Bull membangkitkan kembali warisan balap mereka.
"Christian Horner mengumpulkan orang-orang hebat untuk memulai proyek Red Bull Powertrains. Kemenangan ini sangat mengesankan bagi tim—unit daya dan sasis—dari Milton Keynes," ujar Martin Brundle, mantan pembalap yang kini menjadi komentator Sky Sports F1.
Kemenangan ini juga menjadi sinyal bahwa era dominasi mesin pabrikan mapan seperti Mercedes dan Ferrari mulai tergoyahkan. Red Bull-Ford membuktikan bahwa tim independen dengan sumber daya terbatas mampu menantang raksasa, asalkan memiliki visi jangka panjang dan eksekusi teknis yang presisi. Bagi Horner, yang sempat dikabarkan tertarik ke Ferrari, pencapaian ini memperkuat posisinya sebagai salah satu arsitek paling berpengaruh di paddock.
Di Indonesia, kemenangan Red Bull-Ford ini bisa menjadi cermin bagi pengembangan teknologi otomotif nasional. Meski tidak terlibat langsung, keberhasilan membangun mesin dari nol menunjukkan bahwa investasi riset dan pengembangan jangka panjang—seperti yang tengah dirintis industri otomotif dalam negeri—memerlukan kesabaran dan keberanian mengambil risiko. Apalagi, Indonesia tengah mendorong elektrifikasi dan penguatan rantai pasok komponen lokal.
Ke depan, tantangan bagi Red Bull-Ford adalah menjaga konsistensi. Regulasi teknis F1 2026 yang menekankan efisiensi bahan bakar dan tenaga hibrida akan terus menguji ketahanan unit daya mereka. Jika mampu mempertahankan performa, bukan tidak mungkin dominasi baru sedang lahir. Akankah kemenangan di Malaysia menjadi titik balik bagi Red Bull-Ford untuk bersaing memperebutkan gelar juara dunia?



